Ofra menambahkan, pemerintah juga mulai merancang program budidaya pala Papua.
Menurutnya, ini langkah yang baik.
Hanya saja, ia berharap, budidaya ini tetap menggunakan bibit pala lonjong khas papua, sehingga biodiversitasnya tidak hilang.
Bagian buah pala yang punya nilai ekonomi tertinggi adalah bagian biji dan fuli yang berwarna merah.
Sementara itu, daging buahnya masih jarang dimanfaatkan.
Padahal, ketika telah menjadi budidaya, daging buah pala jadi berlimpah.
"Karena itu, Yayasan Inobu juga memikirkan tentang value creation dari pala, sehingga nilai jualnya jadi lebih tinggi. Salah satunya adalah membuat minyak atsiri," kata Ofra.
Baca: Biji Selasih
Menurut Nanny, dulu daging buah pala hanya kerap dijadikan manisan basah dan kering.
Sekarang produk turunannya sudah cukup beragam, seperti selai, sirop, permen, aromaterapi, dan balsem.
Semuanya dikerjakan langsung di Fakfak, karena masyarakat Fakfak sudah mendapatkan berbagai pelatihan untuk memproduksi sendiri.
"Harapannya, di masa mendatang pala Papua bisa dijual dalam berbagai produk turunan yang memberikan manfaat bagi orang di luar Papua, bahkan sampai ke seluruh dunia. Karena, pala sudah memberikan manfaat bagi saya dan masyarakat Fakfak. Produksi produk turunan ini juga diharapkan tidak merusak hutan Papua, namun menjadi simbol bahwa kita perlu menjaga hutan beserta semua titipan yang diberikan nenek moyang kepada kita," kata Nanny.
(tribunnewswiki.com/Rakli Almughni)
Baca lebih lengkap seputar berita terkait lainnay di sini