Nada mulai menitikkan air matanya.
Quentin Sommerville kemudian menanyakan apakah Nada bisa memaafkan sang Ayah.
Dengan tangis dan suara tercekat, Nada mengaku telah memaafkan sang Ayah.
Nada memaklumi kekhilafan sang Ayah karena saat ini pun baik dirinya, sang nenek dan sang Ayah tak bisa berbuat banyak.
"Ya, semua orang bisa khilaf (melakukan kesalahan yang tak disengaja), Ayah pun juga manusia biasa," jawab Nada.
"Ayah juga sudah meminta maaf padaku atas apa yang dia lakukan (membawanya ke Suriah). Ayah juga telah melakukan segala upaya untuk memperbaiki kesalahannya, namun dia juga tak bisa berbuat banyak, karena dia sekarang berada di penjara" lanjut Nada.
Nada selalu menyimpan erat keinginannya untuk kembali pulang dan bisa belajar seperti sedia kala di Indonesia.
"Kami akan sangat berterima kasih jika ada orang yang bisa memaafkan dan menerima kami kembali," tutup Nada.
Ketika dikonfirmasi oleh BBC, Aref Fedulla, ayahanda Nada memberikan keterangannya.
Dirinya mengakui bahwa membawa keluarganya ke Suriah adalah kesalahan terbesar dalam hidupnya.
"Tapi ini bukan hanya kesalahan normal, kamu bergabung dengan organisasi teroris yang telah membunuh Kurdi, Arab, mencuri wilayah teritorial negara lain. Rumah yang kamu tinggali itu mencuri milik orang lain," cecar Quentin Sommerville.
"Oleh karena itu kita di sini (pengadilan) sekarang tanpa ada kepastian hukum apapun, ada yang sudah tinggal 2-4 tahun di sini," jawab Aref Fedulla.
Ketika ditanya mengenai adakah kemungkinan Indonesia memiliki keharusan untuk membawa Aref dan keluarganya kembali, dirinya mengaku tak tahu menahu.
"Saya tak tahu, tidak ada satupun pihak yang menemui dan berbicara pada saya (mengenai apakah kami bisa pulang atau tidak)."
Baca: Pemuda Anggota ISIS Ini Dilaporkan Tangkap dan Eksekusi Mati Ibu Kandungnya Sendiri
Baca: WNI Eks ISIS Bongkar Perlakuan Tak Manusiawi ISIS: Wanita Jadi Pabrik Anak, Banyak Buat Janji Palsu
Baca: Terkait Pemulangan Anak-anak dari Eks Teroris ISIS, Pakar Hukum Minta Pemerintah Tunggu Putusan PBB