Banyak Warga Stres dan Terisolasi selama Pandemi, PM Jepang Tunjuk Menteri Kesepian, Ini Tugasnya

Penulis: Ahmad Nur Rosikin
Editor: Ekarista Rahmawati Putri
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

ILUSTRASI Perdana Menteri Jepang Yoshihide Suga tunjuk Menteri Kesepian --- (FILES) Dalam foto file ini diambil pada 18 Juni 2019 Sekretaris Kabinet Jepang Yoshihide Suga berbicara selama konferensi pers, setelah gempa 6,8 skala Richter melanda barat laut Jepang, di kediaman resmi perdana menteri di Tokyo. Ketika Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe mengumumkan rencananya untuk mengundurkan diri karena masalah kesehatan pada 28 Agustus 2020, perhatian tertuju pada siapa yang dapat menggantikan perdana menteri yang paling lama berkuasa di negara itu, tanpa konsensus yang jelas tentang seorang kandidat.

Meski di tengah pandemi, angka bunuh diri pada April 2020 di Jepang sempat turun hampir 20 persen dari tahun sebelumnya.

Akan tetapi para pakar dan pejabat memperingatkan mungkin ada peningkatan jumah kasus bunuh diri.

Diberitakan TribunnewsWiki.com dari The Japan Times, faktanya COVID-19 berdampak pada mata pencaharian dan kesehatan mental banyak orang di seluruh negara.

Pandemi telah merampas pekerjaan mereka dan meningkatkan risiko kekerasan dalam rumah tangga hingga pelecehan anak.

Kondisi ini diperburuk dengan banyaknya kelompok pencegahan bunuh diri yang mendapati diri mereka di ambang disfungsi.

Pandemi membuat organisasi mereka dipaksa untuk berhemat dan menunda kegiatan karena virus.

Statistik bulanan kementerian menunjukkan jumlah kasus bunuh diri pada bulan April mencapai 1.455, turun 19,8 persen dari angka 1.814 tahun sebelumnya.

Angka ini menandai penurunan terbesar dalam lima tahun.

Baca: Sejarah Kelam Cecil Hotel, Penginapan dengan Kasus Bunuh Diri, Overdosis dan Pembunuhan Tanpa Akhir

Kemudian muncul spekulasi turunnya angka ini disebabkan karena ditutupnya sekolah dan komunikasi jarak jauh.

Hal ini membuat mereka tidak tertekan dari tugas yang berat.

"Sangat mungkin bahwa coronavirus tidak berperan kecil dalam menyebabkan" penurunan itu, kata seorang pejabat kementerian.

Namun, ia menekankan, hal itu masih memerlukan pengawasan dan penelitian lebih lanjut.

Yasuyuki Shimizu, yang mengelola Lifelink, organisasi pencegahan bunuh diri nirlaba yang berbasis di Tokyo, setuju.

Shimizu, bagaimanapun, mengatakan mungkin ada faktor yang berperan lebih besar, yaitu rasa solidaritas yang sering berkembang dalam bencana.

Bencana cenderung menumbuhkan persahabatan, sebagaimana dibuktikan oleh kampanye online seperti #stayathome.

Orang yang ingin bunuh diri menjadi terhibur karena tak hanya mereka sendiri yang mengalami hal itu, katanya.

Tetapi ilusi kebersamaan ini mungkin tidak bertahan lama.

Pada bulan Mei 2011 misalnya, bunuh diri melonjak dua bulan setelah Gempa Bumi Besar Jepang Timur, tsunami, dan krisis nuklir yang menghancurkan wilayah Tohoku.

Shimizu memperingatkan ini bisa terjadi lagi.

“Jika pandemi bergerak ke arah penurunan, kembalinya ke keadaan normal yang dinikmati oleh beberapa orang akan memperlebar celah dengan mereka yang masih tidak dapat merekonstruksi hidup mereka. Orang-orang yang sebelumnya diyakinkan oleh penderitaan orang lain mungkin mulai merasa seolah-olah mereka tertinggal, ”kata Shimizu.

Halaman
123


Penulis: Ahmad Nur Rosikin
Editor: Ekarista Rahmawati Putri

Berita Populer