Dengan aplikasi ini pengguna bisa melihat sekilas melalui peta, di mana pasien menjalani karantina.
Ada juga informasi tanggal kasus terkonfirmasi dan rumah sakit mana saja yang dikunjungi pasien positif.
Selandia Baru membuat terobosan agak berbeda dengan Korea Selatan.
Alih-alih membuat aplikasi pelacak Covid-19 saat kasus memuncak, negara ini malah baru membuat aplikasi berbasis GPS saat kasus melandai.
Perdana Menteri Selandia Baru, Jacinda Ardern menyebut aplikasi pelacak tersebut sebagai "digital diary".
Aplikasi itu mencatat perjalanan pribadi penggunanya sambil memastikan data yang tersimpan aman.
"Sambil berjaga-jaga jika pada kemudian hari Anda terjangkit Covid-19, Anda punya referensi untuk menceritakan ke mana saja Anda pergi dalam periode tertentu," kata Ardern, seperti dikutip Antara dari dari Reuters (18/5/2020).
Melansir Newsroom, aplikasi ini akan membantu pengguna ketika mereka keluar dari tempat keramaian, seperti restoran atau kafe, sambil menyimpan data pergerakan mereka.
Ardern mengatakan data pengguna tidak akan dibagikan ke pihak manapun.
"Itu untuk Anda, itu perangkat Anda, dan itu data serta informasi Anda," kata Ardern.
Berbeda dengan Indonesia atau Korea Selatan, Selandia Baru sempat menerapkan lockdown atau karantina wilayah selama hampir lima pekan.
Namun saat ini, Selandia Baru telah melonggarkan pembatasan sosial sejak tidak ada kasus baru Covid-19 yang terkonfirmasi.
Akan tetapi, GPS bukan satu-satunya teknologi yang digunakan untuk melacak pergerakan warga demi membendung penularan Covid-19.
Sebagian negara lebih memilih menggunakan aplikasi berbasis bluetooth.
Salah satunya Indonesia yang sudah memiliki aplikasi bernama PeduliLindungi.
Aplikasi ini kurang lebih sama dengan yang dikembangkan pemerintah Singapura, bernama TraceTogether.
PeduliLindungi akan mengumpulkan data yang diperlukan dari ponsel pengguna sambil mengaktifkan koneksi bluetooth.
Ketika ada ponsel lain dalam jangkauan bluetooth yang juga terdaftar dalam aplikasi PeduliLindungi, akan ada pertukaran informasi yang direkam oleh masing-masing perangkat.
Lalu, aplikasi akan mengidentifikasi orang-orang yang pernah berada dalam jarak dekat, dengan orang yang dinyatakan positif Covid-19 atau berstatus PDP dan ODP.
Baca: Syarat Naik Pesawat di Tengah Pandemi Corona: Domestik Cukup Rapid Test, dari Luar Negeri Wajib PCR
Baca: Dua Penelitian tentang Virus Corona Ditarik Kembali setelah Muncul Banyak Pertanyaan terkait Data
Baca: Menuju Kenormalan Baru, Berikut Saran dari Pakar agar Tidak Terpapar Virus Corona Penyebab Covid-19