"Jadi prediksi ini berlaku sampai Juni. Kondisinya netral," tambahnya.
Lebih lanjut, Dwikorita menjelaskan musim kemarau pada 2020 diperkirakan akan dimulai pada April dan berakhir pada Oktober.
Akan tetapi, tahapan musim kemarau tidak akan terjadi secara serempak.
"Mulainya dan berakhirnya juga tidak serempak. Mulai April terutama di wilayah Sumatra, Kalimantan, Jawa, Bali, dan nusa Tenggara," tutur Dwikorita.
Intensitas karhutla diperkirakan menurun
Baca: 3 Ekor Orangutan Korban Karhutla Ditranslokasikan ke Taman Nasional Gunung Palung
Baca: Perangi Kabut Asap, Kapur Tohor Aktif Bakal Ditabur di Kawasan Karhutla Sumatera dan Kalimantan
Menurut Dwikorita, intensitas kebakaran hutan dan lahan diperkirakan akan menurun pada 2020.
Hal tersebut berkaitan dengan musim kemarau 2020 yang diperkirakan tidak separah kondisi pada 2019.
"Karhutla diprediksi menurun sebab ada korelasi dengan musim kemarau. Kemudian apabila kita antisipasi lebih lanjut, insya Allah kami harapkan kecenderungan akan semakin menurun, " ujarnya.
Antisipasi yang dimaksud, adalah memantau potensi karhutla secara bertahap mulai dari pencatatan hari tanpa hujan.
Menurut Dwikorita, jika selama 10 hari tidak turun hujan, maka perlu diwaspadai.
"Kami kemudian memantau kejadian dan potensi kejadian melalui satelit Himawari. Kami turunkan dalam bentuk deteksi titik-titik panas, " ungkapnya.
Meski begitu, titik panas yang terpantau belum pasti akan menjadi titik api.
"Akan tetapi hal itu menjadi panduan hotspot, " ungkapnya.
2 provinsi tetap diminta waspada karhutla
Meski intensitas karhutla diperkirakan menurun, Dwikorita mengatakan ada potensi karhutla di Provinsi Riau dan Provinsi Aceh di awal 2020.
Hal ini disebabkan kedua provinsi mengalami musim kemarau pada Februari hingga Maret mendatang.
"Meski musim hujan akan meningkat mulai Januari (dan seterusnya) tapi untuk Aceh dan Riau harus waspada. Sebab di kedua provinsi itu mengalami musim kemarau, yakni pada Februari sampai Maret. Artinya ada potensi kekeringan dan kebakaran lahan," ujar Dwikorita.
Kemudian, Dwikorita juga mengingatkan masyarakat untuk melakukan persiapan sebelum musim kemarau.
Salah satunya, memaksimalkan kapasitas penampungan air di waduk maupun kolam penampungan.
"Untuk mengingatkan dampak musim kemarau, yang dimulai April, sementara itu curah hujan meningkat pada Januari - Maret, maka diimbau semua pihak untuk memaksimalkan kapasitas waduk, embung, kolam dan sebagainya untuk penyimpanan air," ungkapnya.