Mereka adalah pendukung yang belum rela Donald Trump lengser dari jabatannya sebagai Presiden AS.
FBI mengingatkan, para pendemo yang akan menyerbu tiap gedung DPR itu dimungkinkan membawa senjata.
Dilansir PressTV, beberapa orang mengatakan Amerika tengah mengalami kekacuan sipil seperti yang mereka ciptakan di negara lain.
Gelombang protes panjang terjadi lantaran ketegangan politik yang melanda negara itu.
Utamanya, adanya masyarakat yang mempercai Pilpres 2020 diwarnai oleh kecurangan.
Menurut jajak pendapat oleh Morning Consult minggu lalu, hanya 22% dari Partai Republik percaya pemilihan itu "bebas dan adil".
Sementara hampir seperempat dari semua pemilih terdaftar tidak menyetujui keputusan Donald Trump mundur.
Padahal hingga hari ini tidak ada bukti yang ditemukan untuk menjustifikais kecurangan.
Baca: Terkait Kerusuhan Gedung Capitol, Pendukung Donald Trump Disebut Ingin Bunuh Anggota Parlemen AS
Lagi pula Mahkamah Agung menolak untuk mendengarkan secara terbuka keluhan yang tersebar luas, bahwa mengubah cara pemilihan adalah tidak konstitusional.
Sementara petahana Donald Trump sendiri belum menyerah, tetapi menjanjikan "transisi yang tertib" setelah pemilihan Biden oleh Electoral College.
Banyak kaum konservatif juga marah ketika Trump dimakzulkan karena "menghasut pemberontakan."
Pemakzulan itu dituduh meningkatkan ketegangan di negara Paman Sam, yang memang sudah sagat bergejolak.
Untuk mengamankan pelantikan Biden, berbagai wilayah di Washington DC akan ditutup selama hampir seminggu, dengan 25.000 tentara Garda Nasional.
Pada tahun 2020, "A nation on edge" menjadi sesuatu yang klise di Amerika Serikat, tetapi kali ini benar-benar berbeda.
Keluhan tersebar luas, karena ada begitu banyak oposisi, bahkan keabsahan keluhan.
Sepertinya tidak ada yang bisa dilakukan selain menunggu dan melihat betapa buruknya hal itu dalam beberapa hari mendatang.
Kerusuhan Gedung Capitol Libatkan Tentara Aktif
Kerusuhan di Gedung Capitol, AS, disebut tak hanya melibatkan penduduk sipil pendukung Donald Trump.
The Associated Press menyebut anggota tentara, mantan tentara, dan penegak hukum terlibat kerusuhan tersebut.