Agar Tak Salah Kaprah, Ini 11 Mitos Virus Corona yang Wajib Diketahui, Soal Masker hingga Peliharaan

Penulis: Putradi Pamungkas
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Para pekerja medis yang mengenakan alat pelindung memindahkan seorang tersangka pasien virus korona (C) ke rumah sakit lain dari Rumah Sakit Daenam di mana total 16 infeksi sekarang telah diidentifikasi dengan virus corona COVID-19, di daerah Cheongdo dekat kota tenggara Daegu pada 21 Februari 2020 Kasus coronavirus Korea Selatan hampir dua kali lipat pada 21 Februari, naik di atas 200 dan menjadikannya negara yang paling parah terkena dampak di luar China ketika jumlah infeksi yang terkait dengan sekte keagamaan meningkat. YONHAP / AFP

Sebagai perbandingan, flu biasa memiliki R0 1,3.

Selagi tidak ada vaksin untuk mencegah Covid-19, ahli mengatakan bahwa vaksin flu musiman untuk mencegah influenza relatif baik, meski formulasinya tidak cocok dengan strain virus yang beredar.

3. Mitos: SARS-Cov-2 hanya virus flu biasa yang bermutasi

Pernyataan ini sangat salah. Virus corona adalah keluarga besar virus yang mencakup banyak penyakit berbeda.

SARS-CoV-2 memang memiliki kesamaan dengan virus corona lain, empat di antaranya dapat menyebabkan flu biasa.

Kelima virus itu memiliki proyeksi runcing pada permukaannya dan memanfaatkan apa yang disebut protein lonjakan untuk menginfeksi sel inang.

Namun, keempat virus corona yang bernama 229E, NL63, OC43, dan HKU1 semuanya menginfeksi manusia sebagai host utama mereka.

SARS-CoV-2 berbagi sekitar 90 persen dari materi genetiknya dengan coronavirus yang menginfeksi kelelawar, yang menunjukkan bahwa virus tersebut berasal dari kelelawar dan kemudian melompat ke manusia.

Bukti menunjukkan bahwa virus melewati hewan perantara sebelum menginfeksi manusia.

Demikian pula, virus SARS melompat dari kelelawar ke musang (mamalia kecil, nokturnal) dalam perjalanannya ke manusia, sedangkan MERS menginfeksi unta sebelum menyebar ke manusia.

4. Mitos: Virus SARS-CoV-2 terbentuk di laboratorium

Hingga saat ini, tak ada satu pun bukti yang menunjukkan bahwa SARS-CoV-2 penyebab Covid-19 adalah buatan manusia.

SARS-CoV-2 sangat mirip dengan dua virus corona lain yang juga memicu wabah beberapa tahun lalu, yakni SARS-CoV dan MERS-CoV.

Pencegahan virus Corona (doktersehat.com)

Baik SARS-CoV-2, SARS-CoV, maupun MERS-CoV tampaknya berasal dari kelelawar.

5. Mitos: Orang yang terinfeksi Covid-19 pasti akan meninggal

Ini tidak benar. Menurut sebuah penelitian yang diterbitkan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit China pada 18 Februari 2020, sekitar 81 persen orang yang terinfeksi merupakan Covid-19 ringan.

Sekitar 13,8 persen melaporkan penyakit parah, yang berarti mereka mengalami sesak napas, atau membutuhkan oksigen tambahan, dan sekitar 4,7 persen kritis.

Ini berarti, mereka menghadapi kegagalan pernapasan, kegagalan multi-organ atau syok septik.

Baca: Pria Ini Asuh Harimau Benggala sejak Usia 3 Bulan, Makan dan Tidur Bersama Tiap Hari

Baca: Berikut Sinopsis Film Box Office, The Man Standing Next yang Mulai Tayang pada 26 Februari 2020

Data sejauh ini menunjukkan bahwa hanya sekitar 2,3 persen orang yang terinfeksi Covid-19 meninggal akibat virus.

Orang-orang yang lebih tua atau memiliki kondisi kesehatan buruk tampaknya paling berisiko mengalami penyakit parah atau komplikasi.

Halaman
1234


Penulis: Putradi Pamungkas

Berita Populer