Gunung Gede

Gunung Gede unung bertipe stratovolcano yang terletak diantara Kabupaten Cianjur dan Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, Indonesia. Gunung Gede memiliki tinggi 2958 mdpl.


zoom-inlihat foto
gunung-gedea.jpg
superadventure.co.id
Gunung Gede

Gunung Gede unung bertipe stratovolcano yang terletak diantara Kabupaten Cianjur dan Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, Indonesia. Gunung Gede memiliki tinggi 2958 mdpl.




  • Informasi Awal


TRIBUNNEWSWIKI.COM - Gunung Gede adalah gunung berapi aktif di Jawa Barat, Indonesia.

Gunung Gede memiliki ketinggian 2958 mdpl.

Gunung Gede bersebalahan dengan Gunung Pangrango.

Gunung Gede dan Gunung Pangrango masuk dalam kawasan Taman Nasional Gede Pangrango.

Terakhir kali Gunung Gede meletus terjadi pada Maret 1957.

Gunung Gede terletak diantara Kabupaten Cianjur dan Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.

Gunung Gede berjenis stratovolcano atau gunung api aktif berbentuk kerucut.

  • Legenda


Sejarah dan legenda yang merupakan kepercayaan masyarakat setempat yaitu tentang keberadaan Eyang Suryakancana.

Suryakancana adalah Putra dari Dalem Cikundul atau Rd. Aria Wira Tanu I, pendiri Cianjur dan bupati Pertama Cianjur, hasil dari pernikahannya dengan Putri Jin.

Masyarakat percaya bahwa Eyang Suryakencana yang notabenenya adalah bangsa jin, masih bermukim di sekitar gunung Gede, dan menjadi penguasa bangsa jin di gunung tersebut.

Pada saat tertentu, banyak orang khususnya penganut Agama Sunda Wiwitan masuk ke goa-goa sekitar Gunung Gede untuk semedhi / bertapa maupun melakukan upacara religius.

Kawasan Gunung Gede dan Gunung Pangrango sesungguhnya telah dikenal lama dalam dongeng dan legenda tanah Sunda.

Salah satunya, naskah perjalanan Bujangga Manik dari sekitar abad-13 telah menyebut-nyebut tempat bernama Puncak dan Bukit Ageung (yakni, Gunung Gede) yang disebutnya sebagai “hulu wano na Pakuan” (tempat yang tertinggi di Pakuan).

Agaknya, pada masa itu telah ada jalan kuno antara Bogor (d/h Pakuan) dengan Cianjur, yang melintasi lereng utara G. Gede di sekitar Cipanas sekarang.

Pada masa penjajahan Belanda wilayah yang subur ini kemudian tumbuh menjadi area pertanian, terutama perkebunan.

Dari tahun 1728 teh Jepang telah mulai ditanam, dan pada 1835 perkebunan teh ini telah dikembangkan di Ciawi dan Cikopo.

Menyusul pada 1878 dikembangkan teh Assam, yang terlebih sukses lagi, sehingga mengubah lansekap dan perekonomian di seputar lereng Gede-Pangrango.

Kawasan Gede-Pangrango juga dikenal sebagai salah satu tempat favorit dan tertua, bagi penelitian-penelitian tentang alam di Indonesia.

Menurut catatan modern, orang pertama yang menginjakkan kaki di puncak Gede adalah Reinwardt, pendiri dan direktur pertama Kebun Raya Bogor, yang mendaki G. Gede pada April 1819.

Ia meneliti dan menulis deskripsi vegetasi di bagian gunung yang lebih tinggi hingga ke puncak.

Reinwardt sebetulnya juga menyebutkan, bahwa Horsfield telah mendaki gunung ini lebih dahulu daripadanya; akan tetapi catatan perjalanan Horsfield ini tidak dapat ditemukan.

Dua tahun kemudian, melalui sehelai surat yang dikirimkan dari Buitenzorg (sekarang Bogor) pada awal Agustus 1821, Kuhl dan van Hasselt menyebutkan bahwa mereka baru saja menyelesaikan pendakian dan penelitian ke puncak Pangrango.

Kedua peneliti muda itu menemukan banyak jejak dan jalur lintasan badak jawa di sana, bahkan mereka menggunakannya untuk memudahkan menembus hutan menuju puncak G. Pangrango.

Delapan belas tahun kemudian Junghuhn mendaki ke puncak Pangrango pada bulan Maret 1839, dan juga ke puncak Gede dan wilayah sekitarnya pada bulan-bulan berikutnya, untuk mempelajari topografi, geologi, meteorologi, serta botani tetumbuhan di daerah ini.

Sejak masa itu, tidak lagi terhitung banyaknya peneliti yang telah mengunjungi kawasan ini hingga sekarang, baik yang tinggal lama maupun yang sekadar singgah dalam kunjungan singkat.

Banyaknya peneliti yang berkunjung ke tempat ini tak bisa dilepaskan dari kekayaan dan keindahan alam di Gunung Gede-Pangrango, dan awalnya juga oleh keberadaan Kebun Raya Cibodas; yang semula - ketika dibangun pada 1830 oleh J.E Teijsman - sebetulnya dimaksudkan sebagai kebun aklimatisasi bagi tanaman-tanaman yang potensial untuk dikembangkan dalam perkebunan.

Kebun yang kemudian dikembangkan menjadi kebun raya (lk. 1870), ini menyediakan tempat menginap yang cukup baik, sarana penelitian, serta catatan-catatan dan informasi dasar yang terus bertumbuh mengenai keadaan lingkungan dan hutan di sekitarnya.

Pada tahun 1889, atas usulan Treub, sebidang hutan pegunungan seluas 240 hektare di atas kebun raya tersebut hingga ke wilayah sekitar Air Panas ditetapkan sebagai cagar alam oleh Pemerintah Hindia Belanda.

Inilah cagar alam dan kawasan konservasi ragam hayati yang pertama didirikan di Indonesia. Belakangan, pada 1926, cagar alam ini diperluas hingga mencakup puncak-puncak gunung Gede dan Pangrango, dengan luas total 1.200 ha.

Bersama dengan meningkatnya kesadaran mengenai pentingnya lingkungan hidup, pada tahun 1978 Pemerintah Indonesia menetapkan Cagar Alam (CA) Gunung Gede Pangrango seluas 14.000 ha, melingkup kedua puncak gunung beserta tutupan hutan di lereng-lerengnya.

Kemudian pada 6 Maret 1980 cagar alam ini digabungkan dengan beberapa suaka alam yang berdekatan dan ditingkatkan statusnya menjadi Taman Nasional Gunung Gede Pangrango - satu dari lima taman nasional yang pertama di Indonesia, dengan luas keseluruhan 15.196 ha. (1)

Dan akhirnya, melalui Surat Keputusan Menteri Kehutanan nomor 174/Kpts-II/2003 tanggal 10 Juni 2003 tentang Penunjukan dan Perubahan Fungsi Kawasan Cagar Alam, Taman Wisata Alam, Hutan Produksi Tetap dan Hutan Produksi terbatas pada Kelompok Hutan Gunung Gede Pangrango, kawasan TN Gunung Gede Pangrango memperoleh tambahan area seluas 7.655,03 ha dari Perum Perhutani Unit III Jawa Barat, sehingga total luasannya kini menjadi 22.851,03 ha.

Baca: Gunung Galunggung

Baca: Gunung Lawu

peneliti belanda
Jacob Christiaan Koningsberger di Kawah Gunung Gede.

  • Sejarah letusan


Letusan gunung gede pertama kali terjadi tahun 1747/1748.

Letusan yang terjadi sangat hebat dan menyebabkan 2 aliran lava bergerak dari Kawah Lanang.

Letusan yang terjadi tidak biasa, karena letusan gunung ini hanya mengeluarkan lava seperti aliran lava dalam 250 tahun lalu.

Kemungkinan aliran lava yang terjadi sepanjang 2 km, yang merupakan penyebab terbentuknya sumber Air Panas yang saat ini ada.

Terjadi beberapa kali letusan kecil (1761, 1780, dan 1832), gunung Gede kemudian ”tertidur” hampir 100 tahun.

Kemudian, jam 3 pagi pada tanggal 12 November 1840 terjadi sebuah letusan yang besar dan sangat tiba-tiba yang membangunkan desa-desa disekitarnya dengan goncangan yang hebat dan disertai semburan api setinggi 50 m diatas kawah.

Kepulan asap dari semburan gas disemburkan dan semburan tersebut berhenti sebelum sampai di Kebun Raya Cibodas.

Masyarakat di Cipanas mengungsi. Pada hari berikutnya, tanggal 14 November, batu-batu besar yang berdiameter 1 meter lebih, disemburkan keudara. Sebuah batu yang berukuran sangat besar mendarat di Cibeureum dengan saat kuatnya yang menyebabkan terbentuknya kawah sedalam 4 m.

Sekitar tanggal 1 Desember tahun 1840, letusan disertai hujan abu disemburkan sangat tinggi mencapai 200 m diatas puncak Gede. (2)

Salah satu letusan yang sangat hebat terjadi pada tanggal 11 Desember: letusan sangat intens terjadi dan mengeluarkan hujan abu yang menutupi cahaya matahari dan gemuruh besar yang seringkali terjadi seperti halnya energi statis pada abu diberi listrik sehingga mengeluarkan energi.

Aktivitas letusan akhirnya berhenti pada bulan Maret tahun 1841, ketika Hasskarl seorang peneliti, dapat mengamati dan melihat dari dekat kerusakan dan kehancuran yang terjadi.

Seluruh pohon-pohon dihutan termasuk tumbuhan bawah terutama di bagian puncak di atas dari Air Panas hancur, sebagian terbakar, dan umumnya hancur akibat guncangan vulkanik yang sangat hebat akibat letusan.

Letusan kecil-kecil sebanyak 24 kali terjadi setelah itu dalam kurun waktu 150 tahun, yang umumnya terjadi secara secara tidak teratur.

Misalnya, tahun 1852 terjadi letusan yang menghancurkan penginapan di Kandang Badak akibat diterjang batu yang sangat besar; tahun 1886 terjadi letusan yang disertai oleh hujan abu setebal 50 cm disemburkan sampai sejauh 500 meter dari kawah, menghancurkan hampir seluruh vegetasi.

Tahun 1940/1950 beberapa kali terjadi letusan kecil-kecil. Tahun 1957 merupakan letusan gunung Gede yang terakhir, namun ini bukan merupakan hal yang melegakan, karena semakin lama suatu gunung tidak aktif, dan bila terjadi letusan, akan merupakan letusan yang sangat besar dan hebat.

Baca: Gunung Ijen

Baca: Gunung Semeru

gunung gedde
Puncak kawah Gunung Gede.

  • Penelitian


Gunung Gede mempunyai keadaan alam yang khas dan unik, hal ini menjadikan Gunung Gede sebagai salah satu laboratorium alam yang menarik minat para peneliti sejak lama.

Tercatat pada tahun 1819, C.G.C. Reinwardt sebagai orang yang pertama yang mendaki Gunung Gede, kemudian disusul oleh F.W. Junghuhn (1839-1861), J.E. Teijsmann (1839), A.R. Wallace (1861), S.H. Koorders (1890), M. Treub (1891), W.M. Docters van Leeuwen (1911); dan C.G.G.J. van Steenis (1920-1952) telah membuat koleksi tumbuhan sebagai dasar penyusunan buku The Mountain Flora of Java yang diterbitkan tahun 1972.

Gunung Gede juga memiliki keanekaragaman ekosistem yang terdiri dari formasi-formasi hutan submontana, montana, subalpin; serta ekosistem danau, rawa, dan savana.

Gunung Gede terkenal kaya akan berbagai jenis burung yaitu sebanyak 251 jenis dari 450 jenis yang terdapat di Pulau Jawa. Beberapa jenis di antaranya merupakan burung langka yaitu elang Jawa (Spizaetus bartelsi) dan celepuk jawa (Otus angelinae).

Taman Nasional Gunung Gede-Pangrango ditetapkan oleh UNESCO sebagai Cagar Biosfir pada tahun 1977, dan sebagai Sister Park dengan Taman Negara.

  • Jalur pendakian


Jalur pendakian via Cibodas adalah jalur paling banyak diminati oleh pendaki karena dengan peraturan yang baru diwajibkan para pendaki untuk melakukan cek up (kesehatan) di TNGGP, estimasi waktu pendakian via Cibodas memakan waktu kurang lebih 7 - 10 jam perjalan tergantung kecapatan dan kekuatan masing-masing pendaki. (3)

  • Via Cibodas

Berikut estimasi waktu perjalanan via cibodas ke puncak Gunung Gede dan Pangrango:

Cibodas (pendaftaran) - Pondok Pemandangan (70 menit)

Pondok Pemandangan - Kandang Batu (120 menit)

Kandang Batu - Kandang Badak (60 Menit)

  • Via Gunung Putri

Untuk Anda yang ingin mempersingkat waktu jalur pendakian via Gunung Putri bisa jadi alternatif karena melakukan pendakian via Gunung Putri asumsi waktu cukup cepat sekitar 6 - 8 jam saja akan tetapi dengan medan cukup terjal dan jarang yang landai.

Bascame Gunung Putri - Buntut Lutung (120 menit)

Buntut Lutung - Simpang Maleber (90 menit)

Simpang Maleber - Surken (60menit)

Surken - Puncak Gede (30 menit)

Bagi yang belum begitu paham jalur Selabitana tidak disarankan melewati jalur ini karena medan yang cukup menantang, banyak lintah dan menyusuri sungai hingga hutan belantara. Total perjalanan melalui jalur ini menghabiskan waktu 12 jam.

  • Kekayaan alam


Keanekaragaman hayati yang terkandung di Taman Nasional Gunung Gede dan Pangrango sangatlah melimpah, terutama flora pegunungan.

Dari catatatan sejarah yang telah dituliskan diatas dapat diketahui bahwa kekayaan di kawasan ini menarik banyak ahli dan peneliti untuk mengeksplorasi kawasan Gunung Gede Pangrango.

Seperti misalnya Thunberg yang telah membuat kajian botani pada tahun 1777 di wilayah ini.

Lalu kemudian Blume yang mendaki puncak gunung Gede, yang untuk pertama kalinya menggunakan jalur pendakian yang kita kenal saat ini sebagai jalur pendakian Cibodas.

Kemudian diikuti oleh Wallace yang mengikuti jalur ini pada tahun 1861 dalam rangka mengoleksi burung dan serangga, walaupun mendapatkan hasil yang kurang memuaskan.

Secara garis besar para ahli membedakan tipe hutan primer yang ada di kawasan pegunungan ini menjadi dua jenis, yaitu tipe hutan tinggi dan tipe hutan elfin atau hutan lumut yang selanjutnya dinamai pula dengan hutan alpinoid atau vegetasi sub alpin.

Untuk tipe hutan tinggi lebih lanjut dibagi menjadi dua bagian yakni hutan pegunungan bawah dan hutan pegunungan atas.
Taman nasional ini terutama dikenal karena kekayaan flora hutan pegunungan yang dimilikinya.

Sebagai gambaran, di seluruh wilayah CA Cibodas-Gede (kini bagian dari Taman Nasional), pada ketinggian 1.500 m dpl hingga ke puncak Gede dan Pangrango, tercatat tidak kurang dari 870 spesies tumbuhan berbunga dan 150 spesies paku-pakuan. Jenis-jenis anggrek tercatat hingga 200 spesies di seluruh Taman Nasional.

Van Steenis selanjutnya juga mencatat, dari 68 spesies tumbuhan pegunungan yang langka dan hanya diketahui keberadaannya di satu gunung saja di Jawa, 9 jenis di antaranya tercatat hanya dari Gunung Gede, dan 6 dari 9 jenis itu endemik Jawa.

Jenis edelweis jawa (Anaphalis javanica) yang tumbuh melimpah di Alun-alun Suryakancana sangat populer di kalangan pendaki gunung dan pecinta alam, sehingga dijadikan maskot taman nasional ini.

Akan tetapi yang endemik Jawa dan agak jarang dijumpai sebetulnya adalah kerabat dekatnya, Anaphalis maxima; di TNGGP hanya didapati di G. Pangrango dekat Kandang Badak.

Beberapa jenis endemik lain yang didapati di kawasan ini, di antaranya, sejenis uwi Dioscorea madiunensis; sejenis jernang Daemonorops rubra; pinang hijau Pinanga javana; sejenis kapulaga Amomum pseudofoetens; dan masih banyak lagi.

Taman Nasional Gunung Gede Pangrango memiliki kekayaan jenis hewan yang cukup tinggi, terutama di zona hutan pegunungan bawah.

Beberapa jenisnya yang terhitung langka, endemik atau terancam kepunahan, di antaranya, adalah owa jawa (Hylobates moloch), lutung surili (Presbytis comata), anjing ajag (Cuon alpinus), macan tutul (Panthera pardus), biul slentek Melogale orientalis, sejenis celurut gunung Crocidura orientalis, kelelawar Glischropus javanus dan Otomops formosus, sejenis bajing terbang Hylopetes bartelsi, dua jenis tikus Kadarsanomys sodyi dan Pithecheir melanurus.

Beberapa jenis burung seperti elang jawa (Spizaetus bartelsi), serak bukit Phodilus badius, celepuk jawa Otus angelinae, cabak gunung Caprimulgus pulchellus, walet gunung Collocalia vulcanorum, pelatuk kundang Reinwardtipicus validus, ciung-mungkal jawa Cochoa azurea, anis hutan Zoothera andromedae, dan beberapa spesies lain.

Sejenis ular pegunungan Pseudoxenodon inornatus yang jarang kemungkinan juga terdapat di sini[10]; juga beberapa jenis amfibia langka seperti katak merah (Leptophryne borbonica), dan sejenis sesilia Ichthyophis hypocyaneus.

Hewan-hewan lain yang acap dijumpai, di antaranya monyet kra (Macaca fascicularis), lutung budeng (Trachypithecus auratus), teledu sigung (Mydaus javanensis), tupai akar (Tupaia glis), tupai kekes (T. javanica), tikus babi (Hylomys suillus), jelarang hitam (Ratufa bicolor), bajing-tanah bergaris-tiga (Lariscus insignis), pelanduk jawa (Tragulus javanicus) dan lain-lain. Seluruhnya, lebih dari 100 jenis mamalia serta 250 jenis burung.

Baca: Burung Kenari

Baca: Burung Maleo

owaw
Owa dari Gunung Gede.

  • Wisata


Disekitaran Gunung Gede (yang masuk dalam Taman Nasional Gede Pangrango), terdapat beberapa destinasi wisata yang bisa dikunjungi. Berikut destinasi tersebut : (4)

  • Air terjun Cibeureum
Air Terjun Cibeureum.
Air Terjun Cibeureum. (alampriangan.com)

Air terjun dengan ketinggian sekitar 50 meter terletak sekitar 2,8 km dari Kebun Raya Cibodas dengan air yang dingin dan jernih serta udara yang segar.

Di sekitar air terjun tersebut dapat melihat sejenis lumut merah yang merupakan salah satu dari banyak tumbuhan endemic yang terdapat di taman nasional Gede Pangrango.

  • Sumber Mata Air Panas

Sumber Mata Air Panas ini terletak sekitar 5,3 km atau 2 jam perjalanan dari Cibodas.

  • Kandang Batu dan Kandang Badak

Merupakan shelter dimana para pendaki bisa mendirikan tenda untuk menginap baik sebelum ataupun setelah melakukan pendakian ke puncak gunung Gede.

Tempat ini juga sering digunakan sebagai titik pengamatan satwa. Berada pada ketinggian 2.220 m.dpl atau sekitar 3,5 jam perjalanan dari Cibodas.

  • Puncak dan Kawah Gunung Gede

Melihat sunset / sunrise, mengamati hewan liar, melihat keindahan kawah dan tentunya menikmati pencapaian anda berdiri di puncak gunung setelah melakukan pendakian yang melelahkan.

Terdapat beberapa kawah aktif yaitu kawah Lanang, Ratu dan Wadon. Berada pada ketinggian 2.958 m.dpl dengan waktu 5 jam pendakian dari Cibodas.

  • Telaga Biru
Telaga Biru.
Telaga Biru. (alampriangan.com)

Sebuah danau kecil di ketinggian 1.575 meter dpl atau sekitar 1,5 km dari pintu masuk Cibodas, danau ini tampak berwarna biru diterpa sinar matahari dan terlihat indah dikelilingi oleh hutan yang rimbun.

Apabila sedang beruntung, anda bisa melihat kura-kura penghuni danau ini sedang berjemur di pagi hari.

  • Alun-alun Suryakencana
Alun-alun Suryakencana.
Alun-alun Suryakencana. (alampriangan.com)

Sebuah padang edelweiss luas yang sangat indah.

Berada pada ketinggian 2.750 m. dpl atau 6 jam perjalanan dari Cibodas.

Sebagai kawasan wisata dan rekreasi, saat akhir minggu (Sabtu dan Minggu) dan hari libur, kawasan wisata Cibodas dan Kebun Raya Cibodas akan diramaikan oleh pengunjung.

Mereka membeli suvenir dan oleh-oleh berupa sayuran dan buah-buah segar dengan harga terjangkau dari pasar wisata di Cibodas.

(Tribunnewswiki.com/Haris)



Nama Gunung Gede
Jenis Stratovolcano
Koordinat 6°47?S 106°59?EKoordinat: 6°47?S 106°59?E?
Tinggi 2958 mdpl
Lokasi Kabupaten Cianjur
Kabupaten Sukabumi
Jalur pendakian Cibodas
Gunung Putri
Selabintana Sukabumi








KOMENTAR

ARTIKEL TERKINI

Artikel POPULER

© 2020 tribunnnewswiki.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved