Hari Ini dalam Sejarah: Mohammad Reza Pahlavi, Syah Terakhir Iran, Lari ke Mesir karena Revolusi

Mohammad Reza Pahlavi terpaksa lari ke Mesir karena ada demonstrasi besar di negerinya


zoom-inlihat foto
mohammad-reza-pahlavi-syah-terakhir-iran.jpg
Commons.wikimedia.org
Mohammad Reza Pahlavi, Syah terakhir Iran

Mohammad Reza Pahlavi terpaksa lari ke Mesir karena ada demonstrasi besar di negerinya




  • Informasi awal


TRIBUNNEWSWIKI.COM – Mohammad Reza Pahlavi, Syah terakhir Iran, terpaksa menyelamatkan diri ke Mesir pada 16 Januari 1979 setelah demonstrasi besar melanda Iran. [1]

Berasal dari Wangsa Pahlavi, Mohammad Reza Pahlavi  memerintah Iran pada 1941-1979.

Mohammad Reza Pahlavi bergelar Syahansyah atau 'Raja dari Para Raja'.

Selama memerintah, Mohammad Reza Pahlavi melakukan banyak reformasi ekonomi dan sosial di Iran.

Namun, Mohammad Reza Pahlavi terpaksa meninggalkan Iran karena terjadi revolusi besar.

Dia kemudian mendapat suaka di Mesir dan meninggal di sana setahun setelahnya.

Mohammad Reza Pahlavi menjadi raja terakhir Monarki Persia yang sudah berumur 2.500 tahun. [2]

Baca: Hari Ini dalam Sejarah: 2 Juta Galon Tetes Tebu Banjiri Boston setelah Tanki Meledak, Tewaskan 21

Baca: Hari Ini Dalam Sejarah: 15 Januari 1929 - Lahirnya Martin Luther King Jr, Pendeta dan Aktivis HAM

Mohammad Reza Pahlevi bersama Franklin D. Roosevelt
Mohammad Reza Pahlavi bersama Franklin D. Roosevelt (Wikicommons)

  • Kehidupan dan awal karier


Mohammad Reza Pahlavi lahir di Teheran pada 26 Oktober 1919 sebagai anak tertua Syah pertama Wangsa Pahlavi, yakni Reza Syah Pahlavi dengan istri keduanya, Tadj ol-Molouk.

Mempunyai saudara kembar (perempuan) bernama Ashraf Pahlavi.

Menurut Mohammad Reza, sang ayah adalah pemimpin yang keras, temperamental dan menakutkan.

Sementara sang ibu, Tadj ol-Moloik adalah seorang perempuan tegas yang percaya pada takhyul.

Misalnya mempercayai mimpi sebagai pesan dari dunia lain dan mengorbankan domba agar mendapat keberuntungan.

Sejak kecil, Mohammad Reza mewarisi kepercayaan messianik dari sang ibu bahwa Tuhan sudah memilihnya menjadi pemimpin atau menugaskannya menjalankan misi keilahian.

Pada umur 11 tahun, Mohammad Reza bersekolah di Institut Le Rosey, sebuah sekolah asrama elite Swiss.

Baca: Hari Ini dalam Sejarah: Kapal Induk USS Enterprise Terbakar karena Roket Zuni yang Dibawanya Meledak

Baca: Hari Ini Dalam Sejarah: 14 Januari 1954 - Pernikahan Marilyn Monroe dengan Joe DiMaggio

Mohammad Reza menganggap Le Rosey telah memperluas pikirannya dan memperkenalkannya dengan peradaban Eropa.

Di sana, Mohammad Reza berteman baik dengan Ernest Perron, anak seorang tukang kebun yang bekerja di Le Rosey.

Mohammad Reza bahkan mengajak Perron tinggal di Iran.

Mereka berdua bahkan dirumorkan memiliki hubungan sesama jenis.

Setelah kembali ke Iran, Mohammad Reza melanjutkan pendidikan di akademi militer lokal di Teheran hingga 1938.

Mohammad Reza sangat terobsesi dengan terbang dan memiloti pesawat.

Pada 1939, Mohammad Reza menikahi Putri Fawzia Fuad dari Mesir, saudara perempuan Raja Farouk.

Pernikahan ini tidak membahagiakan kedua pihak karena Mohammad Reza secara terbuka tidak setia terhadap sang istri.

Mereka memiliki seorang anak perempuan, Putri Shahnza Pahlavi namun bercerai pada 1945 (Mesir) dan 1948 (Iran).

Pada 1951, Mohammad Reza menikahi Soraya Esfandiary-Bakhtiari, anak duta Iran untuk Jerman Barat.

Mereka akhirnya bercerai pada 1958 setelah mengetahui bahwa Soraya tidak dapat melahirkan keturunan.

Mohammad Reza menikah lagi pada 1959 dengan Farah Diba, anak seorang Kapten Angkatan Perang Kerajaan Iran.

Mereka memiliki empat anak, yakni Putra Mahkota Reza Pahlavi, Putri Farahnaz Pahlavi, Pangeran Ali-Reza Pahlavi dan Putri Leila Pahlavi. [3]

Mohammad Reza Pahlavi menikahi Farah Diba
Mohammad Reza Pahlavi menikahi Farah Diba (Wikicommons)

  • Menjadi Syah


Pada 1941, ketika Perang Dunia Kedua sedang terjadi, Nazi menjalankan Operasi Barbarossa dan menginvasi Soviet.

Iran mendeklarasikan netral dalam Perang Dunia Kedua.

Namun, diplomat Inggris dan Soviet melihat sejumlah orang Jerman yang mengatur rel kereta api di Iran sebagai ancaman.

Inggris  berencana mengirim persenjataan ke Soviet melalui jalur kereta api Iran.

Inggris dan Soviet menyuruh Iran mengusir mereka, jika tidak mereka akan menyatakan perang pada Iran.

Permintaan tersebut tidak dipatuhi dan Iran diinvasi Sekutu.

Angkatan Perang Iran dikalahkan dengan mudah, negaranya diduduki dan rajanya dipaksa turun takhta.

Pada 16 September 1941, Mohammad Reza diangkat menggantikan sang ayah yang diasingkan ke Mauritius.

Iran kemudian menjadi penyalur bantuan Sekutu kepada Soviet.

Pada awal pemerintahan, Mohammad Reza menghadapi beberapa pemerintahan separatis yang ada di Azerbaijan dan Kurdistan.

Mohammad Reza juga mengalami dua kali percobaan permbunuhan.

Pada 1951, Mohammad Mosaddegh ditunjuk menjadi perdana menteri dan berusaha menasionalisasi industri minyak Iran yang dikontrol Anglo-Iranian Oil Company.

Nasionalisasi akan berdampak pada ekonomi Inggris dan pengaruh politiknya di Iran.

Maka, Amerika dan Inggris berusaha mencopot Mohammad Mosaddegh melalui Operasi Ajax.

Namun, ini semua tergantung pada persetujuan Mohammad Reza.

Penggulingan gagal, menyebabkan Mohammad Reza terbang ke Baghdad dan Roma.

Ketika kembali, percobaan penggulingan yang kedua berhasil.

Mosaddeg dipenjara dan digantikan Zahedi pada 1953.

Mulai 1955, Mohammad Reza mulai menunjukkan dirinya sebagai raja yang progresif.

Mohammad Reza berjanji memodernisasi Iran, menyerang sistem sosial feodal yang menyebabkan kemunduran, mengadakan reformasi lahan dan memberikan hak yang setara pada perempuan.

Pada 27 Februari 1958, sebuah kudeta dilakukan Jenderal Valiollah Gharani untuk menggulingkan Mohammad Reza.

Namun kudeta ini gagal dan terungkap bahwa Valiollah memiliki hubungan dengan para diplomat Amerika.

Hubungan Iran dengan Amerika pun memanas dan pada 1959, Iran mulai bernegosiasi dengan Soviet mengenai pakta nonagresi.

Pada 1963, Mohammad Reza merilis Revolusi Putih, sebuah revolusi yang mendapat banyak tantangan dari para sarjana keagamaan.

