Prediksi Potensi Bencana 2020, Cuaca, Karhutla, hingga Status Gunung Api yang Meningkat

BNPB memaparkan Kaleidoskop Bencana 2019 dan Outlook bencana 2020, Senin (30/12/2019). Berikut rincian prediksi potensi bencana pada 2020 mendatang:


zoom-inlihat foto
prediksi-bencana-alam-2020.jpg
KOMPAS.com/Dian Erika
Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, saat memberikan pemaparan pada acara Kaleidoskop Bencana 2019 dan Outlook bencana 2020 di Graha BNPB, Jakarta Timur, Senin (30/12/2019).


"Jadi prediksi ini berlaku sampai Juni. Kondisinya netral," tambahnya.

Lebih lanjut, Dwikorita menjelaskan musim kemarau pada 2020 diperkirakan akan dimulai pada April dan berakhir pada Oktober.

Akan tetapi, tahapan musim kemarau tidak akan terjadi secara serempak. 

"Mulainya dan berakhirnya juga tidak serempak. Mulai April terutama di wilayah Sumatra, Kalimantan, Jawa, Bali, dan nusa Tenggara," tutur Dwikorita.

Intensitas karhutla diperkirakan menurun

Presiden saat meninjau lokasi karhutla di Desa Merbau, Kecamatan Bunut, Kabupaten Pelalawan, Kota Pekanbaru, Riau, Selasa (17/9/2019) siang
Presiden saat meninjau lokasi karhutla di Desa Merbau, Kecamatan Bunut, Kabupaten Pelalawan, Kota Pekanbaru, Riau, Selasa (17/9/2019) siang (Biro Pers Sekretariat Presiden)

Baca: 3 Ekor Orangutan Korban Karhutla Ditranslokasikan ke Taman Nasional Gunung Palung

Baca: Perangi Kabut Asap, Kapur Tohor Aktif Bakal Ditabur di Kawasan Karhutla Sumatera dan Kalimantan

Menurut Dwikorita, intensitas kebakaran hutan dan lahan diperkirakan akan menurun pada 2020.

Hal tersebut berkaitan dengan musim kemarau 2020 yang diperkirakan tidak separah kondisi pada 2019.

"Karhutla diprediksi menurun sebab ada korelasi dengan musim kemarau. Kemudian apabila kita antisipasi lebih lanjut, insya Allah kami harapkan kecenderungan akan semakin menurun, " ujarnya.

Antisipasi yang dimaksud, adalah memantau potensi karhutla secara bertahap mulai dari pencatatan hari tanpa hujan.

Menurut Dwikorita, jika selama 10 hari tidak turun hujan, maka perlu diwaspadai.

"Kami kemudian memantau kejadian dan potensi kejadian melalui satelit Himawari. Kami turunkan dalam bentuk deteksi titik-titik panas, " ungkapnya.

Meski begitu, titik panas yang terpantau belum pasti akan menjadi titik api.

"Akan tetapi hal itu menjadi panduan hotspot, " ungkapnya.

2 provinsi tetap diminta waspada karhutla

Meski intensitas karhutla diperkirakan menurun, Dwikorita mengatakan ada potensi karhutla di Provinsi Riau dan Provinsi Aceh di awal 2020.

Hal ini disebabkan kedua provinsi mengalami musim kemarau pada Februari hingga Maret mendatang.

"Meski musim hujan akan meningkat mulai Januari (dan seterusnya) tapi untuk Aceh dan Riau harus waspada. Sebab di kedua provinsi itu mengalami musim kemarau, yakni pada Februari sampai Maret. Artinya ada potensi kekeringan dan kebakaran lahan," ujar Dwikorita.

Kemudian, Dwikorita juga mengingatkan masyarakat untuk melakukan persiapan sebelum musim kemarau.

Salah satunya, memaksimalkan kapasitas penampungan air di waduk maupun kolam penampungan.

"Untuk mengingatkan dampak musim kemarau, yang dimulai April, sementara itu curah hujan meningkat pada Januari - Maret, maka diimbau semua pihak untuk memaksimalkan kapasitas waduk, embung, kolam dan sebagainya untuk penyimpanan air," ungkapnya.





Halaman
123
Ikuti kami di
KOMENTAR

ARTIKEL TERKINI

Artikel POPULER

© 2026 tribunnnewswiki.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved