Sinetron 'Anak Langit' Kena Tegur KPI: Jangan Sampai Ajarkan Kekerasan Sebagai Penyelesaian Masalah

Penulis: Maghita Primastya Handayani
Editor: Natalia Bulan Retno Palupi
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Sinetron 'Anak Langit' yang tayang di SCTV mendapatkan teguran dari Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) karena menampilkan adegan kekerasan yang dikhawatirkan akan ditiru oleh pemirsa remaja. Foto ini diunggah di akun Instagram @kpipusat pada Sabtu, (16/5/2020).

"Khawatirnya adegan-adegan seperti ini ditiru oleh mereka karena penonton pada golongan usia tersebut belum memiliki kedewasaan untuk mengartikan dan memahami isi dan konteks konten," terang Mulyo.

"Jangan sampai mengajarkan kekerasan sebagai jalan penyelesaian masalah,” imbuhnya.

Panduan tayangan berklasifikasi R seharusnya edukatif dan positif

Logo Komisi Penyiaran Indonesia (KPI). (mediaindonesia.com)

Lebih lanjut dijelaskan oleh sang Komisioner bidang Isi Siaran, tontonan dengan klasifikasi R seharusnya tidak berisi konten yang positif dan edukatif.

Sehingga diharapkan dapat membangun kesadaran sosial para pemirsa tayangan televisi.

“Nilai-nilai pendidikan dan ilmu pengetahuan, nilai-nilai sosial dan budaya, budi pekerti, hiburan, apresiasi estetik, dan penumbuhan rasa ingin tahu remaja tentang lingkungan sekitar, seharusnya menjadi substansi dari cerita, apapun itu sinetronnya," jelas Mulyo.

"Saya pikir jika hal ini dilakukan justru akan memberi nilai lebih dan apresiasi pada sinetron atau program siaran lainnya,” paparnya.

Dalam kesempatan tersebut,  Mulyo meminta SCTV untuk lebih cermat dan berhati-hati ketika akan menayangkan sebuah program.

Terlebih program dengan klasifikasi R atau ke bawah.

“Saya harap kepada SCTV dan juga lembaga penyiaran lain untuk lebih mengutamakan keselamatan dan perlindungan anak serta remaja dalam seluruh program siaran,” tandasnya.

Baca: Bintang Sinetron Mermaid in Love, Naufal Samudra Ditangkap karena Kasus Narkoba, Ini Komentar Ibunda

Baca: Stefan William

Baca: Ammar Zoni

(TRIBUNNEWSWIKI/Magi)



Penulis: Maghita Primastya Handayani
Editor: Natalia Bulan Retno Palupi
BERITA TERKAIT

Berita Populer