Salah satunya, di bagian belakang seat tube selalu ada serial number, dan juga nomor rangka yang menjadi identitas unik sepeda tersebut.
Mintalah data tersebut dari pedagang di toko online.
Lalu, kunjungi situs resmi Brompton untuk memasukkan serial number didapat.
Dalam web tersebut akan dijelaskan informasi tipe, deskripsi model, kode warna, dan lainnya.
Sisanya, kita hanya cukup mencocokan keterangan tersebut dengan fisik barang yang akan kita beli.
Reza mengatakan, serial number tersebut berbentuk plat alumunium di belakang seat tube.
Jika pedagang tak bisa memberikan data tersebut, lebih baik urungkan niat untuk menebusnya.
Sebab, besar kemungkinan mereka memang tak memiliki barang tersebut.
Selain itu, sekarang ini pun ada produk jiplakan merek China dan Indonesia yang mirip Brompton, mulai dari lipatan hingga detailnya terasa mirip.
Namun pemahaman yang mendalam tentu bisa membedakan mana sepeda asli dan mana sepada jiplakan yang "mengaku" sebagai Brompton.
Baca: Banyak yang belum Tahu, Harga Sepeda Brompton Bisa Setara Kawasaki Ninja 250
Baca: Sepeda Lipat Brompton (Brompton Bicycle)
Sebelum membeli, ada baiknya mencari review yang bertebaran di internet. Hal ini akan membantu pembeli memahami fungsi utama sepeda lipat Brompton.
“Orang biasanya beli Brompton untuk ke kantor, car free day, gaya-gayaan,” tutur Reza.
Dengan review mendalam, pengguna akan benar-benar memahami bahwa sepeda yang akan dia tebus sesuai dengan kebutuhannya, dan bukan sekadar bergaya,
Belilah sesuai kebutuhan. Sepeda Brompton ada yang memiliki 2-3-6 speed.
Untuk kota-kota yang tidak memiliki tanjakan, sepeda dengan dua speed sudah cukup.
Harganya pun lebih murah Rp 2-3 juta dibanding enam speed. Namun untuk pengguna area dengan banyak tanjakan, sebaiknya membeli enam speed.
Perbedaan speed ini merupakan standar pabrik yang perlu kita pahami.
Sebab, tak jarang pemilik lama -saat akan membeli Brompton bekas, sudah memodifikasi sepeda tersebut, dan ini bakal memengaruhi harga dan kualitas sepeda.