Presiden Jokowi Ingin Lacak Pergerakan Pasien Covid-19 dengan GPS, Amankah Privasi Data Pasien?

Penulis: Haris Chaebar
Editor: Ekarista Rahmawati Putri
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Presiden Joko Widodo memberikan keterangan pers seusai meninjau salah satu pusat perbelanjaan, di Bekasi, Jawa Barat, Selasa (26/5/2020). Presiden Jokowi meninjau persiapan prosedur pengoperasian mal yang berada di wilayah zona hijau wabah COVID-19. TRIBUNNEWS/REPUBLIKA/Edwin Dwi Putranto/Pool

Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo), Johnny G. Plate mengatakan data pengguna aplikasi PeduliLindungi aman.

Seluruh data akan dihapus apabila pandemi Covid-19 berakhir.

"Telah menugaskan dan mewajibkan semua pihak yang mengelola aplikasi ini untuk melakukan pembersihan seluruh data nanti pada saat keadaan darurat kesehatan berakhir," jelas Johnny dalam sebuah konferensi pers di Graha BNPB, Sabtu (18/4/2020).

GPS berpotensi langgar privasi

GPS tidak menjadi pilihan beberapa negara untuk melacak pergerakan pasien Covid-19, karena warganya khawatir jika data mereka disimpan pemerintah dan bisa disalahgunakan.

Apalagi, jika informasi tentang kesehatan bocor, bisa merugikan individu.

Ojek online menggunakna GPS pada ponsel saat berkendara mengantar dan menjemput penumpang.(Kompas.com) (Kompas.com)

Bahkan Google dan Apple yang bekerja sama membuat API khusus untuk aplikasi pelacak corona, melarang penggunaan GPS apabila pemerintah mengembangkan aplikasi menggunakan sistem mereka.

 Sistem buatan Google dan Apple hanya menggunakan sinyal bluetooth untuk mendeteksi kontak, tidak menggunakan atau menyimpan data lokasi GPS.

Selain karena alasan privasi, GPS dinilai menghabiskan banyak data jika terus menerus diaktifkan.

Kini, tools untuk melacak penyebaran virus tersebut kabarnya sudah disebar ke berbagai lembaga kesehatan dunia, sehingga lembaga-lembaga tersebut bisa mengembangkan aplikasi pelacak Covid-19, baik di platform Android maupun iOS.

Setiap negara hanya diperbolehkan membuat satu aplikasi pelacak berbasis sistem Google dan Apple.

Tujuannya adalah untuk meminimalisir fragmentasi dan agar bisa diadopsi lebih luas.

(Tribunnewswiki.com/Ris)



Penulis: Haris Chaebar
Editor: Ekarista Rahmawati Putri

Berita Populer