"Chloroxylenol beracun jika tertelan dan tidak boleh digunakan sebagai aerosol yang dapat dihirup orang" kata Paul memperingatkan."
"Apakah (penggunaan Dettol) menawarkan keuntungan dibandingan pembersihan standar lainnya, seperti mencuci sabun atau air saja, klaim tersebut belum benar-benar jelas" tambahnya.
Sementara itu, peneliti senior bidang kesehatan global di University of Southampton, Dr Michael Head, menjelaskan bahwa semprotan disinfektan memang berguna untuk menghilangkan bakteri.
Pernyataannya kepada Mail Online menyebutkan jika penggunaan dilakukan dengan benar maka, jenis pembersih sejenis lainnya juga dapat menghilangkan virus corona dan sejumlah virus-virus lainnya yang berada di permukaan (kulit, luka, dll).
Baca: Pasien yang Terinfeksi Virus Corona di Malaysia Bertambah Menjadi 8 Orang, Semuanya Warga China
Virus corona sendiri merupakan kategori virus yang dapat menyebabkan penyakit pernafasan.
Namun demikian, virus corona jenis baru di Wuhan, China ini berbeda dengan jenis virus corona pada umumnya.
Tulisan "dapat membunuh virus corona' dalam botol Dettol ini dimungkinkan merujuk pada virus penyebab flu biasa.
Dilansir oleh Plymouth Herald, pimpinan divisi Virologi dari The Francis Crick Institute, Dr. Jonathan Stoye mengatakan, "Harus diperjelas bahwa virus Wuhan hanyalah satu dari banyak jenis virus corona yang diderita manusia, sementara yang lainnya (pada umumnya) dikaitkan dengan penyakit flu biasa."
Sampai berita ini diturunkan, Tribunnewswiki.com masih berusaha menghubungi pihak Dettol.
Komite Kesehatan Nasional China mengumumkan kabar terbaru korban meninggal dunia akibat kasus penyakit virus corona mencapai 213 orang.
Sementara itu, muncul sejumlah korban terinfeksi baru yang menambah angka keseluruhan menjadi 9816 kasus virus corona.
Pihak medis China menyatakan masih terus melakukan pengamatan terhadap sejumlah kasus lain yang diduga berkaitan dengan virus corona.
Peningkatan angka ini terjadi ketika China sedang berupaya untuk mengembalikan martabatnya di mata internasional untuk mengatasi masalah ini, dilansir South China Morning Post (SCMP), Jumat (31/1/2020).
--