Menristek Bambang Brodjonegoro Ungkap Fakta Penyebab Kasus Virus Corona Tak Kunjung Turun, Apa Itu?

Penulis: Niken Nining Aninsi
Editor: Ekarista Rahmawati Putri
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Ilustrasi Tes Virus Corona

Limfosit T, juga dikenal sebagai sel T, mempunyai peran utama dalam mengidentifikasi dan menghilangkan penjajah asing dalam tubuh.

Baca: Jarak Aman Cegah Penularan Covid-19 Ternyata Bukan 1 atau 2 Meter, Tapi 4 Meter, Ini Penjelasannya

Baca: Warga Sewakul Minta Maaf Penolakan Pemakaman Perawat : Kami Juga Takut Sakit Tak Ada yang Mau Rawat

Mereka melakukan ini dengan menangkap sel yang terinfeksi virus, membuat lubang di membrannya dan menyuntikkan bahan kimia beracun ke dalam sel.

Bahan kimia ini selanjutnya membunuh virus dan sel yang terinfeksi dan merobeknya berkeping-keping.

Namun para ilmuan terkejut saat menemui sel T menjadi mangsa virus corona dalam percobaan mereka.

Mereka menemukan struktur unik dalam protein lonjakan virus yang tampaknya telah memicu perpaduan virus dan membran sel ketika mereka bersentuhan.

Gen virus lalu memasuki sel T dan mengambilnya sebagai sandera, menonaktifkan fungsinya melindungi manusia.

Para peneliti melakukan percobaan yang sama dengan sindrom pernapasan akut yang parah, atau SARS.

Ini merupakan varian dari virus corona yang lain.

Dalam percobaan tersebut para ilmuan menemukan virus SARS tidak memiliki kemampuan untuk menginfeksi sel T.

Alasannya, mereka menduga, adalah kurangnya fungsi fusi membran.

SARS, yang mewabah di 2003, 'cuma' bisa menginfeksi sel yang membawa protein reseptor spesifik yang dikenal sebagai ACE2, dan protein ini mempunyai kehadiran sangat rendah dalam sel T.

Baca: Viral Video Polisi Menangis hingga Terisak, Meminta Tes Swab ke Dinas Kesehatan

Investigasi lebih lanjut terhadap infeksi virus corona pada sel T primer akan membangkitkan "Ide-ide baru tentang mekanisme patogenik dan intervensi terapeutik," ujar para peneliti dalam makalah yang diterbitkan dalam jurnal peer-review Cellular & Molecular Immunology minggu ini.

Informasi lain dari seorang dokter yang bekerja di rumah sakit umum merawat pasien Covid-19 di Beijing menjelaskan, penemuan itu menambahkan bukti lain pada kekhawatiran yang berkembang di kalangan medis.

Yang mana virus corona terkadang dapat berperilaku layaknya beberapa virus paling terkenal yang secara langsung menyerang sistem kekebalan manusia.

"Virus corona novel ini, semakin banyak orang membandingkannya dengan HIV," ujar dokter yang meminta untuk tidak disebutkan namanya karena sensitivitas masalah ini.

Ilustrasi Tes Virus Corona (pixabay.com)

Pedapat lain juga mengaminkan hal serupa, dalam artian mendukung temuan tersebut.

Pada bulan Februari, Chen Yongwen dan rekan-rekannya di Institute of Immunology PLA merilis sebuah laporan klinis memeringatkan jika jumlah sel T manusia dapat turun secara signifikan pada pasien Covid-19,

Terutama ketika mereka berusia lanjut atau memerlukan perawatan di unit perawatan intensif, yang mungkin karena adanya penyakit berat penyerta lainnya.

Jadi semakin rendah jumlah sel T seseorang, bilamana dirinya terinfeksi virus corona Covid-19, maka semakin tinggi risiko kematiannya.

Baca: Akibat 4 Pasien Positif Corona Pulang Kampung Disambut Dengan Ritual Adat, 88 Orang Harus Rapid Test

Pengamatan ini selanjutnya dibenarkan oleh pemeriksaan otopsi pada lebih dari 20 pasien, yang sistem kekebalannya hampir sepenuhnya hancur, berdasarkan laporan media daratan.

Halaman
123


Penulis: Niken Nining Aninsi
Editor: Ekarista Rahmawati Putri
BERITA TERKAIT

Berita Populer