Sejak peristiwa gagal evakuasi itu Humaidi kembali ke asramanya begitu juga dua temannya yang lain.
Bedanya, asrama Humaidi berada di Wuhan, sementara kedua temannya di kota Xianning, sekitar 1 jam perjalanan dari Wuhan.
Adapun sahabatnya yang bernama Kris masih berada di Jingzhou dan belum bisa kembali ke Wuhan karena transportasi di seluruh provinsi Hubei benar-benar tidak boleh beroperasi.
Seluruh kota di Hubei mati akses.
"Jadi ya sebenarnya percuma juga (saat ini) dapat bantuan dana, tidak bisa beli keperluan karena tidak bisa keluar asrama," ujar Humaidi yang saat ini hanya menerima bantuan makanan dan masker dari kampusnya.
Tidak ada kurir online di provinsi Hubei.
Baca: BREAKING NEWS - Vitalia Sesha Terjerat Narkoba, Diamankan Saat Sedang Berpesta Bersama Enam Rekannya
Baca: Donald Trump Sedang Kunjungi India, Terjadi Kerusuhan Umat Hindu-Islam, Tewaskan Lebih dari 20 Orang
Humaidi menjelaskan hanya ada beberapa relawan dari kampusnya yang datang membawakan daftar produk yang dapat dibelinya di beberapa supermarket.
Barang-barang yang bisa dibeli hanya seputar alat mandi seperti sikat gigi, sabun, sampo dan juga bahan makanan instan seperti mie instan, biskuit dan susu.
"Telur dan daging tidak dijual.
Saya tidak tahu kenapa tapi yang jelas barang-barang itu tidak ada di daftar.
Tidak semua supermarket juga buka," paparnya.
Kini, mahasiswa pascasarjana itu kerap memberikan kabar di akun instagram terkait kegiatannya selama terisolasi di asrama.
Otoritas China juga melakukan pemeriksaan terhadap warga asrama dengan mengecek suhu tubuh mereka secara berkala.
Humaidi juga mencurahkan perasaannya yang sedih jika mengingat Kris di Jingzhou,
"saya pikir dia (karena perempuan) mungkin bakal stres di sana.
Tapi alhamdulillah sekarang setelah saya bicara dengannya melalui video call, dia tampak tegar dan tersenyum.
Dia yang perempuan ternyata lebih kuat dari pada saya."
Meski begitu, Humaidi merasa dirinya sudah mulai bisa mengambil hikmah dari kejadian ini.
Dia tidak berharap banyak pemerintah RI mampu mengevakuasi dia dan teman-temannya lagi.
Dia hanya berharap,