Syamsul Arifin, ASN Pemkot Surabaya Tersangka Ujaran Rasis ke Mahasiswa Papua Resmi Ditahan

Syamsul Arifin, seorang ASN di Pemkot Surabaya yang jadi tersangka ujaran rasis terhadap mahasiswa Papua di Surabaya akhirnya resmi ditahan.


zoom-inlihat foto
syamsul-arifin-asn-pemkot-surabaya-tersangka-ujaran-rasis.jpg
Kompas.com/istimewa
Syamsul Arifin, tersangka ujaran rasial terhadap mahasiswa Papua di asrama Jalan Kalasan, Surabaya, Jawa Timur.


Syamsul Arifin, seorang ASN di Pemkot Surabaya yang jadi tersangka ujaran rasis terhadap mahasiswa Papua di Surabaya akhirnya resmi ditahan.

TRIBUNNEWSWIKI.COM – Syamsul Arifin, seorang Aparatur Sipil Negara (ASN) Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya yang jadi tersangka ujaran rasis terhadap mahasiswa Papua di Surabaya resmi ditahan.

Penetapan Syamsul sebagai tersangka itu dilakukan Polda Jatim setelah mengantongi bukti berupa video yang menampilkan tindakan Syamsul.

Dalam video tersebut, tampak Syamsul meneriakkan ujaran rasisme terhadap mahasiswa Papua saat terjadi insiden pengepungan Asrama Papua di Surabaya, 16-17 Agustus 2019.

Selain Syamsul, Tri Susanti yang telah ditetapkan lebih dulu sebagai tersangka ujaran kebencian dan penyebaran berita bohong juga resmi ditahan.

Dikutip dari Kompas.com, hal itu disampaikan oleh Wakil Kapolda Jatim, Brigjen Pol Toni Harmanto.

Ia mengatakan penahanan terhadap kedua tersangka resmi dilakukan sejak Selasa (3/9/2019).

“Tri susanti termasuk juga tersangka lain yakni Syamsul Arifin (SA) kita pastikan untuk melakukan penahanan mulai dengan hari ini. Penahanan pertama di 20 hari pertama,” kata Toni, Selasa (3/9/2019).

Baca: Selain Romelu Lukaku, Ini Deretan 7 Pemain yang Pernah Jadi Korban Rasisme di Stadion

Baca: Deretan Fakta Kerusuhan Papua, Ada 46 Tersangka, Benny Wenda Disebut Menghasut, PLN Rugi 1,9 Miliar

Adapun alasan penahanan itu menurut Toni di antaranya untuk mempermudah penyidikan.

Selain itu, kedua tersangka juga berpotensi mengulangi tindakan melawan hukum serta dikhawatirkan bisa menghilangkan barang bukti.

“Tentu ada tiga di hukum acara pidana. Pertama kekhawatiran akan mengulangi tindak pidana. Kedua kekhawatiran untuk menghilangkan barang bukti, dan ketiga berkaitan dengan menghambat proses penyidikan,” ujar Toni.











KOMENTAR

ARTIKEL TERKINI

Artikel POPULER

© 2020 tribunnnewswiki.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved