Pada tahun yang sama, seorang pendeta lain dan tiga jamaah dibunuh di dalam sebuah gereja.
Pada 2010, 48 jemaah tewas di katedral Syro-Catholic di Baghdad, tempat paus akan mengadakan pertemuan publik pada hari Jumat.
Baca: Dulu Jadi Sekutu Dekat AS di Era Trump, Kini PM Israel Belum Pernah Dihubungi Joe Biden, Diremehkan?
Baca: Israel Minta Biden Tak Cabut Sanksi ICC Era Trump: Takut Invasi ke Palestina Jadi Kejahatan Perang
Pada tahun 2014, ketika ISIS menduduki Mosul dan Dataran Niniwe, kelompok tersebut menghancurkan lebih dari 30 gereja, sementara bangunan yang tersisa digunakan sebagai pusat administrasi, pengadilan atau penjara.
Banyak di antaranya kemudian dibom ketika koalisi pimpinan AS melawan ISIS.
Setibanya di Mosul, ISIL meminta orang Kristen untuk masuk Islam, membayar pajak atau dipenggal.
Ribuan orang melarikan diri ke wilayah semi-otonom Kurdi dan negara-negara tetangga.
"Ketika ISIS tiba, orang-orang hanya memiliki beberapa detik untuk mengumpulkan barang-barang mereka dan melarikan diri," kata Pastor Karam Shamasha, Pendeta Gereja St George Chaldean Telskuf di Nineveh, kepada Al Jazeera.
Awalnya, orang Kristen di desa Niniwe melindungi orang Kristen Yazidi dan Muslim Syiah yang melarikan diri dari ISIS.
Sampai kelompok itu menyapu dataran hingga orang-orang Kristen meninggalkan rumah mereka.
ISIS kehilangan wilayahnya pada 2017, tetapi sejak itu hanya sedikit orang Kristen yang kembali.
“Situasi keamanan tidak separah dulu, tapi sulit bagi orang untuk kembali,” kata Pastor Karam.
Hanya sepertiga dari 1.450 keluarga Kristen di Telskuf telah kembali, katanya.
Di Mosul di mana umat Kristen berjumlah 50.000 sebelum tahun 2003, hanya sekitar 150 orang yang kembali.
“Umat Kristen Irak telah menjadi korban diam perang. Mereka merasa ditinggalkan, ”kata Pastor Karam.
“Dengan sedikit pengecualian, negara-negara Eropa belum memberi mereka suaka, mereka belum diakui sebagai pengungsi. Ini salah satu luka terbesar,” katanya.