Beberapa Nomor Start Dipensiunkan alias Tidak Boleh Digunakan Pembalap di MotoGP, Ini Alasannya

Sejumlah nomor start ini dilarang dipakai di kejuaraan dunia MotoGP dan Moto2


zoom-inlihat foto
nomor-34-menjadi-satu-di-antara-sejumlah-nomor-yang-tidak-boleh-dipakai-lagi-di-motogp.jpg
Commons.wikimedia.org
Nomor 34 menjadi satu di antara sejumlah nomor yang tidak boleh dipakai lagi di MotoGP


TRIBUNNEWSWIKI.COM – Ada beberapa nomor start yang dipensiunkan atau tidak boleh dipakai para pembalap di kejuaraan dunia MotoGP.

Nomor start di motor MotoGP digunakan sebagai identitas pembalap.

Melalui nomor start itu, para pembalap akan mudah dikenali identitasnya.

Misalnya nomor 46 yang dipakai Valentino Rossi di MotoGP.

Valentino Rossi konsisten memakai nomor 46 sejak bergabung di kancah MotoGP.

Nomor 46 menjadi identik dengan Valentino Rossi dan para penonton MotoGP langsung terbayang pembalap Italia itu jika melihat atau mendengar nomor 46.

Valentino Rossi
Valentino Rossi yang identik dengan nomor start 46.(Otorace.gridoto.com/Twitter/Monster Energy Yamaha Energy)

Tentu saja nomor start pembalap MotoGP bisa berubah.

Misalnya, Jorge Lorenzo yang sebelumnya menggunakan nomor start 48,  berganti menjadi 99.

Baca: Jorge Lorenzo

Contoh lainnya dalah Maverick Vinales yang sebelumnya memakai nomor start 25,  ganti menggunakan nomor 12 pada musim MotoGP 2019.

Baca: Maverick Vinales

Namun, ada beberapa nomor start yang tidak boleh lagi digunakan di MotoGP.

Hal ini berlaku untuk semua pembalap, baik pendatang baru ataupun pembalap senior.

Pastinya ada alasan nomor tersebut dilarang dipakai lagi.

Misal, adanya kejadian pada pembalap yang sebelumnya memakai nomor tersebut,

Bisa juga dipensiunkan untuk memberi apresiasi kepada pembalap atas performanya.

Dorna selaku promotor MotoGP, memutuskan beberapa nomor start yang tidak boleh dipakai lagi, antara lain nomor 58.

Nomor 58 ini, digunakan oleh Marco Simoncelli yang meninggal dunia akibat kecelakaan parah di Sirkuit Sepang pada MotoGP Malaysia 2011.

Ada juga nomor 69 yang sebelumnya digunakan oleh Nicky Hayden.

Baca: Nicky Hayden

Nicky Hayden di Phillip Island 2004
Nicky Hayden di Phillip Island 2004 (Wikicommons)

Nomor ini dipensiunkan dari MotoGP untuk menghormati juara dunia MotoGP 2006 tersebut.

Nicky Hayden meninggal dunia karena kecelakaan.

Dirinya ditabrak mobil saat berlatih sepeda di Riccione-Tavoleto, sebelah selatan daerah Rimini, Italia (17/5/2017).

Nomor start lainnya adalah 74 yang digunakan pembalap Jepang Daijiro Kato.

Baca: Daijiro Kato

Daijiro Kato di GP Jepang 2003
Daijiro Kato di GP Jepang 2003 (Commons.wikimedia.org)

Mantan juara dunia 250 cc ini mengalami kecelakaan di Sirkuit Suzuka tahun 2003 ketika tengah memacu Honda RC211V dan menabrak dinding pembatas lintasan.

Untuk kelas Moto2, ada dua nomor start yang tidak bisa dipakai lagi.

Nomor start 48, setelah kematian Shoya Tomizawa di Sirkuit Misano pada 2010 dan nomor 39 setelah kecelakaan Luis Salom di Sirkuit Catalunya pada 2016.

