"Ada yang sudah siap-siap untuk umroh bersama saya 600 orang, sudah siap tiketnya, sudah siap hotelnya, dibatalkan," sambungnya.
Mendapat perlakuan buruk, Ustaz Abdul Somad mengaku sempat kebingungan.
Pasalnya, menurut Ustaz Abdul Somad, hal yang dilakukannya dengan mendukung Prabowo bukanlah suatu tindak kejahatan.
Terkait hal itu, ia pun meminta pendapat dari ahlu hukum tata negara, Refly Harun.
"Saya bukan penjahat, saya bukan melakukan perlawanan mengangkat senjata," ujar Ustaz Abdul Somad.
"Jadi kalau menurut hukum tata negara itu yang saya dapat apa unsurnya Bang Refly?"
Kemudian menurut Refly, Ustaz Abdul Somad mengalami perlakuan diskriminatif.
Sebab, setiap warga negara disebutkan punya hak yang sama untuk memberikan dukungan pada calon presiden pilihannya.
"Yang diterima itu adalah perlakuan diskriminasi, diskriminatif itu."
"Jadi tidak equality before the law, kan setiap warga negara bersama kedudukannya dalam hukum dan pemerintahan."
"Jadi no matter Anda dukung 01, 02, perlakuan harus sama," tandasnya.
Pada kesempatan yang sama, sebelumnya Ustaz Abdul Somad mengaku tak kecewa meski akhirnya Prabowo Subianto masuk ke dalam pemerintahan.
Meski setelah kalah, Prabowo Subianto justru masuk ke dalam pemerintahan Presiden Jokowi dan didaulat menjadi menteri pertahanan.
Terkait hal itu, Ustaz Abdul Somad pun mengaku tak merasakan kecewa sedikitpun.
Ia selama ini hanya mendukung ide dan gagasan Prabowo Subianto saat Pilpres 2019.
Pernyataan itu disampaikan Ustaz Abdul Somad untuk menjawab pertanyaan Pakar Hukum Tata Negara, Refly Harun.
Mulanya, Refly Harun menyinggung kekalahan berkali-kali Prabowo Subianto dalam ajang Pilpres.
"Ustaz enggak kecewa? Dua hal, pertama yang ustaz dukung kalah, kalahnya dua kali, tiga kali bahkan dulu pernah cawapres," ucap Refly.
"Akhirnya (Prabowo) masuk kebinet. Gimana ustaz?"