Ada beberapa tata cara yang dilakukan saat wuquf.
Tata cara wukuf, yaitu dimulai dengan mendengarkan khotbah wuquf, dilakukan dengan shalat jama’ taqdim, dapat dilakukan berjamaah atau sendirian.
Saat wukuf juga disarankan memperbanyak istighfar,zikir, dan doa.
Ali bin Abi Thalib ra, ia berkata: bahwa Rasulallah saw berwukuf lalu berangkat (meninggalkan Arafah) ketika matahari terbenam.
(HR SHAHIH AT-TIRMIDZI)
Semua ibadah harus dimulai dari niat.
Tetapi Wukuf ini lebih mendalam dari sekedar niat.
Karena ia berisi perenungan, pemikiran, pemahaman dan komitmen terhadap “niat”.
Bukan hanya untuk keabsahan ritual haji yang sedang kita jalani, melainkan lebih jauh dari itu, untuk menjalani realitas hidup kita, sepulang dari tanah suci.
Di tempat wukuf, Allah menyiapkan situasi dan kondisi yang dapat mengantar pikiran dan jiwa agar lebih terarah kepada pencapaian kesempurnaan kita sebagai makhluk dwi dimensi.
Makhluk yang diciptakan Allah dari debu tanah dan Ruh Ilahi, tapi bukan untuk menetap di dunia, melainkan membangunnya guna mengekalkan kita di akhirat.
Rasul saw. berpesan: “Ada saat–saat dalam perjalanan masa ini dimana Allah menganugerahkan aneka anugerah, maka berusahalah menemukan saat-saat itu.”
Nah, yang tidak berada di sana, cobalah “ber wukuf “, yakni menghentikan walau sejenak hiruk-pikuk kesibukan.
Tenangkan jiwa, merenunglah.
Insya Allah ketika itu Anda akan mendengar suara yang mengantar Anda merasakan kehadiran Allah swt. dan dorongan untuk berinteraksi dengan-Nya.
dari Abu Hurairah ra Rasulallah saw bersabda: “Sebaik-baik doa adalah pada hari Arafah”.
(HR AT-TIRMIDZI)
Arafah di sebut dalam Al-Qu’ran dalam bentuk plural ”Arafat” sebagaimana tertera dalam surat al-Baqarah ayat no. 198,
لَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَنْ تَبْتَغُوا فَضْلًا مِنْ رَبِّكُمْ ۚ فَإِذَا أَفَضْتُمْ مِنْ عَرَفَاتٍ فَاذْكُرُوا اللَّهَ عِنْدَ الْمَشْعَرِ الْحَرَامِ ۖ وَاذْكُرُوهُ كَمَا هَدَاكُمْ وَإِنْ كُنْتُمْ مِنْ قَبْلِهِ لَمِنَ الضَّالِّينَ
Artinya: ”Tidak ada dosa bagimu untuk mencari karunia (rezeki hasil perniagaan) dari Tuhanmu. Maka apabila kamu telah bertolak dari ‘Arafat, berdzikirlah kepada Allah di Masy’arilharam. Dan berdzikirlah (dengan menyebut) Allah sebagaimana yang ditunjukkan-Nya kepadamu; dan sesungguhnya kamu sebelum itu benar-benar termasuk orang-orang yang sesat”