Pembalap Jepang Shoya Tomizawa
Pembalap Jepang Shoya Tomizawa (MotoGP.com)

Baca: Shoya Tomizawa

Di kelas MotoGP, ada lagi nomor yang tak bisa dipakai.

Dua nomor tersebut adalah 34 yang dipakai Kevin Schwantz dan nomor 65 yang digunakan Loris Capirossi.

Kevin Schwantz di Donington Park 1989
Kevin Schwantz di Donington Park 1989 (Wikicommons Stu Newby)

Baca: Kevin Schwantz

Dorna memensiunkannya sebagai apresiasi terhadap kedua pembalap itu.

Kevin Schwantz dikenal sebagai pembalap yang pemberani dan sering memacu motornya melebihi batas.

Berikut profil Kevin Schwantz dilansir dari TribunnewsWiki:

Kevin Schwantz adalah seorang pembalap motor Amerika Serikat yang memenangkan kejuaraan GP500 pada 1993.

Kevin Schwantz disebut sebagai satu di antara legenda GP500/MotoGP meski hanya sekali menjadi juara.

Dia bisa membalap dengan kompetitif meski hanya menggunakan Suzuki RGV500 yang waktu itu tidak secepat motor prototipe lainnya. 

Dia bahkan terkenal berani membalap meski masih dalam keadaan cedera.

Kevin Schwantz mendapat julukan “The Warrior”  dan nomor balapnya (34) dipensiunkan dari dunia GP untuk menghormatinya.

Kevin Schwantz
Kevin Schwantz (Commons.wikimedia.org)

Karier awal

Kevin Schwantz lahir pada 19 Juni 1964 di Houston, Amerika Serikat.

Keluarga Schwantz mempunyai kedekatan dengan dunia roda dua.

Pamannya adalah seorang pembalap dirt-track profesional, sedangkan orangtuanya mempunyai sebuah dealer sepeda motor, yakni Yamaha.

Schwantz menghabiskan masa kecilnya di sekitar motor-motor tersebut.

Pada umur tiga tahun, dia mulai belajar mengendarai motor, menggunakan mini-bike Bonanza.[4]

Para pembalap pro, termasuk Kenny Robert, sering membalap di Houston Astrodom, tidak jauh dari rumah Schwantz.

Sejak kecil, dia sering melihat para pembalap tersebut bertarung.

Dia kemudian berpikir betapa hebatnya dirinya jika berkarier di dunia balap roda dua.

Ketika kecil, Schwantz pernah membalap dirt-bike,

Schwantz lulus sekolah pada 1982 dan orangtuanya mulai percaya bahwa anaknya akan berkarier di dunia balap.

Schwantz pernah mencoba beberapa balap motorcross pro, di antaranya Houston Supercross 1982 dan 1983.

Namun, Schwantz merasa tidak kompetitif di balap dirt-track

Pada 1983, dia memutuskan meninggalkan balap dirt-track, beberapa temannya kemudian menyarankannya ikut edurance race atau balap ketahanan di Texas World Speedway.

Schwantz menerima saran tersebut dan ketika dia membalap selama satu jam, dia menyadari jika dirinya sama cepatnya dengan temannya yang sudah berpengalaman membalap sepuluh tahun.

Orangtuanya kemudian memberinya Yamaha FJ600 untuk membalap pada 1984.

Performanya pada debut musim mengesankan John Ulrich.

Urich kemudian menawarinya mencoba peruntungan di Tim Yoshimura Suzuki Superbike pada akhir 1984.

Pada pagi hari, Ulrich memberi Superbike pada Schwantz dan menyuruhnya untuk membuat lap di Willow Springs.

Sore harinya, secara menakjubkan lap time  Schwantz hampir menyamai rekor lap time Willow Springs.

Suehiro Watanabe, Manajer Yoshimura, sangat terkesan dan memberi kontrak pada Schwantz.

Yoshimura Suzuki hanya bertanding di Daytona dan West Coast Superbike pada 1985.

