Prediksi Potensi Bencana 2020, Cuaca, Karhutla, hingga Status Gunung Api yang Meningkat

BNPB memaparkan Kaleidoskop Bencana 2019 dan Outlook bencana 2020, Senin (30/12/2019). Berikut rincian prediksi potensi bencana pada 2020 mendatang:


zoom-inlihat foto
prediksi-bencana-alam-2020.jpg
KOMPAS.com/Dian Erika
Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, saat memberikan pemaparan pada acara Kaleidoskop Bencana 2019 dan Outlook bencana 2020 di Graha BNPB, Jakarta Timur, Senin (30/12/2019).


TRIBUNNEWSWIKI.COM - Menjelang tahun baru 2020, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menggelar acara Kaleidoskop Bencana 2019.

Selain itu dalam acara yang sama juga membahas mengenai outlook bencana 2020.

Acara tersebut diselenggarakan di Graha BNPB, Jakarta Timur, Senin (30/12/2019).

Dalam acara tersebut BNPB memaparkan kondisi bencana sepanjang 2019 dan prediksi potensi bencana pada 2020.

Selain itu, dipaparkan pula prediksi kondisi iklim pada 2020, kondisi gunung api di Indonesia dan potensi bencana yang ditimbulkan akibat kondisi yang ada.

Baca: Hari Ini dalam Sejarah: 3 Desember 1984 – Bencana Kebocoran Gas di Bhopal, Tewaskan 15.000 Orang

Baca: Tak Hanya Typhoon Hagibis, Jepang juga Diguncang Gempa 5,7 SR serta Bencana Banjir dan Longsor

Dikutip dari Kompas.com, berikut prediksi kondisi iklim pada 2020 berdasarkan analisa BMKG.

Analisa tersebut dikomparasikan dengan kajian dari National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) dan National Aeronautics and Space Administration (NASA).

Selain itu juga terdapat pemaparan kondisi gunung api berdasarkan pemantauan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi ( PVMBG).

Puncak musim penghujan Februari-Maret

Ilustrasi hujan.
Ilustrasi musim penghujan. (TribunJogja/Ist)

Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, mengatakan curah hujan akan meningkat di Januari dan puncaknya jatuh pada Februari-Maret.

"Kita sudah memulai musim hujan pada akhir 2019 atau bulan November, secara bertahap. Kemudian pada 2020 curah hujan akan semakin meningkat mulai Januari, dan mencapai puncaknya pada Februari-Maret, " ujar Dwikorta saat pemaparan dalam acara Kaleidoskop Bencana 2019 dan Outlook bencana 2020 di Graha BNPB, Jakarta Timur, Senin (30/12/2019).

Meski demikian, menurut prediksi BMKG, puncak musim hujan pun akan berlangsung secara bertahap.

Meningkatnya curah hujan pada Januari, lanjut Dwikorita, terutama akan terjadi di Pulau Sumatra, Pulau Jawa hingga Nusa Tenggara.

Kemudian, kondisi ini akan berlanjut ke Kalimantan bagian tengah, hingga ke Sulawesi dan Papua.

"Kemudian berdasarkan prediksi yang kami lakukan, curah hujan sepanjang tahun 2020 tetap sama dengan kondisi klimatologinya, yakni tidak ada anomali. Sehingga cenderung seperti curah hujan rata-rata pada 30 tahun terkahir," tambah Dwikorita.

Tak ada kemarau panjang

Selain itu, Dwikorita juga mengungkapkan kemarau panjang diprediksi tidak terjadi pada 2020.

Kondisi tersebut dipengaruhi oleh tidak terdapat perbedaan signifikan suhu air laut antara Samudera Hindia di sebelah barat daya Pulau Sumatera dan sebelah Timur Afrika.

"Sehingga bisa dikatakan suhu permukaan air laut di Indonesia juga normal. Artinya diprediksi seperti itu (diprediksi kemarau tidak panjang)," ungkapnya.

Selain itu juga dikarenakan prediksi pertumbuhan El Nino yang netral hingga Juni 2020.

"Jadi prediksi ini berlaku sampai Juni. Kondisinya netral," tambahnya.

Lebih lanjut, Dwikorita menjelaskan musim kemarau pada 2020 diperkirakan akan dimulai pada April dan berakhir pada Oktober.

Akan tetapi, tahapan musim kemarau tidak akan terjadi secara serempak. 

"Mulainya dan berakhirnya juga tidak serempak. Mulai April terutama di wilayah Sumatra, Kalimantan, Jawa, Bali, dan nusa Tenggara," tutur Dwikorita.

Intensitas karhutla diperkirakan menurun

Presiden saat meninjau lokasi karhutla di Desa Merbau, Kecamatan Bunut, Kabupaten Pelalawan, Kota Pekanbaru, Riau, Selasa (17/9/2019) siang
Presiden saat meninjau lokasi karhutla di Desa Merbau, Kecamatan Bunut, Kabupaten Pelalawan, Kota Pekanbaru, Riau, Selasa (17/9/2019) siang (Biro Pers Sekretariat Presiden)

Baca: 3 Ekor Orangutan Korban Karhutla Ditranslokasikan ke Taman Nasional Gunung Palung

Baca: Perangi Kabut Asap, Kapur Tohor Aktif Bakal Ditabur di Kawasan Karhutla Sumatera dan Kalimantan

Menurut Dwikorita, intensitas kebakaran hutan dan lahan diperkirakan akan menurun pada 2020.

Hal tersebut berkaitan dengan musim kemarau 2020 yang diperkirakan tidak separah kondisi pada 2019.

