Saat dihubungi The Times pekan lalu, Rosa menolak membahas isu tersebut, dan meminta supaya didiskusikan kepada Dirjen Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Karliansyah.
Tetapi, yang bersangkutan tidak memberikan respons.
Banyak dari warga Tropodo mengaku tidak berdaya untuk mencegah pembakaran sampah plastik tersebut.
Para pembuat tahu di Tropodo mengungkapkan, mereka berpindah dari plastik ke kayu bakar sejak bertahun-tahun yang lalu.
Nanang Zainuddin misalnya, dia mengaku menggunakan plastik karena murah.
Bahkan dia mengungkapkan harganya sepersepuluh dari kayu bakar.
Baca: Kebakaran Hutan Lawu, Beberapa Titik Sulit Terpantau, 2000 Personel Masih Berupaya Padamkan Api
Baca: Hari Ini dalam Sejarah: 13 November 1985 - Gunung Nevado del Ruiz Meletus dan Tewaskan 23 Ribu Orang
Baca: Mengintip Harga OOTD Nagita Slavina Saat Berlibur ke Puncak Gunung Bromo, Tak Sampai Puluhan Juta
Dia berkata, dioxin bisa datang dari mana saja.
"Jika pemerintah berniat untuk memberikan solusi, tentu akan bagus sekali," terangnya.
Mantan kepala desa Tropodo Ismail yang juga produsen tahu menuturkan, dia sempat melarang penggunaannya pada 2014 silam.
Tetapi larangan itu hanya bertahan selama beberapa bulan sebelum mereka beralih ke plastik.
Adapun dia menggunakan campuran plastik serta kayu bakar.
"Para pembuat tahu di sini hanya mencari untung, untung, dan untung. Mereka tidak memperhitungkan akibat dari perbuatan mereka," paparnya.