Dikutip dari phinemo, ada beberapa gejala yang dialami korban hipotermia.
Hal ini penting untuk diketahui supaya pertolongan terhadap korban hipotermia dapat diberikan secepat mungkin sehingga dapat mencegah kemungkinan yang lebih buruk.
Gejala-gejala tersebut diantaranya:
- Hipotermia biasanya diawali dengan kedinginan biasa, badan yang menggigil, gemetar menahan dingin, kadang hingga gigi gemeretak saling beradu ketika tidak kuat menahan dingin.
- Tubuh yang basah baik karena air hujan atau sisa keringat yang menempel pada baju akan membuat serangan hipotermia semakin cepat.
- Jika ada angina yang bertiup kencang, biasanya pendaki akan cepat kehilangan panas tubuh, sehingga potensi terkena hipotermia akan meningkat, terlebih jika pendaki menggunakan pakaian basah.
- Hipotermia menyerang secara perlahan, hal ini menyebaban calon korban tidak menyadari bahwa sebenarnya dia akan terserang hipotermia.
- Hipotermia menyerang saraf dan bergerak dengan pelan, karena itu, korban tidak merasa kalai dia mengalami hipotermia. Sejak korban tidak bisa menahan dingin sampai malah merasa kepanasan di tengah udara yang semakin dingin, korban biasanya tidak sadar kalau dia terkena hipotermia.
- Hipotermia bisa membuat korban pingsan hingga berhalusinasi sehingga bisa membahayakan keselamatan si pendaki. Hal ini karena halusinasi bisa menyebabkan tindakan aneh, seperti berlari-lari, membuka pakaian karena kepanasan, serta tingkah-tingkah lain di luar kebiasaannya.
Pencegahan
Masih dari phinemo, ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mencegah terjadinya hipotermia.
Pertama bisa dilakukan dengan cara melakukan pendakian pada siang hari.
Pada siang hari, suhu di gunung lebih aman untuk tubuh, meski panas namun tetap lebih baik daripada dingin pada malam hari.
Sinar matahari juga akan dengan mudah membantu menghilangkan keringat yang menempel dari baju para pendaki.
Selain itu, mendaki pada siang hari juga dapat menghindarkan pendaki dari tersesat karena tidak melihat tanda ke arah puncak.
Cara kedua yang tidak kalah pentingnya adalah dengan menggunakan peralatan pendakian yang sesuai prosedur pendakian.
Peralatan wajib untuk mencegah hipotermia diantaranya jaket polar, jaket anti angin, penutup kepala, sarung tangan, kaos kaki tebal, sepatu, celana yang hangat, kuat, dan terbuat dari bahan yang cepat kering.
Selain itu, sleeping bag dan tenda juga menjadi perlengkapan yang wajib untuk dipersiapkan.
Tenda yang dipakai juga sebisa mungkin yang double layer, bukan tenda single layer yang biasa dipakai untuk camping di pantai.
Hindari juga kontak langsung dengan air.
Misalnya ketika hujan atau melintasi sungai, sebisa mungkin agar tidak terkena air secara berlebihan.
Gunakan mantel saat hujan, sedangkan ketika melintasi sungai usahakan mencari bebatuan yang tidak tergenang air sebagai pijakan.
Air yang menempel pada tubuh akan menyerap panas dari tubuh.
Jangan memakai pakaian berbahan jin.
Saat ini semakin banyak pendaki modis yang memakai celana atau jaket jin ketika mendaki.
Hal ini adalah kesalahan besar, sebab jin adalah bahan yang berat, mudah menyerap air, dan susah dingin.