Nasib Pelajar Kurang Mampu di Amerika Serikat: Tak Punya Laptop, Pengajaran Tertunda

Penulis: Dinar Fitra Maghiszha
Editor: Melia Istighfaroh
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Siswa Bell High School, Kenia Molina di depan bangunan sekolahnya di Bell, California pada 15 April 2020, yang tetap ditutup karena pandemi virus corona dan diharuskan melanjutkan pendidikan mereka melalui kelas online / jarak jauh. Sebagai angkatan 2020, Kenia Molina perlu menemukan laptop agar bisa lulus sekolah menengah. Kesenjangan teknologi telah menyebabkan ribuan siswa miskin kehilangan pendidikan selama berminggu-minggu. Dengan hampir tutupnya semua sekolah dan universitas di AS pada tahun akademik, siswa Los Angeles harus menyelesaikan tahun terakhirnya melalui pembelajaran virtual dengan komputer sumbangan di rumahnya.

TRIBUNNEWSWIKI.COM - Inilah nasib mahasiswa angkatan 'virus corona' tahun 2020, -sebuah kiasan dari jalur pelajar yang akan atau baru lulus sekolah dan masuk perguruan tinggi pada masa pandemi COVID-19-, yang kurang mampu di Amerika Serikat.

Di Amerika Serikat (AS), kesenjangan teknologi menyebabkan ribuan siswa kurang mampu kehilangan kesempatan mengikuti pelajaran selama berminggu-minggu.

Banyaknya sekolah dan universitas di AS yang tutup pada tahun akademik, membuat siswa di Los Angeles, AS menyelesaikan tahun terakhirnya melalui pengajaran daring alias kuliah online / kuliah di rumah.

Sebagian dari mereka mendapatkan bantuan fasilitas komputer yang disumbang dari distrik tempat mereka belajar.

Satu diantaranya, Kenia Molina bercerita kepada AFP, Sabtu (18/4/2020), perihal kesulitannya mendapatkan fasilitas teknologi di negaranya.

Baca: New York Beri Sinyal Akan Cabut Lockdown COVID-19, Buka Kembali Bisnis dan Sekolah

Siswa Bell High School, Kenia Molina di depan bangunan sekolahnya di Bell, California pada 15 April 2020, yang tetap ditutup karena pandemi virus corona yang mengharuskan siswa melanjutkan pendidikan mereka melalui pembelajaran jarak jauh / kelas online. (FREDERIC J. BROWN / AFP)

"Ini sangat penting ... bagi siswa yang tak punya akses ke internet bahkan tak punya perangkat apa pun, mereka bahkan tak mampu membeli gawai apa pun," kata Molina, mengenakan masker dan sarung tangan pelindung sembari menerima bantuan laptop dari distriknya.

Diketahui, komputer gratis diberikan oleh distrik sekolah di Los Angeles -wilayah terbesar kedua di AS- untuk membantu para pelajar kurang mampu.

"Ini membantu kami untuk tetap berada di sana dan terhubung satu sama lain," tambah Molina.

Namun demikian, Departemen Pendidikan di California masih membutuhkan hampir 240.000 perangkat komputer.

Setidaknya 7.400 dari total 120.000 siswa sekolah menengah di Los Angeles belum mengikuti 'pengajaran daring / online' sejak masa karantina dimulai.

Angka ini turun dari sebelumnya mencapai 15.000 siswa yang belum bisa 'log in' di komputernya dalam dua minggu pertama lockdown.

Ini adalah sesuatu yang seharusnya sudah kita siapkan bertahun-tahun yang lalu," kata Rafael Balderas, Kepala Sekolah di Los Angeles, di pinggiran kota Bell, tempat Molina belajar.

"Anda tidak bisa lepas dari pengajaran tatap muka / face-to-face, itu adalah bentuk pembelajaran terbaik untuk anak-anak," kata Rafael.

"Tetapi sekarang sudah menjadi kebiasaan baru bagi kita," tambahnya.

Dengan adanya pandemi dan kemajuan teknologi ini mendorong sistem sekolah untuk "memindahkan anak-anak kita menuju abad ke-21," jelas Rafael.

Baca: Pemerintah California Minta Para Buruh Pangan Ambil Cuti saat Pandemi COVID-19, Gaji Dibayar Penuh

Kepala Sekolah Rafael Balderas di antara tumpukan komputer laptop yang siap dibagikan kepada siswanya pada 15 April 2020. (FREDERIC J. BROWN / AFP)

Penutupan institusi sekolah di AS memberikan tantangan tersendiri bagi daerah miskin atau pedesaan di mana banyak keluarga kekurangan fasilitas komputer maupun akses internet.

Molina adalah satu dari 400 siswa di sekolahnya yang mendapatkan bantuan komputer untuk mengikuti kelas, menyerahkan tugas, dan mengikuti ujian.

Sekolah-sekolah di pedalaman AS juga bekerjasama dengan jasa penyedia internet, agar membuat keluarga yang tak mampu dapat segera mengakses internet.

Andes Chait, seorang murid Telfair Primary mengatakan ada beberapa zona sekolah dimana satu dari lima murid tidak memiliki rumah sendiri.

Banyak dari mereka yang tinggal di motel atau di rumah keluarga lain, tanpa 'meja yang tenang' yang 'bebas dari gangguan', kata Chait.

Halaman
12


Penulis: Dinar Fitra Maghiszha
Editor: Melia Istighfaroh

Berita Populer