Kunjungan tersebut menjadi kunjungan kepausan yang pertama di Irak.
Namun siapa sangka, ada fakta mengerikan jelang kunjungan Paus.
Hanya terhitung hari sebelum Paus Fransiskus menginjakkan kaki di Irak, pangkalan udara yang menampung pasukan Amerika Serikat dan sekutunya dibombardir roket.
Terkait jumlah pastinya, ada perbedaan. Ada yang mengatakan sepuluh roket, ada yang mengatakan belasan.
Express.co.uk melaporkan pada Minggu (7/3/2021) setidaknya ada 10 roket yang menghantam pangkalan Ain al-Asad.
Wilayah yang terletak di provinsi Anbar, Irak Barat, itu mulai dihujani rudal pada Selasa, pukul 07.20 waktu setempat.
Baca: Pusat Pemerintahan Irak Dihujani 3 Roket dalam Seminggu, Target Utama Kedutaan AS
Baca: Tentara AS Kalang Kabut ketika Dihujani Rudal Iran, Alami Trauma Otak hingga Harus ke Psikiater
Kabar itu disampaikan Kolonel Wayne Marotto, juru bicara pasukan koalisi pimpinan AS di negara itu, sebagaimana diberitakan Intisari Online.
Sementara Komando Operasi Baghdad mengatakan kepada kantor berita Reuters sekitar 13 roket diluncurkan dari lokasi sekitar 8 km (5 mil) dari pangkalan.
Sumber Irak lain menyebut roket diluncurkan dari wilayah Baiader.
Beruntung tak ada korban dalam serangan tersebut.
Hingga berita ini ditulis, belum ada pihak yang mengaku bertanggung jawab atas serangan tersebut.
Dilansir Al Jazeera, sebelum invasi pimpinan AS tahun 2003, orang Kristen dari berbagai denominasi berjumlah sekitar 1,6 juta orang di Irak.
Saat ini, kurang dari 300.000 yang tersisa, menurut angka yang diberikan oleh Gereja Kasdim.
Sejak saat itu 58 gereja telah dirusak atau dihancurkan dan ratusan orang Kristen Irak telah dibunuh karena iman mereka.
Baca: Meski Punya Rudal Supersonik untuk Gempur China, Militer Filipina Masih Kalah Jauh dari Tiongkok
Baca: Meski Punya Rudal Supersonik untuk Gempur China, Militer Filipina Masih Kalah Jauh dari Tiongkok
Di bawah diktator Saddam Hussein, komunitas Kristen ditoleransi dan tidak menghadapi ancaman keamanan yang signifikan, meskipun mereka didiskriminasi.
Diaspora dimulai setelah invasi pimpinan AS tahun 2003, dan kekacauan yang terjadi ketika al-Qaeda memulai mengampanyekan pembunuhan.
Mereka melakukan penculikan imam dan uskup, serta melakukan serangan terhadap gereja dan pertemuan Kristen.
Pada Oktober 2006, seorang pastor ortodoks, Boulos Iskander, dipenggal dan pada 2008 kelompok itu menculik dan membunuh Uskup Agung Paulos Farah Rahho di Mosul.
Pada tahun yang sama, seorang pendeta lain dan tiga jamaah dibunuh di dalam sebuah gereja.
Pada 2010, 48 jemaah tewas di katedral Syro-Catholic di Baghdad, tempat paus akan mengadakan pertemuan publik pada hari Jumat.
Baca: Dulu Jadi Sekutu Dekat AS di Era Trump, Kini PM Israel Belum Pernah Dihubungi Joe Biden, Diremehkan?
Baca: Israel Minta Biden Tak Cabut Sanksi ICC Era Trump: Takut Invasi ke Palestina Jadi Kejahatan Perang
Pada tahun 2014, ketika ISIS menduduki Mosul dan Dataran Niniwe, kelompok tersebut menghancurkan lebih dari 30 gereja, sementara bangunan yang tersisa digunakan sebagai pusat administrasi, pengadilan atau penjara.
Banyak di antaranya kemudian dibom ketika koalisi pimpinan AS melawan ISIS.
Setibanya di Mosul, ISIL meminta orang Kristen untuk masuk Islam, membayar pajak atau dipenggal.
Ribuan orang melarikan diri ke wilayah semi-otonom Kurdi dan negara-negara tetangga.
"Ketika ISIS tiba, orang-orang hanya memiliki beberapa detik untuk mengumpulkan barang-barang mereka dan melarikan diri," kata Pastor Karam Shamasha, Pendeta Gereja St George Chaldean Telskuf di Nineveh, kepada Al Jazeera.
Awalnya, orang Kristen di desa Niniwe melindungi orang Kristen Yazidi dan Muslim Syiah yang melarikan diri dari ISIS.
Sampai kelompok itu menyapu dataran hingga orang-orang Kristen meninggalkan rumah mereka.
ISIS kehilangan wilayahnya pada 2017, tetapi sejak itu hanya sedikit orang Kristen yang kembali.
“Situasi keamanan tidak separah dulu, tapi sulit bagi orang untuk kembali,” kata Pastor Karam.
Hanya sepertiga dari 1.450 keluarga Kristen di Telskuf telah kembali, katanya.
Di Mosul di mana umat Kristen berjumlah 50.000 sebelum tahun 2003, hanya sekitar 150 orang yang kembali.
“Umat Kristen Irak telah menjadi korban diam perang. Mereka merasa ditinggalkan, ”kata Pastor Karam.
“Dengan sedikit pengecualian, negara-negara Eropa belum memberi mereka suaka, mereka belum diakui sebagai pengungsi. Ini salah satu luka terbesar,” katanya.