Khusus mengenai dakwaan tindak terorisme yang dijatuhkan terhadap Brenton Tarrant, akan menjadi kasus pertama di Selandia Baru.
Menurut beberapa pakar hukum diperkirakan persidangannya akan berjalan rumit.
Baca: Teroris Penembak Masjid Selandia Baru Kirim Surat dari Balik Penjara, Isinya Bernada Kebencian
Tanggapan Perdana Menteri Selandia Baru
Sementara itu, Jacinda Ardern selaku Perdana Menteri Selandia baru menyatakan pihaknya siap membantu para wanita Muslim yang tertarik dengan dunia politik di Selandia Baru.
Hal itu dia sampaikan saat menghadiri konferensi Dewan Wanita Islam di Auckland pada akhir Agustus lalu.
Ditanya oleh peserta konferensi mengenai peluang bagi umat Islam untuk terlibat dalam peran kepemimpinan, PM Ardern menyatakan ingin membuat semacam "kemah politik".
"Saya ingin kita bisa membuat forum dimana kita bisa menghabiskan waktu bersama, para politisi dan kaum wanita bersama mereka yang tertarik dalam peran kepemimpinan," kata Ardern yang dikutip ABC dari media Radio New Zealand.
Merespon persoalan rasisme dan diskriminasi yang juga mengemuka dalam konferensi, PM Ardern mengaku pemerintah perlu memperbaiki kurikulum dan membuat tempat lebih memiliki latar belakang yang beragam.
"Bias yang tak disadari harus kita tangani dalam lapangan profesional termasuk mereka yang banyak berinteraksi dengan masyarakat, yaitu guru, pekerja kesehatan, dan PNS," kata Ardern.
Weaam Bassiouni, seorang peserta konferensi menyatakan masyarakat pada umumnya ingin segera dapat menatap masa depan setelah peristiwa serangan teror 15 Maret 2019.
Teror 15 Maret 2019 di Selandia Baru
Sebelumnya, Brenton Tarrant merekam dan membagikan secara live penembakan yang dilakukannnya di masjid Al Noor, Christchurch, Selandia Baru.
Secara membabi buta, Tarrant menembaki puluhan orang yang sedang salat Jumat di Masjid Al Noor dan masjid lainnya di Linwood Avenue.
Alasan Tarrant untuk melakukan serangan brutal itu adalah untuk memusnahkan imigran yang dianggapnya penjajah karena 'merebut' tanah yang awalnya ditempati ras kulit putih.
"Menunjukkan kepada penjajah bahwa tanah kami (orang kulit putih) tidak akan pernah menjadi tanah mereka, tanah air kita adalah milik kita sendiri dan bahwa, selama orang kulit putih masih hidup, mereka tidak akan pernah menaklukkan tanah kami dan mengganti orang-orang kami ” tulisnya dalam sebuah manifesto yang diunggahnya di akun Twitter, seperti dikutip Tribunnews.com dari news.com.au.
Akun pria asal Grafton Australia ini kini telah dihapus oleh pihak Twitter.
Tarrant mengungkapkan dia telah merencanakan serangan tersebut hingga dua tahun, lalu memutuskan di Christchurch tiga bulan lalu.
Dia mengatakan Selandia Baru bukan pilihan pertamanya untuk menyerang.
Tapi menjelaskan Selandia Baru sebagai "target yang kaya akan suasana yang sama seperti di tempat mana pun di Barat".
"Penyerangan di Selandia Baru akan memusatkan perhatian pada kebenaran serangan terhadap peradaban kami, tidak ada tempat di dunia ini yang aman, para penyerbu berada di semua tanah kami, bahkan di daerah-daerah terpencil di dunia dan tidak ada tempat yang aman dan bebas dari imigrasi," tulis Tarrant dalam menifesto itu.