Burung Maleo

Burung maleo adalah burung endemik dari Pulau Sulawesi, tepatnya di Kabupaten Donggala dan Kabupaten Luwuk banggai, Sulawesi Tengah. Burung maleo memiliki nama ilmiah Macrocephalon maleo yang berarti kepala besar. Hal ini karena burung maleo memiliki tonjolan cukup besar di kepalanya.


zoom-inlihat foto
maleo.jpg
(KOMPAS.com / RONNY ADOLOF BUOL)
BUOL Burung maloe (Macrocephalon maleo) difoto di nesting ground Libuun, Desa Taima, Banggai, Sulawesi Tengah yang dikelola oleh Aliansi Konservasi untuk Tompotika (ALTO).

Burung maleo adalah burung endemik dari Pulau Sulawesi, tepatnya di Kabupaten Donggala dan Kabupaten Luwuk banggai, Sulawesi Tengah. Burung maleo memiliki nama ilmiah Macrocephalon maleo yang berarti kepala besar. Hal ini karena burung maleo memiliki tonjolan cukup besar di kepalanya.




  • Informasi Awal #


TRIBUNNEWSWIKI.COM – Burung maleo adalah burung endemik dari Pulau Sulawesi, tepatnya di Kabupaten Donggala dan Kabupaten Luwuk banggai, Sulawesi Tengah.

Burung maleo memiliki nama ilmiah Macrocephalon maleo yang berarti kepala besar.

Hal ini karena burung maleo memiliki tonjolan cukup besar di kepalanya.

Tonjolan itu berfungsi untuk mendeteksi panas bumi ketika burung maleo akan menetaskan telurnya.

Burung ini memiliki perilaku yang unik, yaitu akan pingsan setelah ia bertelur.

Hal ini karena burung maleo memiliki telur yang sangat besar, sekitar lima kali lebih besar dari telur ayam.

Ukuran telur burung maleo sekitar 11 cm dengan berat antara 240 sampai 270 gram.

Saat ini, jumlah burung maleo diperkirakan kurang dari 10 ribu ekor.

Karena itu, burung maleo akhirnya dinyatakan sebagai satwa dilindungi karena para pemburu liar kerap mengambil telur-telur burung maleo seenaknya.

Karena itu, pemrintah akhirnya membuat pantai khusus yang digunakan untuk konservasi atau penyelamatan burung maleo.

Pantai seluas 14 hektar itu terletak di Tanjung Binerean, Sulawesi Utara. (1)

Burung maleo juga sudah ditetapkan sebagai satwa mascot Provinsi Sulawesi Selatan sejak 1990 berdasarkan SK Nomor Kep 188.44/1067/RO/BKLH pada 24 Februari 1990. (2)

maleo 1
Burung maloe (Macrocephalon maleo) difoto di nesting ground Libuun, Desa Taima, Banggai, Sulawesi Tengah yang dikelola oleh Aliansi Konservasi untuk Tompotika (ALTO). (KOMPAS.com / RONNY ADOLOF BUOL)

  • Ciri-ciri #


Burung maleo memiliki bulu berwarna hitam.

Pada bagian kulit sekitar mata memiliki warna kuning, bagian iris mata berwarna merah kecokelatan, serta bagian kaki berwarna abu-abu.

Kemudian bagian paruh memiliki warna jingga dan bulu sisi bawah berwarna merah muda sedikit keputihan.

Bagian atas kepala burung maleo terdapat tanduk atau jambul yang keras dengan warna hitam.

Burung maleo jantan dan betina tidak memiliki perbedaan signifikan, pada umumnya burung maleo betina punya ukuran lebih kecil serta berwarna lebih kelam dibandingkan burung maleo jantan.

Saat burung maleo masih anakan dan remaja, tonjolan pada kepalanya belum terlihat.

Namun waktu menginjak usia dewasa tonjolan ini pun sudah mulai tampak.

Tonjolan ini berfungsi untuk mendeteksi panas bumi. (3)

Hal ini karena burung maleo tidak menetaskan telurnya sendiri, melainkan dikubur di dalam tanah atau pasir yang hangat.

Di titik yang memiliki suhu cukup hangat, burung maleo biasanya akan menggali lubang sedalam 30 sampai 50 cm untuk menetaskan telurnya.

Namun telur burung maleo tidak ditutup sepenuhnya, hal ini supaya ketika menetas, anak burung maleo bisa keluar dari tanah.

Anak maleo yang baru lahir akan keluar dari dalam tanah sendiri dan langsung bisa terbang dan mencari makanannya tanpa bantuan sang induk.

Burung maleo dewasa memiliki ukuran tubuh yang sedang, sekitar 55 cm, besar di bagian tubuhnya dan mengecil di bagian kepala. (4)

maleo 2
Burung maloe (Macrocephalon maleo) difoto di nesting ground Libuun, Desa Taima, Banggai, Sulawesi Tengah yang dikelola oleh Aliansi Konservasi untuk Tompotika (ALTO). (KOMPAS.com / RONNY ADOLOF BUOL)

  • Perilaku #


Burung maleo memiliki kisah hidup yang unik.

Meski termasuk ke dalam jenis burung, burung maleo lebih suka berjalan kaki alih-alih terbang.

Burung maleo juga hanya memiliki satu pasangan seumur hidupnya.

Burung maleo dewasa yang sudah berpasangan akan hidup di dalam hutan sampai mati.

Ketika burung betina sudah siap untuk bertelur, maka pasangan tersebut akan berjalan kaki hingga berkilo-kilo meter menuju tempat bertelur komunal.

Tempat ini umumnya terdapat di pesisir pantai atau di sekitar mata air panas yang ada di dalam hutan. (5)

Makanan burung maleo adalah serangga, semut, dan biji-bijian.

Mereka hidup berpindah-pindah dari pohon ke pohon untuk menghindari predator.

Burung maleo tidak hidup secara berkelompok, sepanjang hidupnya dihasbiskan bersama pasangannya. (6)

maleo 3
Burung Maloe (Macrocephalon maleo) difoto di nesting ground Libuun, Desa Taima, Banggai, Sulawesi Tengah yang dikelola oleh Aliansi Konservasi untuk Tompotika (ALTO). Maleo merupakan burung endemik Sulawesi yang dilindungi dan terancam punah. (KOMPAS/RONNY ADOLOF BUOL)

  • Populasi Burung Maleo #


Burung maleo paling banyak tersebar di kawasan Sulawesi Tengah.

Salah satu tempat tinggal burung maleo ada di cagar alam Saluki, Donggala, Sulawesi Tengah.

Diperkirakan populasi burung maleo saat ini tidak mencapai 10 ribu ekor.

Pada kawasan Taman Nasional Lore Lindu, populasinya yang sudah terhitung kurang lebih hanya tinggal 320 ekor saja.

Kelangkaan burung maleo terutama disebabkan karena terdesaknya habitat.

Khususnya yang ada di luar kawasan konservasi, perburuan telur burung maleo oleh manusia dan juga ancaman predator seperti biawak, babi hutan, elang, dan predator lainnya.

Burung maleo yang punya berbagai macam keunikan juga memiliki peran yang begitu penting dalam budaya dan tradisi dari pulau Sulawesi.

Untuk bentuk burung maleo terlihat di Sulawesi menjadi ciri khas Sulawesi dan juga simbol dari kebanggaan rakyat Sulawesi.

Pada kawasan Kepulauan Banggai, terdapat juga tradisi Tumpe yang menggunakan telur burung maleo yang ukurannya besar ini.

Kepunahan dari burung maleo ini termasuk suatu kehilangan yang sangat besar untuk warisan budaya di wilayah Sulawesi ini.

Meski demikian, pemerintah terus berusaha menangkarkan burung ini agar tidak punah dan tetap lestari. (7)

Dalam konferensi internasional mengenai maleo di Tomohon, Sulawesi Utara, pada tahun 2010 silam, sejumlah ahli satwa menyatakan, perlindungan terhadap maleo adalah hal mendesak mengingat maraknya perburuan maleo oleh masyarakat.

Untuk wilayah Sulawesi Utara populasi burung maleo mendiami kawasan hutan lindung Taman Nasional Nani Wartabone yang terletak di wilayah perbatasan dengan provinsi Gorontalo.

Populasi maleo turun drastis dalam beberapa dekade terakhir dari sekitar 25.000 menjadi kurang dari 14.000 ekor (data tahun 2010).

Aktivitas pengumpulan telur adalah penyebab utamanya dan ini mengakibatkan menghilangnya maleo dari sejumlah tempat di Sulawesi.

Sekarang, maleo dikategorikan “terancam punah” (endangered).

Perilaku masyarakat lokal yang mengumpulkan telur untuk dikonsumsi, diperdagangkan, dan dijadikan cendera mata lebih memperparah situasi.

Ancaman kepunahan maleo sebenarnya sudah didengungkan pertama kali sejak tahun 1949.

Hal itu dilanjutkan dan dipertegas dalam program konservasi maleo pada tahu 1978 di Panua (Gorontalo), di Taman Nasional Bogani Nani Wartabone (Sulawesi Utara) tahun 1985, dan kemudian di Taman Nasional Lore Lindu (Sulawesi Tengah) pada 1990. (8)

maleo 4
Petugas Lapangan Maleo Project, WCS-IP, Tomo sedang menyiapkan lubang di hatchery untuk meletakkan telur Maleo (Marcocephalon maleo) yang baru saja digalinya dari nesting ground di Muara Pusian, Dumoga, Kabupaten Bolaang Mongondow.(Kompas.com/Ronny Adolof Buol)

  • Konservasi #


Karena populasinya yang semakin menurun, IUCN memasukkan burung maleo ke dalam kategori “terancam punah”.

CITES juga memasukkan binatang khas Sulawesi Tengah ini dalam kategori Appendix I.

Kelangkaan fauna unik ini antara lain disebabkan oleh terdesaknya habitat terutama yang berada di luar kawasan konservasi, perburuan telur Maleo oleh manusia serta ancaman predator seperti biawak (Varanus sp), babi hutan (Sus sp), dan elang.

Beruntung, Dinas Kehutanan Melalui Balai Taman Nasional Lore Lindu berhasil membuat penangkarannya, bekerja sama dengan masyarakat setempat.

Paling tidak usaha ini mampu sedikit meminimalisir bahaya kepunahan yang mengancam burung anti poligami ini. (9)

Upaya perlindungan burung maleo di tempat bertelur maleo di dekat Desa Taima, Kabupaten Bualemo juga sudah dimulai pada 2006.

Sebelum adanya perlindungan itu, bisa dikatakan hampir semua telur maleo yang ada sudah diambil oleh manusia.

Namun pada 1 Agustus 2006, sebuah upaya gabungan dibentuk untuk melancarkan konservasi burung maleo yang baru.

Koalisi tersebut terdiri atas warga Desa Taima, MAPALA Iguana Tompotika, Yayasan Pemerhati Lingkungan yang berpusat di Luwuk, pihak pemerintah Kabupaten Banggai, beberapa ahli konservasi Indonesia dan internasional, serta sebuah rombongan pengunjung internasional.

Upaya konservasi itu dimulai dengan masa percobaan 6 bulan.

Selama periode itu, semua pihak sepakat bahwa pengambilan telur di tempat bertelur maleo tersebut harus dihentikan.

Percobaan ternyata sukses besar, sehingga kegiatan konservasi maleo di Taima berlanjut terus.

Sementara itu, koalisi tersebut berkembang menjadi kemitraan resmi antara masyarakat Taima, BKSDA Sulawesi Tengah, dan Yayasan AlTo.

Turunnya populasi maleo di sana sudah berhasil diperbaiki, dan sejak tahun 2006 jumlah burung maleo di sana meningkat terus.

Sebetulnya, proyek perlindungan maleo di Taima adalah satu-satunya proyek pelestarian maleo di dunia yang berhasil membuktikan peningkatan populasi maleo setempat.

Upaya konservasi burung maleo AlTo sudah berkembang, termasuk Kampanye Konservasi Burung Maleo yang tersebarluas, serta beberapa kegiatan lapangan lain. (10)

(TribunnewsWIKI/Widi Hermawan)

Jangan lupa subscribe kanal Youtube TribunnewsWIKI Official



Nama Maleo
Nama Latin Macrocephalon maleo
Kingdom Animalia
Filum Chordata
Kelas Burung
Ordo Galliformes
Famili Megapodiidae
Genus Macrocephalon


ARTIKEL REKOMENDASI



KOMENTAR

ARTIKEL TERKINI

Artikel POPULER

© 2023 tribunnnewswiki.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved