6 Fakta Pala Papua dalam Kehidupan Masyarakat Fakfak

Penulis: Rakli Almughni
Editor: Putradi Pamungkas
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Pala Papua

Nanny bercerita, pohon pala merupakan tanaman yang tidak menyusahkan, karena bisa tumbuh subur dan berbuah banyak tanpa perlu pupuk dan perawatan khusus.

Menurutnya, jenis pohon, kontur tanah, lingkungan, dan iklim memang saling mendukung dalam pertumbuhan pohon pala.

Usianya juga bisa mencapai usia ratusan tahun dan terus berbuah, sehingga pohon yang dipanen oleh kakeknya dulu pun sekarang masih bisa dipanen sendiri oleh Nanny.

Diameter batang pohon pala Papua tidak besar, tapi punya akar yang sangat kuat.

"Akar inilah yang berperan penting dalam mencegah terjadinya banjir dan longsor. Kabupaten Fakfak jarang sekali mengalami banjir. Bukan karena daerahnya berbukit-bukit, melainkan karena akar pohon pala yang mencegah bencana tersebut," kata Nanny.

Tanaman pala yang tinggi dan rindang juga berfungsi sebagai peneduh bagi tanaman-tanaman lain di sekitarnya.

"Masyarakat sekitar hutan pala biasanya juga menanam berbagai tanaman lain di area hutan, seperti pohon rambutan, langsat, cengkeh, dan durian," kata Nanny.

Pala Papua (Dok. INOBU)

Baca: Politeknik Negeri Fakfak (Polinef)

Mengingat pentingnya peran pala bagi kehidupan, maka tabu bagi penduduk Fakfak untuk menebang pohon pala secara sembarangan.

Apalagi, untuk kebutuhan yang tidak terlalu penting.

Bagian dari budaya

Dipandang sebagai pemberi kehidupan, maka pala juga tak lepas dari budaya masyarakat Papua, khususnya warga Fakfak.

Nanny bercerita, setiap kali akan memanen pala, mereka mengikat pohon pala dengan kain putih.

Yang diikat kain putih hanya satu pohon saja untuk mewakili satu hutan pala.

"Ketika bicara soal pala, hutan, dan alam, berarti kita juga bicara tentang kemurahan Tuhan. Karena itu, seorang pemimpin adat yang memimpin upacara mengajak warga memanjatkan doa syukur sesuai agama masing-masing. Khusus untuk prosesi tersebut, mereka membuat semacam nampan yang terbuat dari anyaman daun pandan. Di dalam nampan itu terdapat empat gelas kopi dan sirih pinang."

Ofra juga pernah melihat langsung beberapa ritual yang dilakukan saat akan panen pala.

Antara lain, menjelang panen, warga membersihkan area di sekitar pohon dari gulma, sehingga piringan atau lingkaran di sekitar pohon bersih.

"Pisau yang dipakai untuk memanen pala juga diupacarakan. Ada prosesi khusus untuk menancapkan pisau pada galah."

Upaya pelestarian pala Papua

Karena merupakan tanaman liar, maka selama ratusan tahun penyemaian pala berlangsung secara alami oleh burung-burung.

"Budidaya pala baru dilakukan sekitar 10-15 tahun lalu. Warga mulai memanfaatkan lahan-lahan kosong untuk menanam pala. Atau, mereka menanam kembali di lahan yang pohon-pohonnya tidak lagi produktif atau tumbang secara alami," kata Nanny.

Halaman
1234


Penulis: Rakli Almughni
Editor: Putradi Pamungkas

Berita Populer