Selain itu, lanjut Jacqueline, di era Ari Ashkara, jam kerja para awak kabin di luar batas.
Misalnya, saat bertugas melayani penerbangan Jakarta-Sydney yang dipercepat dari tiga hari menjadi rute pulang-pergi (PP).
Kebijakan tersebut membuat para awak kabin kewalahan, bahkan beberapa diantaranya harus dirawat inap atau opname.
“Contoh schedule Sydney-Jakarta-Sydney, itu harusnya tiga hari, tapi jadi PP (pulang pergi). Itu beri dampak tidak bagus kepada awak kabin, sekarang sudah ada delapan orang yang diopname,” ucap Jacqueline.
Atas dasar itu, dirinya bersama anggota IKAGI lainnya ingin bertemu dengan pihak Kementerian BUMN.
“Kami akan bicara soal kondisi awak kabin yang ada di Garuda Indonesia, kondisi general, dan perusahaan,” lanjutnya.
Awak kabin tak diberi fasilitas penginapan
Baca: 5 Selebriti yang Bangga serta Cemas Bersuami Pilot, dari Iis Dahlia hingga Stevianne Agnecya
Baca: Curhat Pramugari Cantik Khusus Jet Pribadi yang Siap Layani Permintaan Apapun Penumpang Kaya
Dikutip dari Kompas.com, pada masa kepemimpinan Ari Askhara, para pramugari juga tak diberi fasilitas penginapan saat melayani penerbangan ke Australia.
Salah satu pramugari, Hersanti, mengungkapkan, ia baru bertugas di penerbangan Jakarta-Melbourne.
“Delapan belas jam saya harus bekerja buka mata dan lain-lain,” ujar Hersanti.
Hersanti mengatakan, peraturan itu berlaku sejak Agustus 2019.
“Kami manusia, bukan robot, sebaiknya kami dilakukan seperti manusia, harus tidur,” kata Hersanti.
Miliki 'selir' seorang pramugari garuda Indonesia
Beberapa waktu lalu, terdengar kabar bahwa Ari Askhara memiliki 'selir' alias wanita idaman lain yaitu seorang pramugari.
Kabar tersebut dikonfirmasi oleh Ketua Umum IKAGI, Zaenal Muttaqin pada Jumat (06/12/2019) lalu.
"Soal rumor yang beredar di media sosial soal, maaf kami tidak bilang 'selir', bahwa ada salah satu teman kami (pramugari) yang 'dekat' dengan Ari Askhara," ungkap Zaenal Muttaqin.
Zaenal mengatakan di perusahaan tersebut banyak karyawan tahu sama tahu terkait isu itu.
Ia mengaku mendapatkan informasi tersebut dari sesama pegawai di maskapai pelat merah itu.
Dikatakan oleh Zaenal, perempuan itu berinisial P dan bertugas di Bali.
"Setahu saya hanya satu pramugari itu saja," kata Zaenal.