17 AGUSTUS - Serial Pahlawan Nasional - Ranggong Daeng Romo

Ranggong Daeng Romo adalah pejuang kemerdekaan yang berasal dari Sulawesi Selatan. Ia memimpin para bandit/perampok di Sulawesi Selatan dan mengusir serdadu Belanda di Indonesia. Berkat jasa-jasanya, Ranggong Daeng Romo dianugerahi gelar pahlawan nasional pada 2001


zoom-inlihat foto
ranggong-daeng-romo-2.jpg
Kolase foto (Pahlawan Center.com)
Ranggong Daeng Romo, (1915-1947)

Ranggong Daeng Romo adalah pejuang kemerdekaan yang berasal dari Sulawesi Selatan. Ia memimpin para bandit/perampok di Sulawesi Selatan dan mengusir serdadu Belanda di Indonesia. Berkat jasa-jasanya, Ranggong Daeng Romo dianugerahi gelar pahlawan nasional pada 2001




  • Informasi Awal #


TRIBUNNEWSWIKI.COM - Ranggong Daeng Romo adalah pejuang kemerdekaan yang berasal dari Sulawesi Selatan.

Ranggong Daeng Romo bersama pasukannya mengangkat senjata melawan serdadu Belanda di Indonesia untuk mempertahankan kemerdekaan.

Pasukan dari Ranggong Daeng Romo terdiri dari berbagai macam pekerjaan, salah satu yang paling menonjol adalah para bandit.

Bersama dengan para bandit-bandit ini, Ranggong Daeng Romo membentuk aneka badan kelaskaran.

Tercatat Ranggong Daeng Romo bersama Laskar Pemberontakan Rakyat Indonesia Sulawesi Selatan (LAPRIS) melakukan serangan terhadap posko-posko serdadu militer NICA dan Sekutu di daerah Sulawesi Selatan.

Generasi-generasi pejuang di Sulawesi Selatan ini muncul setiap waktu dan terdiri dari berbagai kepentingan mulai dari nasionalisme negara hingga kelompok perampok/bandit.

Beberaoa tokoh-tokoh terkemuka mulai dari era Sumange Rukka, I Tolok Daeng Magassing, hingga Ranggong Daeng Romo semuanya bergerak pada masa revolusi kemerdekaan.

Ranggong Daeng Romo lahir di Kampung Bone-Bone, Polongbangkeng, Sulawesi Selatan, pada tahun 1915.

Berkat jasa-jasanya, Ranggong Daeng Romo dianugerahi Gelar Pahlawan Nasional dengan SK Presiden No. 109/TK/2001 tanggal 3 November 2001. [1] [4]

Ranggong Daeng Romo 3
Pemkab Takalar melakukan ziarah ke makam pahlawan nasioanal, Ranggong Daeng Romo di Taman Makam Pahlawan Polongbangkeng, Senin (2/3/2015). (https://makassar.tribunnews.com)

  • Kehidupan Pribadi #


Ranggong Daeng Romo menempuh pendidikan di Hollandsch Inlandsch School (HIS).

Selain itu, ia juga menempuh pendidikan di Taman Siswa di Makassar.

Ranggong Daeng Romo juga pernah menimba ilmu agama di salah satu pesantren di Cikoang.

Setelah selesai menamatkan pendidikannya, Ranggong Daeng Romo bekerja sebagai pegawai sebuah perusahaan pembelian padi milik pemerintah militer Jepang.

Saat itu, pemerintah militer Jepang mulai masuk dan menduduki daerah Sulawesi. [2]

Baca: 17 AGUSTUS - Seri Pahlawan Nasional: Kusumah Atmaja

Baca: 17 AGUSTUS - Serial Pahlawan Nasional: Jenderal TNI GPH Djatikusumo

Baca: 17 AGUSTUS - Serial Pahlawan Nasional: Iwa Koesoemasoemantri

  • Masa Peperangan #


Pada September 1945, Ranggong Daeng Romo tampaknya memahami situasi, dalam perebutan kemerdekaan.

Ranggong Daeng Romo kemudian mengumpulkan massa, salah satu yang paling menonjol adalah dari kelompok mantan algojo yang berasal dari kesatuan-kesatuan bandit, sebagai kekuatan garis depan.