Di Daytona, Schwantz berhasil memperoleh posisi ketiga saat kualifikasi, tetapi tidak dapat menyelesaikan satu lap pun karena koplingnya rusak.

Pada race selanjutnya di Willow Springs Raceway, Schwantz memenangkan dua leg final Superbike nasional AMA pertamanya dan meraih peringkat ketujuh.

Schwantz masih mengikuti Dayton 1986 dan mengendarai GSXR750.

Pada balap perdana musim, dia berhasil finish di posisi kedua, di belakang Eddie Lawson.

Namun, nasib buruk menghantuinya karena mendapat cedera tulang selangka.

Schwantz absen tiga races dan mendapat peringkat ketujuh pada akhir musim

Pada AMA Superbike 1987 menjadi musim bersejarah karena Schwantz terlibat pertarungan sengit dengan Wayne Rainey.

Pertarungan mereka bahkan berlanjut di Trans-Atlantic Match Races, membuat orang-orang Eropa mengenal Schwantz dan Rainey untuk pertama kalinya.

Rainey menjadi juara , tetapi Schwantz memenangkan lima dari enam laga terakhir.

GP500

Schwantz memulai debut di GP500 sebagai non-permanent rider pada 1986, mengikuti empat kali balapan dan meraih finish terbaiknya di posisi sepuluh besar.

Musim selanjutnya, dia mengikuti tiga kali GP dan meraih finish terbaik di GP Spanyol 1987.

Schwantz menjadi pembalap tetap Suzuki pada musim 1988, namun sebelum dia membalap penuh di GP500, dia memenangkan Daytona 200.[7]

Dia berhasil memenangkan GP pembuka di Suzuka dan GP Jerman.

Schwantz mendapat dua kali podium tambahan di GP Prancis dan Brazil, serta meraih peringkat kedelapan pada akhir musim.

GP500 pada akhir 1980-an dan awal 1990-an menjadi salah satu era kompetitif, di mana ada pembalap bertalenta, di antaranya Wainey Rainey, Wayne Gardner, Mick Doohan, Eddie Lawson dan Randy Mamola.

Schwantz kurang beruntung karena harus mengendarai Suzuki RGV500 yang kurang kompetitif.

Maka, untuk mengalahkan rival-rivalnya, Schwantz harus bertarung sampai titik batas kemampuannya.

Konsekuensinya adalah, dia sering crash, sesering dia memenangi balapan.

Hal ini membuat Schwantz populer di mata para penggemarnya.

Dia memiliki gaya balap “do or die” yang agresif dan membahayakan dirinya sendiri.

Puncak karier Schwantz terjadi pada 1993 ketika menjuarai GP500.

Namun, pada musim selanjutnya dia mengalami crash dan cederanya susah disembuhkan.

Pada 1995, setelah berbincang dengan Wayne Raine, rival abadinya, Schwantz memutuskan pensiun dari dunia balap GP500.

Schwantz memiliki 25 kemenangan selama berkarier di GP.

Untuk menghormati Schwantz, Fédération Internationale de Motocyclisme (FIM) memutuskan nomor 34 tidak boleh dipakai pembalap lain di GP.

Schwantz sempat mengikuti Australian NASCAR Championship selama beberapa musim sebelum kembali ke Amerika Serikat dan berkompetisi di NASCAR Busch Series.

Pada 1999, dia masuk ke AMA Motorcycle Hall of Fame dan pada 2000 FIM menjulukinya Legenda Grand Prix.

Schwantz mendirikan sekolah balap pada 2001 di Birmingham, Alabama.

(Otorace.gridoto.com/Eka Budhiansyah/TribunnewsWiki/Febri)





Editor: haerahr
BERITATERKAIT
Ikuti kami di
KOMENTAR

ARTIKEL TERKINI

Artikel POPULER

  • Film - Uang Passolo (2026)

    Uang Passolo adalah sebuah film drama Indonesia yang
© 2026 tribunnnewswiki.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved