Aparat kepolisian Jember akhirnya dapat mengungkap kasus kematian Surono (51) yang merupakan petani kopi.
Surono merupakan warga Dusun Juroju, Desa Sumbersalak, Kecamatan Ledokombo, Kabupaten Jember, Jawa Timur.
Seperti perkiraan polisi sebelumnya, pelaku tak lain ialah sang anak, Bahar.
Polisi menangkap anak kandung korban, Mario Bahar (25), dan istri korban, Busani (47).
Dikutip dari Kompas.com, Jumat (8/11/2019), Bahar membunuh sang ayah dengan sepengetahuan ibunya, Busani (45), istri Surono.
Polisi juga berhasil mengetahui motif pelaku, ialah karena ekonomi dan dendam yang dilatarbelakangi asmara.
"Motif pembunuhan itu karena ekonomi, juga ada dendam yang dilatarbelakangi asmara," ujar Kapolres Jember, AKBP Alfian Nurrizal saat merilis pengungkapan peristiwa itu di Mapolres Jember, Kamis (7/11/2019).
Alfian menjelaskan, Surono merupakan petani kopi.
Baca: Sinopsis Sniper: Legacy, Aksi Pembongkaran Pembunuhan Tayang di Bioskop Trans TV Jam 21.00 WIB
Baca: G30S 1965 - Kisah Pembunuhan terhadap Tokoh PKI & Benih Rekonsiliasi di Palu, Sulawesi Tengah
Ia bisa mendapatkan hasil penjualan antara Rp 90 hingga Rp 100 juta dari hasil panen kopi setahun sekali.
Penghasilan tersebut belum ditambah pendapatan dari komoditas pertanian lain yang ditanamnya.
Bahar merasa penghasilan ayahnya banyak, tetapi dia hanya mendapatkan bagian sedikit, begitu juga dengan istri Surono.
Istrinya menduga, uang milik Surono diberikan kepada seorang perempuan yang menjalin hubungan dengan Surono.
Busani kemudian menceritakan apa yang dirasakannya kepada Bahar.
Seusai mendengar cerita dan keluhan ibunya, Bahar memutuskan membunuh ayah kandungnya.
Sebelum beraksi, Bahar menceritakan terlebih dahulu keinginannya pada sang ibu.
Mendengar keinginan sang anak, Busani tidak melarang hingga akhirnya Surono ditemukan tewas di bawah mushala rumahnya.
Baca: Terungkap Detail Transkrip Rekaman Mengerikan Pembunuhan Jurnalis Arab Saudi, Jamal Khashoggi
Baca: Penemuan 4 Kerangka Manusia di Banyumas, Polisi Ungkap Modus dan Tersangka Pembunuhan
Menurut penyelidikan polisi, Busani diduga turut membantu aksi anaknya dengan mematikan lampu depan rumah.
Busani mematikan lampu ketika mengetahui Bahar sedang menghabisi Surono dengan linggis dalam keadaan tertidur.
"Anak korban S (Surono) yang bernama Bhr (Bahar) yang membunuh S. Dia memukul memakai linggis saat korban tidur, sedangkan saudari B (Busani) membantu dengan mematikan lampu depan rumah," jelas Alfian.
Kasus kematian Surono membuat gempar warga Dusun Juroju, Desa Sumbersalak, Kecamatan Ledokombo, Jember.
Dijelaskan Tribunnews.com, warga sempat curiga atas perilaku Mario Bahar dan Busani setelah Surono meninggal.
"Nah ini, katanya suaminya meninggal, tapi kok enggak sedih. Terus malah pacaran sama lelaki yang kemudian menjadi suami sirinya (J). Bahkan keduanya juga kumpul sejak Mei lalu sampai Oktober kemarin," ujar Alfian.
Baca: Sempat Hadiri Pemakaman, Pelaku Pembunuhan di Tegal Tak Tunjukkan Rasa Bersalah
Baca: 5 Fakta Mencengangkan Pembunuhan & Pemerkosaan Gadis Baduy Usia 13 Tahun
Lebih lanjut, Kepala Dusun setempat, Edi, menjelaskan saat itu Bahar menemui dirinya, menjelaskan ayahnya telah dibunuh oleh orang berinisial J.
Namun, ketika itu Edi memilih melapor ke aparat kepolisian setelah mendengar penjelasan sang anak, yang sekarang diketahui sebagai pelaku.
Setelah ayahnya tewas, Bahar mengambil uang ayahnya sejumlah 6 juta rupiah dan membawa sepeda motor Honda CBR.
Honda CBR tersebut dijual Bahar dan mendapatkan uang sebesar Rp 19 juta sebagai bayarannya.
Pada bulan yang sama, Mei 2019, Busani memutuskan menikah siri dengan pacarnya, JM .
Alfian menuturkan JM tidak mengetahui jika istri sah Busani, Surono telah meninggal dan dikubur di rumah itu.
Seusai menikah, Busani dan JM kemudian tinggal di rumah tersebut.
Namun, 15 hari sebelum kasus ini terbongkar, Busani dan JM sudah berpisah, tidak memiliki hubungan lagi.
"Selama menikah siri dengan JM, Busani menikmati hasil penjualan kopi milik Surono," jelas Alfian.
Pada Agustus 2019, Busani bahkan sempat mendapatkan hasil penjualan kopi mencapai sekitar Rp 100 juta.