"Karhutla diprediksi menurun sebab ada korelasi dengan musim kemarau. Kemudian apabila kita antisipasi lebih lanjut, insya Allah kami harapkan kecenderungan akan semakin menurun, " ujarnya.

Antisipasi yang dimaksud, adalah memantau potensi karhutla secara bertahap mulai dari pencatatan hari tanpa hujan.

Menurut Dwikorita, jika selama 10 hari tidak turun hujan, maka perlu diwaspadai.

"Kami kemudian memantau kejadian dan potensi kejadian melalui satelit Himawari. Kami turunkan dalam bentuk deteksi titik-titik panas, " ungkapnya.

Meski begitu, titik panas yang terpantau belum pasti akan menjadi titik api.

"Akan tetapi hal itu menjadi panduan hotspot, " ungkapnya.

2 provinsi tetap diminta waspada karhutla

Meski intensitas karhutla diperkirakan menurun, Dwikorita mengatakan ada potensi karhutla di Provinsi Riau dan Provinsi Aceh di awal 2020.

Hal ini disebabkan kedua provinsi mengalami musim kemarau pada Februari hingga Maret mendatang.

"Meski musim hujan akan meningkat mulai Januari (dan seterusnya) tapi untuk Aceh dan Riau harus waspada. Sebab di kedua provinsi itu mengalami musim kemarau, yakni pada Februari sampai Maret. Artinya ada potensi kekeringan dan kebakaran lahan," ujar Dwikorita.

Kemudian, Dwikorita juga mengingatkan masyarakat untuk melakukan persiapan sebelum musim kemarau.

Salah satunya, memaksimalkan kapasitas penampungan air di waduk maupun kolam penampungan.

"Untuk mengingatkan dampak musim kemarau, yang dimulai April, sementara itu curah hujan meningkat pada Januari - Maret, maka diimbau semua pihak untuk memaksimalkan kapasitas waduk, embung, kolam dan sebagainya untuk penyimpanan air," ungkapnya.

Langkah ini disarankan dilakukan pada puncak musim hujan, yakni Februari-Maret.

"Tujuannya untuk cadangan air di musim kemarau nanti, " tambahnya.

Gunung api berstatus waspada hingga siaga

Gunung Bromo menyemburkan material vulkanis terlihat dari Pos Pantau Pengamatan Gunung Api Bromo, Probolinggo, Jumat (18/12/2015).
Gunung Bromo menyemburkan material vulkanis terlihat dari Pos Pantau Pengamatan Gunung Api Bromo, Probolinggo, Jumat (18/12/2015). (Surya/Sugiharto)

Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Kasbani, mengatakan ada 21 gunung api di Indonesia yang berstatus waspada hingga siaga.

"Indonesia memiliki 127 gunung berapi aktif. Kemudian, dari situ (dari jumlah tersebut) ada 69 gunung yang dipantau terus menerus dengan menempatkan pos pemantauan. Dari situ (yang dipantau) ada sekitar 21 gunung yang levelnya di atas normal," ujar Kasbani di Gedung BNPB, Jakarta Timur, Senin (30/12/2019).

Dia lantas menjelaskan apa yang dimaksud status di atas normal itu.

"Itu artinya waspada (level 2), siaga (level 3), dan awas (level 4). Akan tetapi saat ini kan yang level 4 tidak ada, " lanjut Kasbani.

Kasbani mencontohkan, Gunung Sinabung dan Gunung Agung, masuk dalam kategori level 3 (siaga).

Sementara itu, Gunung Kerinci, Gunung Merapi, Gunung Krakatau, Gunung Bromo, Gunung Slamet, Gunung Rinjani, Gunung Gamalama masuk kategori level 2 (waspada).

Disinggung tentang kondisi 21 gunung yang dimaksud pada 2020 mendatang, Kasbani memperkirakan masih stabil di kategori waspada hingga siaga.

Baca: Gunung Api Semburkan Awan Panas Setinggi 800 Meter, Sleman Diguyur Hujan Abu Tipis

Baca: Konferensi Pers BMKG Terkait Gempa Banten, Ini Daftar Wilayah Berstatus Waspada dan Siaga

Dia melanjutkan, seluruh gunung api berstatus waspada hingga siaga terpantau dengan sangat baik.

Sehingga, masyarakat tidak perlu khawatir jika terjadi perubahan aktivitas secara mendadak.

"Jadi tidak perlu ada kekhawatiran, ada perubahan-perubahan aktivitas tentu akan kami evaluasi apakah dia (gunung) ada peningkatan, penurunan ancaman, itu nanti sesuai levelnya dia, dia akan berbeda," ungkap Kasbani.

Salah satu langkah pengawasan secara ketat yang dilakukan PVMBG adalah menambah pemasangan Closed Circuit Television (CCTV) di sejumlah gunung.

Pada Minggu (29/2019), CCTV ditambahkan di puncak Gunung Agung, Bali, pada ketinggian 3.142 meter di atas permukaan laut.

"Pemasangan CCTV ini untuk memantau langsung segala aktivitas permukaan kawah secara terus menerus dan berkelanjutan. Masyarakat pun bisa ikut memantau kawah Gunung Agung melalui website maupun aplikasi MAGMA Indonesia yang dapat diunduh melalui playstore," ujar Kasbani. 

"GPS itu untuk mengetahui deformasi gunung, untuk mengetahui kembang kempisnya gunung, kalau dia itu membengkak kelihatan, kalau membengkak hati-hati," tambah Kasbani.

(TRIBUNNEWSWIKi/Magi, KOMPAS/Dian Erika Nugraheny)





Ikuti kami di
KOMENTAR

ARTIKEL TERKINI

Artikel POPULER

© 2026 tribunnnewswiki.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved