Kolesterol darah berhubungan dengan penyakit jantung koroner.
Semakin tinggi kolesterol dalam darah, maka semakin meningkat juga risiko orang terkena penyakit jantung.
Tingginya kolesterol ini juga dipengaruhi oleh usia, jenis kelamin, faktor keturunan, dan pola makanan.
Tekanan darah yang tinggi meningkatkan beban kerja jantung dan menyebabkan otot jantung menebal dan menjadi lebih kaku.
Pengerasan otot jantung ini membuat jantung berfungsi tidak normal.
Selain menyebabkan penyakit jantung, tekanan darah tinggi dapat meningkatkan risiko stroke, serangan jantung, gagal ginjal, dan gagal jantung kongestif.
Baca: Mertua Cecep Reza Ungkap Keluhan Pemeran Bombom Ini sebelum Meninggal Dunia, Sebut soal Berat Badan
Baca: Cecep Reza
Saat tekanan darah tinggi dibarengi dengan obesitas, kebiasaan merokok, diabetes, kolesterol darah tinggi, semakin tinggi risiko seseorang terkena serangan jantung atau stroke.
Gaya hidup tidak aktif menjadi salah satu faktor risiko penyakit jantung koroner. Aktivitas fisik yang teratur, membantu mengurangi risiko penyakit kardiovaskular.
Mengendalikan kolesterol darah, diabetes, dan obesitas dapat dibantu dengan aktivitas fisik.
Selain itu, pada beberapa orang dapat membantu menurunkan tekanan darah.
Orang dengan lemak tubuh berlebih-terutama di bagian pinggang- lebih memungkinkan untuk mengembangkan penyakit jantung dan stroke.
Orang dewasa dengan berat badan berlebih dengan faktor risiko penyakit kardiovaskular seperti tekanan darah tinggi, kolesterol tinggi atau gula darah tinggi dapat membuat perubahan gaya hidup untuk menurunkan berat badan.
Banyak orang mengalami kesulitan menurunkan berat badan.
Tapi, bagi mereka yang berada di atas berat badan normal, penurunan berat badan yang berkelanjutan dapat menyebabkan penurunan yang signifikan dalam beberapa faktor risiko.
Diabetes meningkatkan risiko terkena penyakit kardiovaskular. Bahkan, saat kadar glukosa terkendali, diabetes meningkatkan risiko penyakit jantung dan stroke.
Risikonya lebih besar jika gula darah tidak terkontrol dengan baik. Dari 68 persen pengidap diabetes berusia di atas 65 tahun, 16 persen di antaranya meninggal karena stroke.