Hermina melanjutkan, penggunaan Bahasa Indonesia "Selamat Tahun Baru Imlek" tidak mengurangi makna perayaan itu sendiri.
Selain itu, peranakan Tionghoa yang tidak bisa berbahasa Hokkian, Mandarin, dan Hakka hanya mengucapkan “Selamat Tahun Baru Imlek”.
Hermina menuturkan, banyak orang yang tidak mengerti ketiga bahasa tersebut, tetapi tetap ingin mengucapkan ucapan Imlek dalam bahasa tersebut.
Alhasil, apa yang diucapkan pun tidak dimengerti oleh mereka artinya.
Jika ditambahkan artinya, ada juga yang ternyata salah.
“Jadi, memberi ucapan dalam Bahasa Indonesia tidak salah. Bahkan lebih baik karena sama-sama mengerti maknanya,” tutur Hermina.
Dalam perayaan Imlek, banyak ditemukan ucapan “gongxi facai” dalam tulisan-tulisan yang akan ditemukan dimana pun kamu berada.
Mulai dari tulisan dalam spanduk di jalanan, banner dalam sebuah gedung perkantoran atau mal, hingga unggahan orang-orang di media sosial.
Tidak jarang “gongxi facai” juga terdengar diucapkan oleh para host televisi atau radio saat melakukan siaran Hari Raya Imlek.
Sering diucapkannya kalimat itu, mungkin membuat orang-orang mengira bahwa arti dari “gongxi facai” adalah “Selamat Tahun Baru Imlek”.
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Kenapa Setiap Imlek Selalu Hujan?"