Kelompok ini kemudian melakukan perlawanan kepada Belanda, menandai mata-mata yang akan dibunuh.

Sementara untuk kebutuhan logistik pasukan, bersama pasukannya Ranggong Daeng Romo melakukan perampokan-perampokan bangsawan kaya.

Dikutip dari Historia.id dalam artikel Eko Rusdianto, "Sejarah Bandit Sulawesi Selatan", jika seseorang memiliki 10 ekor sapi, maka dicuri sebanyak 5 ekor atau setengah dari harta.

Memulai masa peperangan, Ranggong Daeng Romo membentuk organisasi perang bernama Angkatan Muda Bajeng pada tanggal 16 Oktober 1945.

Tujuan dibentuknya organisasi tersebut adalah untuk mengibarkan jiwa dan semangat perjuangan menentang kembalinya militer Belanda dan Sekutu di Indonesia.

Pada tanggal 5 Desember 1945, Ranggong Daeng Romo diangkat menjadi Komandan Barisan Gerakan Muda Bajeng.

Kegiatan yang ia lakukan tidak hanya pada bidang kemiliteran tetapi juga dibidang pemerintahan, dalam usaha mempertahankan kemerdekaan.

Gerakan Muda Bajeng beberapa kali mengalami bentrokan senjata dengan serdadu Belanda.

Ranggong Daeng Romo tercatat pernah menyerang tempat serdadu Belanda pada tanggal 21 Februari 1946 dengan kekuatan sekitar 100 orang  di Pappu Takalar.

Sehari setelahnya tanggal 22 Februari 1946 dengan kekuatan sekitar 300 orang, Ranggong Daeng Romo memerintahkan pasukannya untuk menyerang serdadu-serdadu luar yang ingin mendirikan kubu pertahanan di Polleke sehingga mengakibatkan pihak serdadu luar meninggalkan tempat tersebut.

Beberapa serangan Ranggong Daeng Romo baik yang ia lakukan sendiri maupun instruksi penyarangan terhadap posko-posko serdadu militer Belanda dan Sekutu terjadi sepanjang tahun 1946.

Pada 1 Maret 1946, Ranggong Daeng Romo memimpin langsung penyerangan dan pertempuran dengan patroli Belanda atau Nederlandsch Indie Civil Administratie (NICA) sehingga menewaskan 20 orang.

Beberapa hari setelahnya, tepatnya tanggal 7 Maret 1946 Ranggong Daeng Romo memerintahkan pasukannya melakukan penyerangan terhadap kubu pertahanan serdadu NICA di Pappu Takalar.

Pada 13 Maret 1946, Ranggong Daeng Romo melakukan instruksi penyerangan terhadap kubu pertahanan serdadu Belanda di Botto Lumpang walaupun hanya dengan kekuatan 50 orang, pertempuran dapat berlangsung selama 2 hari.

Pada yanggal 2 April 1946 terjadi perombakan dalam tubuh Gerakan Muda Bajeng yang kemudian diubah menjadi Laskar Lipan Bajeng.

Disini, Ranggong Daeng Romo diangkat menjadi pimpinan tertinggi dari organisasi Laskar Lipan Bajeng.

Daerah perjuangan Laskar Lipan Bajeng ikut semakin bertambah luas menjadi wilayah Gowa.

Selanjutnya pada tanggal 27 April 1946, Ranggong Daeng Romo memberi instruksi penyerangan terhadap pos serdadu Belanda di Malolo.

Peristiwa tersebut menewaskan pasukan serdadu Belanda sebanyak 5 orang.

Tidak berhenti sampai disitu, tercatat pula pada tanggal 21 Juni 1946, Ranggong Daeng Romo memerintahkan penyerangan terhadap musuh di daerah Tembusen.

Berkat peristiwa ini, 7 orang serdadu NICA tewas sedangkan 1 orang gugur dari anggota Ranggong Daeng Romo akibat penyerangan tersebut.

Memasuki pertengahan bulan Juli 1946, kekuatan pasukan Ranggong Daeng Romo semakin bertambah karena mendapat tambahan pasukan dari gabungan laskar-laskar yang sebelumnya terpisah di hutan-hutan.

