Hanya usianya saja yang sudah tua, mengingat Busairi adalah penyandang tuna grahita.
Perbedaan Pembelajaran di SLB dengan Sekolah Biasa
Puteri menuturkan proses belajar mengajar di SLB dan sekolah biasa tentunya akan berbeda.
Karena di SLB pembelajarannya akan jadi lebih rendah tingkatannya, misalkan pada materi pembelajaran.
"Materi misal di kelas 5 SD normal matematikanya udah sampe KPK, udah sampe pembagian dan pengalian yang sudah lebih tinggi."
"Tapi kalau di SLB kelas 5 ya masih tambah-tambah karena dengan keterbatasan anaknya kaya gitu, jadi pembelajarannya enggak bisa tinggi gitu," jelasnya.
SLB juga mempunyai sistem dan kurikulumnya tersendiri,
Namun yang menjadi kesamaan adalah adanya silabus dan RPP dan bukunya.
Jadi yang membedakan itu isi materinya dengan isi materi sekolah normal.
Baca: 2 Pemuda Tikam Mahasiswa di Warung Nasi Goreng, Tak Terima karena Terus Ditatap
Baca: Viral, Oknum Dosen UMI Makassar Adu Mulut di Depan Mahasiswa, Diwarnai Aksi Saling Dorong dan Pukul
Selama tiga tahun mengajar di SLB, sudah pasti banyak suka dan duka yang Puteri alami.
"Sukanya karena mereka lucu, maksudnya lucu itu dari segi mereka itu bisa menghibur kita. Saat kita lagi galau liatin mereka jadinya semangat lagi, terus ya seneng aja."
"Dukanya kan kalau kita lagi melihat mereka kaya kasihan tapi yaudah enggak dipikir lagi. Kasihan ya kok bisa kayak gitu, cuma gitu aja si kalau dukanya," ungkapnya.
Melihat para siswanya, Puteri pun mengaku menjadi lebih bersyukur.
"Dari kita melihat mereka kan jadi kasihan, jadi kita bersyukur aja sama diri kita. Bersyukur, mereka aja kayak gitu masih bersyukur," imbuhnya.
Walau dengan segala keterbatasan yang dimiliki Busairi tapi tetap ada yang bisa dicontoh darinya.
Satu diantaranya adalah semangat Busairi dalam belajar.
Tak peduli usia dan segala keterbatasannya, Busairi selalu semangat untuk belajar dan bersekolah.
Ia juga selalu bangga dengan hasil kemampuannya dalam belajar.
Puteri pun berpesan, khususnya kepada para siswa, bahwa belajar itu wajib dilakukan.