TRIBUNNEWSIKI.COM - Sudah tiga tahun penguasaha bernama Gufron memproduksi tahu di pabriknya yang ada di sentra industri Desa Tropodo, Kecamatan Krian, Sidoarjo, Jawa Timur.
Selama itu Gufron memanfaatkan sampah plastik untuk bahan bakar memasak kedelai menjadi tahu.
Sampah plastik dipilih Gufron karena harganya yang murah, lebih cepat panas, dan nyala api yang lebih lama.
Ternyata, Gufron tidak sendiri sebagai pengusaha tahu.
Ada puluhan pengusaha tahu di sentra industri Desa Tropodo, Kecamatan Krian, Sidoarjo.
Baca: Daftar Gaji Menteri, Staf Khusus, dan Bos BUMN 2020, Ahok Bakal Terima Uang Milyaran Per Bulan?
Baca: BNN Grebek Pabrik Narkoba di Tasikmalaya dan Gudangnya di Jawa Tengah, Modus Pabrik Produksi Sumpit
Baca: Hakim Internasional PBB Setujui Penyelidikan Kejahatan Genosida terhadap Etnis Rohingya di Myanmar
Sama seperti seperti Gufron, sebagian besar pengusaha menggunakan limbah plastik impor untuk bahan bakar.
Dikutip Tribunnewswiki.com dari Kompas.com, Kamis (28/11/2019), biasanya mereka (para pengusaha tahu di Desa Tropodo-red) membeli limbah plastik dari perusahaan kertas dengan harga Rp 200.000 per truk.
Limbah tersebut bisa digunakan untuk memproduksi tahu selama 4 hari.
"Saya punya pabrik tahu sudah berjalan tiga tahun dan sejak awal menggunakan sampah plastik."
"Kenapa menggunakan sampah plastik, ya karena lebih murah, lebih cepat panas, lebih kuat dan lebih lama habis," kata Gufron, Selasa (26/11/2019).
Kayu bahan bakar mahal
Selasa (26/11/2019), Bupati Sidoarjo Saiful llah meminta pengusaha tahu di sentra industri Desa Tropodo untuk tidak lagi menggunakan limbah plastik impor untuk bahan bakar.
"Limbah sampah plastik yang dibakar itu polusinya bukan main, polusi di udara tidak bisa hilang, dan mencemari udara kita," kata Saiful Ilah.
Ia mengatakan pengusaha tahu harus beralih menggunakan bahan bakar ramah lingkungan seperti pelet kayu, walaupun biaya produksi lebih mahal.
"Penjualan tahu dinaikkan sedikit-sedikit tidak masalah."
"Masyarakat pasti tidak mempermasalahkan adanya kenaikan, karena mereka tau bahan bakar yang ramah lingkungan itu sedikit lebih mahal," ujar dia.
Ia mengklaim pelet kayu adalah bahan bakar yang ramah lingkungan dengan kadar co2 yang rendah sehingga menghasilkan pembakaran yang sempurna.
Rencananya, para pengusaha tahu akan mendapatkan subsido pelet kayu sebagai bahan bakar.
"Ya, awalnya nanti kita subsidi."
"Kita akan bicarakan dengan ibu Gubernur."
"Karena di sini ada Pak Drajad sebagai kepala dinasnya (Disperindag Jatim)."
"Nanti bisa kita bicarakan bersama."
"Pasti kita bantu," imbuh Saiful.
Pengusaha mengeluh
Pernyataan Bupati Sidoarjo tentang limbah plastik tersebut disayangkan oleh pengusaha tahu, karena hampir 20 tahun mereka menggunakan limbah plastik sebagai bahan bakar.
"(Penggunaan plastik impor) sudah sejak zaman dulu digunakan (sebagai bahan bakar pembuatan tahu)."
"Siapa bisa melarang? Ya tidak bisa," ujar Gufron.
"Kenapa tidak dari dulu, kenapa baru sekarang dilarang?" katanya.
Baca: Rusuh Wamena, Buruh Pabrik Tahu Lolos dari Amuk Massa, Sempat Terkepung, Disembunyikan Warga Lokal
Baca: Daftar Lengkap UMK 2020 di 38 Kabupaten/Kota di Jawa Timur, Kota Surabaya Masih yang Tertinggi
Baca: Kebakaran Hutan Lawu, Beberapa Titik Sulit Terpantau, 2000 Personel Masih Berupaya Padamkan Api
Menurutnya solusi bahan bakar menggunakan wood pellet atau pelet kayu tidak tepat karena diinilai terlalu mahal dan proses perapian tidak stabil.
Selain itu mereka juga harus mengganti mesin ketel senilai puluhan juta rupiah.
"Sebenarnya memang lebih enak pakai kayu bakar."
"Tapi mesin ketel harus diganti."
"Harga ketel ada yang Rp 65 juta, Rp 80 juta, tergantung kualitas."
"Bahkan ada yang sampai Rp 200 juta," ujar dia.
Namun jika memang harus berganti bahan bakar maka dia meminta bantuan berupa mesin ketel sebagai alat produksi berbahan bakar kayu.
Hal senada juga dikatakan Agus Suyanto, pengusaha tahu yang lain.
Menurutnya, bahan bakar pengganti tidak sesuai dengan alat produksi.
"Kurang enak ya kalau pakai itu (pelet kayu). Cost-nya juga mahal," tutur dia.
Menarik atensi dunia internasional
Dilansir dari pemberitaan Kompas.com, 17 November 2019, sebuah artikel dari New York Times mengabarkan ada bahaya pada produk tahu dan telur ayam yang diproduksi di Desa Tropodo dan Desa Bangun, Jawa Timur.
Organisasi non-profit, International Pollutans Elimination Network (IPEN) menemukan adanya kandungan polutan berbahaya di telur ayam yang diproduksi di Desa Bangun.
Polutan tersebut bisa menyebabkan penyakit kanker, parkinson, hingga cacat saat lahir.
Temuan tersebut dirilis dalam laporan berjudul Plastic Waste Poisons Indonesia's Food Chain atau Sampah Plastik Meracuni Rantai Makanan Indonesia.
Baca: Jadi Orang Penting Pemerintahan, Wishnutama Akui Tak Ada Perubahan: Anak Masih Naik Kendaraan Umum
Baca: Ingat Hani Saksi Kematian sekaligus Sahabat Mirna yang Tewas Diracun Sianida? Begini Kondisinya Kini
Baca: Lagi, Anggota Kodim 0707/Wonosobo Nyinyir soal Wiranto, Suami Diancam Sanksi: Tulis Pisau Beracun
Dalam laporan tersebut dikatakan bahwa Desa Tropodo dan Desa Bangun setiap hari menerima 50 ton plastik berkualitas rendah dari sampah plastik yang dimpor Indonesia.
Di Desa Tropodo disebutkan bahwa sampah plastik digunakan untuk bahan bakar pembuatan tahu dan di Desa Bangun sampah plastik ada yang ditimbun dan dibakar di area terbuka.
Akibatnya telur dan ayam di dua desa tersebut tersebut tercemar oleh limbah plastik yang dibakar.
Ada lima besar negara uang mengespor sampah palstik ke Indonesia pada tahun 2018 yakni Australia, Jerman, Kepulauan Marshall, Belanda, serta AS.
Timbunan sampah plastik juga ditambah dengan produksi sampah palstik dalam negeri, yakni 9 ton plastik setuap tahun.
"Sampah plastik yang tidak diinginkan lalu dibeli oleh para broker, pedaur ulang kecil, atau 'disumbangkan’ kepada komunitas sebagai bagian dari program pengembangan komunitas dari pabrik kertas," tulis IPEN.
Sampah-sampah plastik berkualitas rendah itu kemudian berakhir di penimbunan terbuka atau open dumps, pabrik tahu, pabrik kapur, atau tempat-tempat di mana masyarakat membakar plastik sebagai bahan bakar.
Baca: Kenali Jenis Penyakit dan Cara Menjaga Kesehatan di Musim Hujan
Baca: Diduga Meninggal Karena Penyakit Jantung, Kenali Gejala dan Faktor Penyakit yang Diidap Cecep Reza
Baca: Penelitian Terbaru, Rokok Vape dengan Cepat Tingkatkan Risiko Penyakit Jantung hanya Dalam 1 Bulan
Menanggapi hal itu Bupati Sidoarjo Saiful llah sudah meminta kepada Pemerintah Provinsi Jawa Timur untuk melarang impor sampah plastik ke Indonesia khususnya di Jawa Timur.
Ia juga tidak ingin pencemaran akibat pembakaran limbah sampah plastik dari pabrik tahu itu semakin meluas dan berdampak terhadap kesehatan, sehingga pengusaha harus menggunakan bahan bakar yang lebih ramah lingkunga.
Apalagi telah ditemukan sampel telur ayam di Malang mengandung racun karena tercemar pembakaran sampah plastik di pabrik tahu di desa tersebut.
Saiful sendiri baru mengetahui penggunaan limbah plastik untuk bahan bahan bakar pembuatan tahu sudah dilakukan selama 20 tahun.
"Ya, 20 tahun kita enggak tahu."
"Tahu-tahu kita ada berita telur mengandung racun, masak kita teruskan."
"Apalagi nanti (pencemaran) sampai (menyebar) ke yang lain, makanan ternak yang lain," kata Saiful.
Baca: Ingin Turunkan Berat Badan dan Hilangkan Racun di Tubuh? Minum Air Saat Perut Kosong
Baca: Sering Dianggap Remeh, Inilah Bahaya Sampah Elektronik
Baca: Disertasi UIN Boleh Hubungan Seks Luar Nikah, MUI:Ini Musibah, Disangka Ilmiah Padahal Tempat Sampah
Menurutnya saat ini semua pihak harus berbenah dan membiasakan diri untuk hidup lebih sehat.
"Sekarang ini kita mulailah untuk membenahi masyarakat kita supaya hidup sehat."
"Ya kita pakai bahan-bahan yang sehat dan ramah lingkungan," ujar Saiful.
Deklarasi anti penggunahan sampah plastik
Selasa (26/11/2019), sebanyak 47 pengusaha tahu di sentra industri Desa Tropodo, Kecamatan Krian, Sidoarjo, Jawa Timur mendeklarasikan "Stop Penggunaan Bahan Bakar Sampah Plastik".
Deklarasi tersebut digelar bersama Pemkab Sidoarjo di Dusun Areng-Areng, Desa Tropodo, Kecamatan Krian, Sidoarjo, Jawa Timur.
Ada enam poin deklarasi yang dibacakan tiga perwakilan pengusaha tahu di Desa Tropodo.
Pertama, para pengusaha menyatakan tidak akan menggunakan bahan bakar sampah plastik pada proses pembuatan tahu. Kedua, para pengusaha akan menggunakan bahan bakar alternatif yang aman dan ramah dari lingkungan.
Ketiga, para pengusaha tidak akan menimbulkan polusi yang berdampak pencemaran lingkungan.
Keempat, para pengusaha menanti segala peraturan dan perundang-undangan yang berlaku.
Kelima, para pengusaha aka menjaga kualitas tahu yang dihasilkan.
Keenam, para pengusaha akan mengurangi emisi gas buang pada proses produksi.
Gufron salah satu pengusaha tahu yang ikut di acara deklarasi berjanji tidak akan lagi menggunakan limbah plastik.
Namun mereka meminta bantuan mesin ketel agar mereka tetap bisa produksi tahu.
"Kayu bakar ini merupakan solusi terbaik karena mudah didapatkan."
"Cuma itu tadi, pemerintah mesti memberi bantuan mesin ketel," ujar dia.
(Tribunnewswiki.com/Kompas.com/Haris/Ghinan Salman/Rosiana Harianti)