Alasan Kuliner Papua Tak Ada yang Digoreng dan Manfaatnya bagi Tubuh

Penulis: Haris Chaebar
Editor: haerahr
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Warga bersama-sama mengangkat batu untuk mengambil makanan yang dimasak dengan bakar batu di Lapangan Trikora, Distrik Ilaga, Kabupaten Puncak, Papua, Kamis (15/9/2016). Tradisi bakar batu merupakan salah satu tradisi terpenting di Papua yang berfungsi sebagai tanda rasa syukur, menyambut tamu, atau acara perdamaian setelah perang antar suku.

TRIBUNNEWSWIKI.COM - Papua yang terkenal dengan kekayaan ragam budaya dan alamnya ternyata menyimpan harta tersembunyi, salah satunya kuliner.

Menariknya, selain kelezatan kulinernya yang tersohor, cara mengolah dan bahan-bahannya pun juga unik.

Menurut Rika Ramandey, seorang yang berpengalaman di bidang kuliner Papua, hampir tidak ada masakan Papua yang digoreng.

"Karena di Papua sana sulit sekali minyak goreng," ujar Rika di Ragam Budaya Papua di Plaza Sarinah, Jakarta dikutip Tribunnewswiki.com dari Kompas.com Jumat (6/12/2019).

"Jangankan minyak goreng, bumbu seperti bawang dan garam saja kadang susah."

"Makanya orang Papua kalau masak yang prosesnya tetap bisa mempertahankan gizi di dalam makanan," lanjutnya.

Baca: Papeda

Baca: Kopi Arabika Wamena Papua

Baca: Fakta Google Doodle Hari Ini Taman Nasional Lorentz atau Lorentz National Park di Papua

Memasak makanan dengan digoreng memang nikmat, tapi sebenarnya kurang sehat.

Nah, dengan banyaknya kandungan minyak di dalam makanan tersebut, maka bisa mengurangi gizi yang terkandung di dalam sebuah kuliner.

Makanan khas Papua, papeda bungkus dengan ikan kuah kuning, ikan suir, dan sayur melinjo pakis. (Kompas.com)

Rika yang pernah cukup lama tinggal di Papua mengungkapkan, minyak yang sering digunakan adalah minyak kelapa.

Sebagai daerah yang ditanami banyak pohon kelapa, lebih mudah untuk memproduksi minyak kelapa.

"Minyak kelapa itu juga tidak digunakan sebagai cara masak, lebih sering jadi perawatan kulit dan tubuh," kata Rika.

"Makanya orang Papua kalau tidak masak pakai bakar batu yang disayur pakai santan kelapa," jelas Rika yang memiliki darah Papua dari ibunya merupakan asal Sentani.

Baca: Sego Tempong

Baca: Nasi Krawu

Baca: Sambal Matah

Baca: 4 Sate Kere Paling Populer di Solo, Mana yang Jadi Favoritmu?

Rika melanjutkan, prinsip kuliner masyarakat Papua sederhana, namun tetap memerhatikan gizi.

Hal ini karena bahan makanan yang diambil dari alam sekitar masyarakat.

Bahan-bahan yang digunakan hampir semuanya segar, terutama ikan.

Tumis bunga pepaya yang jadi makanan khas Papua. Untuk menghilangkan rasa pahit pakis, bisa dengan direndam air panas atau diremas-remas dengan garam. (Kompas.com)

"Mereka memanfaatkan kekayaan alam di sekitar mereka untuk diolah jadi makanan," ujar Rika.

"Misalnya ini, keladi (talas) ini kan hasil kebun mereka yang bisa mereka ambil dari sekitar," lanjutnya.

Makanan khas Papua memang biasanya memanfaatkan bahan yang ada di sekitar masyarakat, mulai dari hasil kebun seperti keladi, daun melinjo, daun pakis, kelapa, dan bunga pepaya.

Penduduk yang tinggal di hutan biasanya hanya perlu mengambil bahan-bahan segar di hutan sekitar tempat tinggal mereka.

Sementara penduduk yang tinggal di tepi pantai juga banyak memanfaatkan laut dan sungai untuk berburu ikan.

Halaman
1234


Penulis: Haris Chaebar
Editor: haerahr
BERITA TERKAIT

Berita Populer