Informasi Awal #
TRIBUNNEWSWIKI.COM - Prof Ir R M Sedyatmo lahir di Karanganyar, Jawa Tengah pada 24 Oktober 1909.
Profesor Sedyatmo ialah seorang insinyur Indonesia, sering dijuluki “Si Kancil” karena terkenal banyak akal.
Profesor Sedyatmo menempuh pendidikan di Technische Hogescholl (THS) (sekarang ITB) Bandung.
Seusai menamatkan sekolah di THS pada 1934, Sedyatmo menjadi insinyur perencanaan di berbagai instansi pemerintah.
Baca: Khoirul Anwar
Baca: Warsito Purwo Taruno
Sedyatmo dikenal sebagai penemu “Pondasi Cakar Ayam” pada 1962.
Temuan Sedyatmo awalnya digunakan untuk membuat apron Pelabuhan Udara Angkatan Laut Juanda, Surabaya.
Selain itu juga untuk landasan bandara Polonia, Medan, dan landasan bandara Soekarno-Hatta, Jakarta.
Hasil temuan Profesor Sedyatmo tersebut telah dipatenkan dan dipakai di luar negeri. (1)
Masa Sekolah #
Profesor Sedyatmo menempuh pendidikan di Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO), pendidikan tingkat SMP di Surakarta.
Selama belajar di MULO, Profesor Sedyatmo bergabung dengan kelompok kepanduan (sekarang pramuka).
Kepanduan mengajarkan Profesor Sedyatmo pelatihan jasmani dan rohani.
Termasuk di dalamnya, pembinaan watak, keterampilan, kemanusiaan, kemasyarakatan dan hal penting lain.
Semua hal tersebut ikut andil membentuk watak dan kepribadian Profesor Sedyatmo.
Profesor Sedyatmo mempunyai kemampuan bermain gitar yang mengesankan sehingga memutuskan bergabung dengan kelompok musik.
Sejak kecil Profesor Sedyatmo sangat menyukai karya-karya seni tradisional terutama Gending Jawa dan Wayang.
Profesor Sedyatmo menjadikan Bima dan Gatotkaca sebagai idola.
Kedua tokoh tersebut menumbuhkan sifat keberanian, kegigihan, semangat perjuangan, ketabahan dan kesediaan berkorban.
Bima dan Gatotkaca juga mengajarkan pengabdian, cita–cita, cinta bangsa dan tanah air serta keimanan kepada Tuhan.
Setamat dari MULO, Profesor Sedyatmo melanjutkan pendidikan di Algemene Middel-bare School (AMS).
AMS merupakan pendidikan setingkat SMA di Yogyakarta.
Saat menempuh pendidikan di AMS, Profesor Sedyatmo sering menjadi juara di di bidang olahraga.
Meski demikian, Profesor Sedyatmo tidak selalu sukses mendapat hal yang diinginkan.
Pada tahun 1930 Profesor Sedyatmo gagal mendapatkan beasiswa melanjutkan studi di Technishe Hogeschool de Bandoeng (THS).
Baca: Jembatan Suramadu
Baca: Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas)
Beasiswa tersebut merupakan beasiswa yang ditawarkan pemerintah Belanda untuk para pelajar Indonesia.
Meskipun Profesor Sedyatmo tak lolos seleksi, Profesor Sedyatmo telah belajar ekstra keras. (2)
Masa Kuliah #
Nemun keggaalan Profesor Sedyatmo diikuti nasib baik.
Tanpa sepengetahuan Sedyatmo, seorang guru memberi jaminan pada rektor THS Sedyatmo sesungguhnya mampu meski nilai rata-rata rendah.
Guru tersebut yang pernah beradu pendapat dengan profesor Sedyatmo dan mengatakan bahwa bumi itu bulat
Pernyataan dan jaminan dari seorang guru AMS Yogyakarta ini yang mengantar profesor Sedyatmo masuk THS.
THS yang sekarang dikenal sebagai Institut Teknologi Bandung (ITB).
Hubungan Profesor Sedyatmo dengan para mahasiswa Indonesia lainnya sangat akrab.
Baca: Masjid Menara Kudus
Baca: Menara Tokyo (Tokyo Tower)
Tak hanya belajar, profesor Sedyatmo dan teman-teman kerap terlibat pembicaraan politik, membahas nasib bangsa Indonesia.
Pada 1932, terlihat ada perlakukan yang berbeda antara mahasiswa Indonesia dengan mahasiswa Belanda.
Para Insinyur Indonesia kesulitan mendapat pekerjaan, membuat para insinyur berupaya menciptakan lapangan pekerjaan.
Pekerjaan tersebut di antaranya, seperti biro bangunan, mendirikan sekolah, bekerja di kantor pamong praja dan lainnya.
Setelah empat tahun menempuh pendidikan, Sedyatmo meraih gelar Insinyur pada 1934.
Kemudian Sedyatmo memilih kembali ke Mangkunegaran, bekerja sebagai insinyur perencanaan di berbagai instansi pemerintahan. (2)
Latar Belakang Temuan #
Ketika itu profesor Sedyatmo menjabat sebagai pejabat PLN.
Profesor Sedyatmo harus mendirikan 7 menara listrik tegangan tinggi di daerah rawa-rawa Ancol Jakarta.
Hasilnya, 2 menara berhasil didirikan dengan sistem pondasi konvensional
Sedangkan 5 sisa yang lain masih terbengkelai.
Waktunya yang mendesak, sedangkan sistem pondasi konvensional sulit diterapkan di rawa-rawa tersebut, maka dicarilah sistem baru.
Kemudian profesor Sedyatmo mempunyai ide mendirikan menara di atas pondasi plat beton.
Plat beton ini didukung oleh pipa-pipa beton di bawahnya.
Pipa dan plat itu melekat secara monolit (bersatu), dan mencengkeram tanah lembek secara meyakinkan.
Baca: 20 Bandara Tersibuk di Dunia, Bandara Internasional Soekarno-Hatta Masuk Daftar
Baca: Tinjau Bandara Baru Yogyakarta, Jokowi : Pembanguan Airport Tercepat di Indonesia
Hasil temuan profesor Sedyatmo diberi nama sistem pondasi cakar ayam.
Pondasi cakar ayam cocok untuk mendirikan gedung.
Namun, bagi daerah yang bertanah lembek bisa juga digunakan untuk membuat jalan dan landasan.
Keuntungan lain yaitu sistem itu tidak memerlukan sistem drainase dan sambungan kembang susut.
Meski mendadak dan mendesak, menara tersebut dapat diselesaikan tepat pada waktunya.
Menara itu tetap kokoh berdiri di daerah Ancol yang sekarang sudah menjadi kawasan industri. (3)
Perdebatan Temuan #
Konstruksi profesor Sedyatmo menjadi bahan perdebatan sengit para ahli konstruksi bangunan di Indonesia.
Pasalnya konstruksi profesor Sedyatmo belum didukung sebuah perhitungan ilmiah yang terinci.
Namun, aplikasi konstruksi sudah dilaksanakan di banyak tempat, antara lain apron Bandar Udara Juanda dan landasan pacu bandar Udara Saekarno-Hatta.
Selain itu konstruksi bisa jadi pondasi jalan tol Jakarta Cengkareng.
Penerapan lainnya di antaranya pada pondasi gedung Bank Indonesia di Pekanbaru, kolam renang di Surabaya dan Samarinda. (4)
(TribunnewsWiki.com/Nabila Ikrima)
| Nama Lengkap | Sedyatmo |
|---|
| Lahir | 24 Oktober 1909 |
|---|
| Nama Ayah | Raden Mas Panji Hatmo Hudoyo |
|---|
| Nama Ibu | R. Ayu. Sarsani Mangunkusumo |
|---|
| Nama Kecil | Raden Mas Sarwant |
|---|
Sumber :
1. www.biografiku.com
2. alsi-itb.org
3. medium.com
4. www.hariansejarah.id