Keputusan yang dibuat oleh MUI Jawa Timur mendapatkan dukungan dari MUI Pusat di Jakarta, namun masih akan dibahas kembali bersama-sama.
Surat keputusan anjuran salam semua agama ini juga mendapat tanggapan dari Wakil Sekjen Pengurus Besar Nahdhatul Ulama (PBNU) Masduki Baidlowi.
Pihaknya mendukung kebijakan MUI Jawa Timur dan memberikan penjelasan mengenai makna dari imbauan tersebut.
Baca: Majelis Ulama Indonesia (MUI)
Baca: Disertasi UIN Boleh Hubungan Seks Luar Nikah, MUI:Ini Musibah, Disangka Ilmiah Padahal Tempat Sampah
PBNU memberikan penjelasan seperti berikut:
Penjelasan ‘assalamualaikum’ mengandung tiga kata kunci.
Pertama yakni salam keselamatan, kedua yakni rahmat atas karunia Tuhan kepada manusia, dan ketiga yakni keberkahan.
“Tiga kunci tersebut merupakan ajaran Rasuk kepada umat manusia,” ungkapnya.
Pihak PBNU menyatakan fatwa ini tidak akan menjadi persoalan yang akan memecah belah bangsa Indonesia.
Indonesia merupakan negara majemuk, toleransi dan empati menjadi pilar utama kebangsaan.
Salah satu wujud toleransi adalah mengucapkan salam kepada orang berbeda agama.
Salam lintas agama mulai Nampak di era pemerintahan Presiden Joko Widodo, saat membuka acara kenegaraan.
Jokowi mengawali dengan mengucap salam ‘Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, salam sejahtera bagi kita semua, Shalom, Om Swastiastu, Namo Buddhaya, Salam Kebajikan.’
Masing-masing salam memiliki makna berbeda, yakni:
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh merupakan ucapan salam dalam agama Islam yang berarti semoga Allah SWT melimpahkan rahmat, keselamatan, dan keberkahan untuk kalian.
Sementara itu ‘Salam sejahtera bagi kita semua’ merupakan ucapan salam umat Kristiani, ‘Shalom’ ucapan salam umat Katolik, ‘Om Swastiastu’ ucapan salam masyarakat Hindu Bali, ‘Namo Budhhaya’ ucapan salam dari Budha, dan ‘Salam kebajikan’ ucapan salam dari masyarakat Konghucu(*).