Perlu yang namanya merek.
Produk dan produksi adalah tubuh, merek adalah roh.
Maka perusahaan-perusahaan rokok ini mulai me-rebranding mereknya.
Nama tetap sama.
Hanya perlu dipermak di sana-sini agar nama itu menjadi merek yang seksi.
Jika mengeluarkan produk baru, tidak sekedar bertumpu pada merek lama, namun juga dimunculkan merek baru yang berorientasi nasional (global).
Lahirlah merek seperti AMild, Star Mild, Class, LA Light, U Mild, Pro Mild, Diplomat.
Konsumen tidak sekedar memilih produk rokoknya.
Terlebih pada konsumen rokok pemula.
Baca: Kenali Ciri-ciri Fisik Serangan Panik, Punya Kemiripan dengan Gejala Virus Corona
Baca: Jaga Stok di Tengah Wabah Corona, Satgas Pangan Polri Batasi Pembelian Bahan Pokok Ini
Mereka mengonsumsi lebih pada merek rokok tersebut.
Apalagi citarasa rokok-rokok keluaran terbaru nyaris sama.
Yang membedakan hanya mereknya saja.
Alhasil perusahaan-perusahaan rokok pada strategi pemasarannya lebih mengedepankan merek untuk dijual, ketimbang produk yang diproduksi.
Merek menjadi aset utama perusahaan.
Menggenapi jumlah pabrik yang dimiliki ataupun karyawan yang dipekerjakan.