Kebanyakan sampah itu kemudian dikirim ke luar negeri, termasuk ke Indonesia, di mana dikombinasikan dengan sampah lokal untuk diolah.
Namun, ada sampah yang tidak bisa didaur ulang, dan berakhir menjadi bahan bakar di pabrik tahu di Tropodo, desa di timur Pulau Jawa.
"Benda ini dikumpulkan dari AS dan negara lain, dan kemudian dijadikan sumber pengapian pabrik," kata Yuyun Ismawati dari Nexus3 Foundation.
Yuyun mengatakan, pengolah limbah tak bertanggung jawab memilih membuangnya di negara berkembang dengan memalsukan dokumennya.
Dalam dokumen, oknum itu menuliskan hanya ada 50 persen limbah plastik di dalamnya.
Adapun perusahaan lokal mengeruk untung dengan menerimanya.
Kebanyakan dari plastik yang dikirim itu adalah berkualitas rendah, tidak diinginkan, dan Indonesia tidak bisa mendaur ulangnya.
Setelah memilah beberapa bahan untuk didaur ulang, barulah sisanya kemudian dibawa ke Bangun, desa di mana pemulungnya bakal mencari apa yang masih berharga.
Baca: Sudah 4 Hari Dirilis, Video Musik Pilu Membiru Experience Kunto Aji Masih Jadi Trending di Youtube
Baca: Jerman, Belanda, dan Kroasia Pastikan Lolos ke Piala Eropa 2020 di Hari Ketiga Matchday ke-9
Baca: Unik dan Kreatif, Sepeda Motor Ini Bentuknya seperti Kura-kura, Pakai Fender VW Beetle
Di Bangun, tumpukan sampah, dengan ada yang setinggi empat meter, memenuhi area itu.
Sekitar 2.400 orang tinggal di sana, dengan setiap keluarga terlibat dalam bisnis pengolahan tersebut.
Tujuan akhir dari sampah itu adalah Tropodo.
Setiap hari, sebuah truk mengangkut kertas dan plastik, dan menurunkan muatannya di pabrik tahu.
Menurut sopir truk yang bernama Fadil, dia sudah mengantarkan muatan plastik dan kertas ke industri tahu selama 20 tahun terakhir.
"Orang-orang butuh mengisi bahan bakar bagi industri tahu mereka," tutur pria berusia 38 tahun tersebut.
Aktivis lingkungan menyebut Presiden Joko Widodo (Jokowi) tidak memerhatikan masalah kesehatan dalam rangka mengembangkan ekonomi.
Kalangan pemerhati pun meminta Presiden Jokowi menangani kontaminasi racun, termasuk polusi udara serta kontaminasi merkuri.
Juli lalu, Dirjen Pengelolaan Sampah, Limbah, dan B3 Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LKHK) Rosa Vivien Ratnawati berkunjung ke Tropodo.
Di sana, dia mengakui bahwa plastik yang dibakar dapat menimbulkan racun.
Dia kemudian menyatakan bakal mencari tahu bagaimana asap dari pembakaran plastik bisa dikendalikan.
"Jika plastik yang digunakan sebagai bahan bakar tidak dipermasalahkan, seharusnya ada penanganan bagaimana polusinya," tuturnya.