"Anak korban S (Surono) yang bernama Bhr (Bahar) yang membunuh S. Dia memukul memakai linggis saat korban tidur, sedangkan saudari B (Busani) membantu dengan mematikan lampu depan rumah," jelas Alfian.
Polisi dan Warga Sempat Curiga
Kasus kematian Surono membuat gempar warga Dusun Juroju, Desa Sumbersalak, Kecamatan Ledokombo, Jember.
Dijelaskan Tribunnews.com, warga sempat curiga atas perilaku Mario Bahar dan Busani setelah Surono meninggal.
"Nah ini, katanya suaminya meninggal, tapi kok enggak sedih. Terus malah pacaran sama lelaki yang kemudian menjadi suami sirinya (J). Bahkan keduanya juga kumpul sejak Mei lalu sampai Oktober kemarin," ujar Alfian.
Baca: Sempat Hadiri Pemakaman, Pelaku Pembunuhan di Tegal Tak Tunjukkan Rasa Bersalah
Baca: 5 Fakta Mencengangkan Pembunuhan & Pemerkosaan Gadis Baduy Usia 13 Tahun
Lebih lanjut, Kepala Dusun setempat, Edi, menjelaskan saat itu Bahar menemui dirinya, menjelaskan ayahnya telah dibunuh oleh orang berinisial J.
Namun, ketika itu Edi memilih melapor ke aparat kepolisian setelah mendengar penjelasan sang anak, yang sekarang diketahui sebagai pelaku.
Setelah ayahnya tewas, Bahar mengambil uang ayahnya sejumlah 6 juta rupiah dan membawa sepeda motor Honda CBR.
Honda CBR tersebut dijual Bahar dan mendapatkan uang sebesar Rp 19 juta sebagai bayarannya.
Pada bulan yang sama, Mei 2019, Busani memutuskan menikah siri dengan pacarnya, JM .
Alfian menuturkan JM tidak mengetahui jika istri sah Busani, Surono telah meninggal dan dikubur di rumah itu.
Seusai menikah, Busani dan JM kemudian tinggal di rumah tersebut.
Namun, 15 hari sebelum kasus ini terbongkar, Busani dan JM sudah berpisah, tidak memiliki hubungan lagi.
"Selama menikah siri dengan JM, Busani menikmati hasil penjualan kopi milik Surono," jelas Alfian.
Pada Agustus 2019, Busani bahkan sempat mendapatkan hasil penjualan kopi mencapai sekitar Rp 100 juta.