Mohammad Reza memberikan perempuan hak pilih, meski ditentang Ayatollah Khomeini.

Mohammad Reza menghadapi berbagai demonstrasi di seluruh Iran pada 1963-1964.

Pada 26 Oktober 1967, Mohammad Reza dimahkotai sebagai Syahansyah atau 'Raja dari Para Raja'.

Di bawah kepemimpinannya, Iran memiki tingkat pertumbuhan ekonomi yang sama dengan Korea, Turki dan Taiwan.

Mohammad Reza juga memberikan hak-hak pada para Yahudi Iran. [4]

Mohammad Reza Pahlavi bersama Richard Nixon
Mohammad Reza Pahlavi bersama Richard Nixon (Wikicommons)

  • Revolusi dan mencari suaka di Mesir


Secara bertahap, Mohammad Reza mulai menjadi otokratis dan melarang semua partai politik kecuali Rastakhiz, partai yang didukungnya.

Kecewa dengan pemerintahan Mohammad Reza, para oposisi mulai berdemonstrasi di jalanan.

Mohammad Reza menanggapi dengan mengerahkan para tentara di jalan-jalan yang ada di Teheran.

Pada 8 September 1978, pasukannya menembak para demonstran dan membunuh banyak orang.

Peristiwa ini dikenal sebagai Jumat Hitam dan memicu revolusi yang menggulingkan dirinya.

Ayatollah Khomeini memimpin revolusi tersebut. [5]

Pada 16 Januari 1979, Mohammad Reza dan keluarganya terpaksa meninggalkan Iran.

Meskipun Mohammad Reza tidak diturunkan dari takhta, namun sebuah referendum mendeklarasikan sebuah Republik Islam di Iran pada 1 April 1979.

Selama enam bulan, Mohammad Reza berpindah-pindah dari Maroko, Bahama, Meksiko kemudian Mesir.

Presiden Anwar El-Sadat memberinya suaka permanen di Mesir. [5]

Baca: Hari Ini Dalam Sejarah: 13 Januari 1982, Jatuhnya Pesawat Boeing 737-222 di Washington D.C, 78 Tewas

Baca: Hari Ini dalam Sejarah: 13 Januari 1915 – Gempa Besar Avezzano Tewaskan 30 Ribu Penduduk Italia

 

  • Kematian


Pada 1974, Mohammad Reza didiagnosis memiliki splenomegaly.

Ketika diperiksa, Mohammad Reza ternyata juga memiliki leukemia.

Namun, dokter menyembunyikannya dan mengatakan Mohammad Reza dalam kondisi sehat.

Pada 1976, Mohammad Reza bertemu dengan seorang dokter di Zurich.

Dokter tersebut mengetahui bahwa Mohammad Reza dirawat dengan cara yang salah dan justru memperburuk kondisinya.

Mohammad Reza sempat ke Amerika Serikat untuk operasi dan perawatan, kemudian pergi ke Panama.

Karena merasa tidak aman di Panama, Mohammad Reza kemudian terbang ke Kairo dan meninggal pada 27 Juli 1980.

Mohammad Reza tetap menyimpan sebuah tas berisi tanah Iran di bawah ranjang kematiannya.

Presiden Mesir memberikan Mohammad Reza pemakaman kenegaraan.

Richard Nixon dan Constantine II juga menghadiri upacara pemakamannya.

Mohammas Reza dimakamkan di Masjid Al Rifa’i Kairo. [6]

Baca: Hari Ini dalam Sejarah: Jasad Manusia Dibekukan untuk Pertama Kali Agar Kelak Dapat Dihidupkan Lagi

Baca: Hari ini Dalam Sejarah 12 Januari 2010: Gempa Bumi di Haiti, 363 Ribu Orang Tewas, Jutaan Terlantar

(TRIBUNNEWSWIKI/Febri)



Peristiwa Mohammad Reza Pahlavi lari ke Mesir karena ada demonstrasi besar di Iran
Pada 16 Januari 1979
   








KOMENTAR

ARTIKEL TERKINI

Artikel POPULER

© 2020 tribunnnewswiki.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved