"Mereka mengambil putra pertama saya selama satu bulan karena saya tak mau tidur dengan penculik saya," kata Hayfa.
"Mereka mengikat tangan dan kaki saya, menutup mata saya dan menyumbat mulut saya. Mereka memukul saya dan membuat saya terkunci di sebuah ruangan."
Agar anak-anaknya selamat, Hayfa mengaku rela tidur bersama penculiknya.
"Saya membiarkan mereka tidur bersama saya supaya saya bisa mendapatkan anak saya kembali."
Hari kebebasan
Pada suatu waktu mertua (orangtua dari suaminya) membayar seorang penyelundup untuk membeli dirinya.
Pembelian dirinya adalah pembelian kebebasannya.
Akhirnya, Hayfa dan putra-putrinya berhasil melarikan diri dari kamp ISIS.
Mereka (Hayfa dan anak-anaknya) tiba di Toowomba, Queensland, Australia, dengan menggunakan visa kemanusiaan pada tahun lalu (2018).
Komunitas Yazidi di Australia telah mencapai lebih dari 800 orang.
Ia bercerita bahwa di Australia, dua anaknya dapat belajar di taman kanak-kanak dan sekolah setempat.
Sementara, Hayfa belajar bahasa Inggris di TAFE (semacam sekolah kejuruan)
"Saya sangat nyaman di sini bersama anak-anak saya," kata Hayfa.
"Yang paling penting adalah kehidupan anak-anak saya, bukan hidup saya. Dan tentu saja jika suami saya kembali, hidup saya akan benar-benar indah."
Tanggapan Australian Red Cross
Terkait dengan hilangnya suami Hayfa, seorang petugas Australian Red Cross (Palang Merah Australia), Sue Callender menerangkan bahwa menemukan Ghazi (suami Hayfa) kemungkinannya adalah kecil sekali.
Sue Callender adalah bagian dari Tim Penelusuran lembaga kemanusiaan yang bekerja untuk menghubungkan kembali orang-orang yang telah dipisahkan oleh konflik, migrasi atau bencana.
"Ghazi hilang di sebuah daerah bernama Kocho dan kami tahu bahwa banyak Yazidi ditangkap di Kocho dan juga banyak yang dieksekusi dengan mengerikan," kata Sue
"Kami hanya berharap, demi Hayfa, dia (Ghazi) dapat ditemukan hidup-hidup"
"Tapi itu tak mungkin terjadi."