Mitos Virus Corona yang Tak Perlu Dipercaya, Soal Paket dari China Tak Aman hingga Kematian

Penulis: Ika Wahyuningsih
Editor: Putradi Pamungkas
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Bentuk Virus Corona di dalam tubuh manusia yang dilihat melalui mikroskop canggih

TRIBUNNEWSWIKI.COM - Angka wabah virus corona telah menembus angka 90.933.

Data ini dikutip dari worldometers.info, dilengkapi dengan data jumlah kematian capai 3.119 jiwa.

Total kesembuhan juga cukup fantastis dengan jumlah 48.215 orang sembuh dari virus Covid-19.

Wabah Covid-19 yang disebabkan oleh virus SARS-CoV-2 telah menyebar ke banyak negara di dunia.

Indonesia untuk pertama kalinya mengumumkan dua warganya yang terinfeksi virus ini.

Presiden Jokowi mengkonfirmasi hal tersebut pada Senin (02/02/20) di Istana Negara.

Seiring kabar tersebut, berbagai jenis kabar burung menyebar luas di jagat dunia maya.

Akan tetapi membludaknya informasi tanpa henti ini membuat warganet sulit memfilter mana fakta dan mitos.

Berikut 11 mitos atau fakta yang salah mengenai wabah Covid-19 atau virus corona, sebenarnya bisa berbahaya, seperti dilansir Live Science, Sabtu, (29/02/20).

1. Mitos: Masker wajah dapat melindungi diri dari virus

Penting diketahui, masker bedah standar tidak dapat melindungi diri dari SARS-CoV-2. Pasalnya, masker wajah tidak dirancang untuk memblokir partikel virus untuk mengenai wajah.

Namun, masker dapat membantu mencegah orang yang terinfeksi menyebarkan virus ke orang lain dengan memblokir percikan partikel pernapasan yang dikeluarkan dari mulut.

Ini artinya, tidak semua orang perlu mengenakan masker.

Dilansir dari laman Forbes, spesialis pencegahan infeksi Eli Perencevich, MD, seorang profesor kedokteran dan epidemiologi di Fakultas Kedokteran Universitas Iowa, mengatakan bahwa orang sehat tidak membutuhkan masker wajah jenis apa pun.

"Rata-rata orang yang sehat tidak perlu memakai masker. Tidak ada bukti bahwa memakai masker pada orang sehat akan melindungi diri dari virus," kata Perencevich.

Perencevich pun mengatakan, pemakaian masker yang salah seperti sering menyentuh wajah saat memakai masker dapat meningkatkan risiko infeksi.

Perencevich menjelaskan, banyak orang membeli masker dengan asumsi menghentikan virus mencapai mulut atau hidung mereka yang tersebar melalui udara.

Padahal, virus corona ditularkan melalui tetesan, bukan melalui udara.

Masker N95 (Kompas.com)

2. Mitos: Kecil kemungkinan kena virus SARS-CoV-2

Belum tentu. Para ilmuwan telah menghitung angka reproduksi dasar atau disebut R0 (diucapkan R-nol).

Halaman
1234


Penulis: Ika Wahyuningsih
Editor: Putradi Pamungkas

Berita Populer