Gabungan kelasakaran tersebut kemudian dilebur jadi satu dalam pasukan Ranggong Daeng Romo, dan diberi nama Laskar Pemberontakan Rakyat Indonesia Sulawesi (LAPRIS) yang dibentuk pada tanggal 17 Juli 1946.

Disni Ranggong Daeng Romo adalah salah satu panglima LAPRIS.

Dengan terbentuknya LAPRIS, maka langkah pertama yang diambil oleh Ranggong Daeng Romo adalah melakukan penyempurnaan organisasi kekuatan bersenjata dengan membentuk pasukan tempur khusus yang mampu bergerak cepat dalam usaha mengacaukan setiap langkah NICA, terutama untuk operasi militer secara besar-besaran.

Tanggal 8 Agustus 1946 ia berhasil mempertahankan markas besar LAPRIS di Rannaya Palembangkung. [3]

Tercatat pada Desember 1945 hingga Februari 1947, Lapris melakukan aksi melawan Belanda mencapai ratusan kali.

Setelah pengakuan kedaulatan Indonesia, terdapat persoalan baru yang muncul.

Pada tahun 1950, ketika TNI merasionalisasi angkatan perang, dimana beberapa milisi rakyat dijadikan tentara.

Namun sialnya sebagian besar anggota Lapris, yang tak memiliki sekolah formal dan stigma sebagai bandit tak dapat diakomodir.

Milisi garis depan yang pernah dipimpin oleh Ranggong Daeng Romo akhirnya terpecah.

Terdapat orang-orang yang menjadi TNI, kepala kampung, gerilyawan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII), masyarakat biasa, dan kembali menjadi perampok atau bandit. [4]

  • Wafat & Penghargaan #


Pada Tanggal 28 Februari 1947 pasukan Belanda berhasil mengobrak-ngabrik kedudukan pasukan LAPRIS di Lengger dan pada pertempuran tersebut Ranggong Daeng Romo tewas dalam perlawanan untuk mempertahankan daerah dari serangan.

Jenazahnya dimakamkan di daerah Lengger – Takalar.

Untuk menghormati jasa-jasanya, pada tanggal 12 Agustus 1949, Ranggong Daeng Romo diberikan Tanda Kehormatan Bintang Gerilya dengan pangkat Letnan Satu.

Ranggong Daeng Romo juga dianugerahi Gelar Pahlawan Nasional dengan SK Presiden No. 109/TK/2001 tanggal 3 November 2001. [5]

Baca: 17 AGUSTUS - Serial Pahlawan Nasional: I Gusti Ngurah Made Agung

Baca: 17 Agustus - Seri Pahlawan Nasional: Sukardjo Wirjopranoto

Baca: 17 AGUSTUS - Seri Pahlawan Nasional: Teuku Muhammad Hasan

Baca: 17 AGUSTUS - Serial Pahlawan Nasional - Nani Wartabone

(TRIBUNNEWSWIKI.COM/Dinar Fitra Maghiszha)

JANGAN LUPA SUBSCRIBE CHANNEL YOUTUBE TRIBUNNEWSWIKI.COM



Informasi Detail
Nama Ranggong Daeng Romo
Lahir Kampung Bone-Bone, Polongbangkeng, Sulawesi Selatan, 1915
Wafat Markas Besar LAPRIS, Langgese, 27 Februari 1947
Riwayat Pendidikan
Hollandsch Inlandsch School (HIS) di Makassar
Taman Siswa di Makassar
Pesantren di Cikoang
Keluarga
Ayah Gallarang Moncokomba Mangngulabba Daeng Makkio
Ibu Bati Daeng Jimo
Riwayat Pekerjaan & Organisasi
Pegawai -Perusahaan Pembelian Padi
Komandan - Barisan Muda Bajeng
Panglima - Laskar Pemberontakan Rakyat Indonesia Sulawesi (LAPRIS)


Sumber :


1. merahputih.com
2. merahputih.com
3. pahlawancenter.com
4. historia.id
5. merahputih.com


Ikuti kami di
KOMENTAR

ARTIKEL TERKINI

Artikel POPULER

© 2026 tribunnnewswiki.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved