Pejabat di sana pun mengonfirmasi penghancuran Kampung Myar Zin.
Sementara itu, Myo Thu Gyi, sebuah perkampungan yang dulunya berpenduduk lebih dari 8.000 warga Rohingya kini sudah tidak ada lagi.
Di sana, sekarang telah berdiri kompleks pemerintahan dan kepolisian yang luas, bahkan pepohonannya sudah tidak ada.
Kondisi tak jauh berbeda dengan Inn Din, sebuah perkampungan yang dulu tiga seperempat populasinya adalah Muslim, sedangkan sisanya pemeluk Buddha.
Kini, tidak ada lagi jejak warga muslim yang tersisa di desa yang juga terkenal akibat pembunuhan terhadap 10 pria muslim yang ditangkap pada September 2017.
Saat ini, tidak ada lagi rumah warga Rohingya di Inn Din, pepohonan telah hilang, diganti dengan pagar kawat yang mengelilingi barak-barak baru Polisi Penjaga Perbatasan yang luas.
Bahkan warga Budha Rakhine mengatakan bahwa mereka tidak akan pernah lagi mau hidup berdampingan dengan warga muslim.
Baca: Hari Ini Dalam Sejarah: 10 September Peringatan Hari Pencegahan Bunuh Diri Sedunia
Upaya pemerintah setengah hati
Penghancuran etnis Rohingya yang dilakukan secara meluas dan berkelanjutan jauh setelah kampanye kekerasan militer tahun 2017 telah berakhir.
Meski begitu, hanya sedikit pengungsi yang dapat kembali ke kehidupan lama dan komunitas mereka.
Jika melihat upaya pemerintah setempat, satu-satunya persiapan yang terlihat untuk menerima kembali para pengungsi dalam jumlah besar hanya bangunan-bangunan kamp transit yang bobrok seperti Hla Poe Kaung dan kamp relokasi seperti Kyein Chaung.
Mungkin hanya sedikit pengungsi bisa mengatasi trauma yang mereka rasakan dua tahun lalu untuk masa depan yang seperti itu.
Hal ini memunculkan pertanyaan terkait ketulusan komitmen masyarakat Myanmar untuk menerima mereka kembali.
Seorang pemuda Rohingya yang telantar dalam perjalanan kembali ke Yangon mengaku telah terjebak di kamp penampungan bersama keluarganya selama tujuh tahun setelah terusir dari rumahnya sendiri di Sittwe.
Dia adalah satu dari 130.000 warga Rohingya yang terusir dari kampung mereka akibat pecahnya kekerasan pada 2012.
Pemuda tersebut tidak dapat berkuliah atau bepergian keluar kamp tanpa izin.
Sarannya bagi para pengungsi di Bangladesh yaitu jangan mengambil risiko untuk kembali dan mengatakan bahwa kondisi mereka juga serba terbatas pada kamp-kamp yang dijaga.
Baca: Jokowi Janji Tahun Depan Istana Presiden RI akan Dibangun di Papua
Respons pemerintah setempat
Dilaporkan BBC, secara resmi, pemerintah Myanmar berkomitmen untuk menerima kembali para pengungsi secara bertahap, dengan bekerja sama dengan Bangladesh.
Meski demikian, para menteri masih menyebut warga Rohingya sebagai Bengali, yang dikatakan tiba di Myanmar dalam gelombang imigrasi ilegal selama 70 tahun terakhir, meski hanya ada sedikit bukti yang menguatkan peristiwa tersebut.