Sudah sejak November 2019 hingga penghujung tahun 2020 ini, dunia masih disibukkan dengan urusan penanganan pandemi Covid-19 yang tak kunjung selesai.
Belum ditemukannya vaksin efektif yang menyembuhkan Covid-19 membuat banyak negara dan lembaga kesehatan berlomba berlomba melakukan riset vaksin.
Negara besar seperti China, Amerika Serikat hingga Jerman kini sedang berpacu dengan waktu untuk mengembangkan vaksin Covid-19 yang efektif dan cepat bisa menangkal pandemi.
Pasar saham di berbagai dunia pun merespon kemunculan calon vaksin-vaksin Covid-19 sebagai tahap awal normalisasi kehidupan masyarakat dunia.
Selain menyerang sektor kesehatan, pandemi juga merontokkan berbagai macam lini perekonomian dan krisis sosial di berbagai tempat mengancam.
Meski telah muncul berbagai macam kandidat vaksin Covid-19 dari berbagai negara, tak serta merta dunia diprediksi kapan situasi bisa berlalu normal seperti sebelumnya.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan, pihak berwenang harus meninjau setiap efek buruk dari vaksin virus Covid-19 baru.
Pernyataan WHO ini menyusul langkah otoritas Inggris yang memperingatkan orang-orang dengan riwayat anafilaksis untuk menghindari vaksin buatan Pfizer-BioNTech.
Baca: Vaksin Sinovac: Diimpor Indonesia & Belum Umumkan Level Efektifitas, Ahli Medis AS Khawatir Hal Ini
"Tetapi, orang-orang tidak boleh terlalu cemas."
"Ingat, ada sejumlah kandidat vaksin yang dikembangkan pada waktu yang sama," kata juru bicara WHO Margaret Harris.
"Satu vaksin mungkin tidak cocok untuk individu tertentu, tetapi Anda mungkin menemukan vaksin lain yang cocok," ujar dia.
Pada Selasa (8/12/2020) lalu, Inggris menjadi negara pertama yang meluncurkan vaksinasi.
Tapi, regulator obat Inggris kemudian mengatakan, siapa pun dengan riwayat anafilaksis terhadap obat atau makanan tidak boleh mendapat suntikan, setelah muncul dua insiden reaksi parah atas vaksin virus corona buatan Pfizer-BioNTech.
Sementara panel penasihat luar untuk Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) pada Kamis (10/12) memberikan suara yang sangat banyak untuk mendukung penggunaan darurat vaksin virus corona.
Itu membuka jalan bagi FDA untuk mengesahkan pengambilan bagi negara yang telah kehilangan lebih dari 285.000 nyawa karena virus corona.
Saat ini, WHO sedang meninjau data dari uji coba fase 3 dari banyak kandidat vaksin virus corona. Hanya, mereka belum mengeluarkan otorisasi penggunaan darurat untuk vaksin apa pun.
"Hal utama yang kami perhatikan adalah keamanan," tegas Harris.
Banyaknya negara maju nan besar yang berlomba menemukan vaksin Covid-19 ternyata memunculkan kekhawatiran lain.