Kepergian Mugabe dikonfirmasi oleh penggantinya, Presiden Emmerson Mnangagwa, Jumat (6/9/2019).
“Dengan sangat sedih, saya mengumumkan kematian bapak pendiri Zimbabwe sekaligus mantan presiden Robert Mugabe,” tulis Mnangagwa, dalam twitnya.
Dikutip dari Kompas.com, Mugabe yang merupakan salah seorang pejuang kemerdekaan Zimbabwe meninggal karena sakit yang sudah dideritanya sejak lama.
Mugabe juga telah menjalani perawatan di rumah sakit di Singapura sejak April lalu.
“Mugabe adalah ikon pembebasan, seorang pan-Afrika yang mendedikasikan hidupnya untuk kemerdekaan dan pemberdayaan rakyatnya. Kontribusinya bagi sejarah bangsa dan benua kita tidak akan pernah dapat dilupakan. Semoga jiwanya beristirahat dalam kedamaian abadi,” lanjut Mnangagwa.
Sebagai seorang pejuang kemerdekaan Zimbabwe, perjalanan karier Mugabe menarik untuk dibahas.
Dikutip TribunnewsWIKI dari Kompas.com, berikut perjalanan karier Robert Mugabe secara singkat.
Baca: Wawancara dengan Aktivis Kemerdekaan Papua, Wartawan ABC News Australia Mengaku Dibuntuti
Mugabe lahir pada 21 Februari 1924 di Kutama, di negara yang dulu bernama Rhodesia Selatan, dan merupakan anak seorang tukang kayu dari suku mayoritas Shona.
Mendapat pendidikan di sekolah misionaris Katolik, Mugabe pun memulai karir sebagai guru.
Setelah itu, dia mendapat beasiswa Universitas Fort Hare di Afrika Selatan.
Mugabe menempuh satu dari tujuh gelar akademiknya di kampus itu sebelum bekerja di Ghana, di mana kehidupan politiknya banyak dipengaruhi pemimpin pasca-kemerdekaan Ghana, Kwame Nkrumah.
Bahkan, dia memperistri seorang perempuan Ghana bernama Sally Hayfron.
Baca: Deretan Fakta Unik Tentang Suku Baduy, Bisa Panen Madu dan Durian Sesuka Hati
Pada 1960, Mugabe pulang dengan maksud mengenalkan Sarah kepada ibunya.
Namun alangkah terkejutnya ketika melihat perubahan drastis di Rhodesia Selatan.
Puluhan ribu keluarga kulit hitam terdesak oleh pemerintah kolonial dengan jumlah kulit putih yang semakin membludak.
Awalnya, dia bekerja dengan nasionalis Afrika bersama Joshua Nkomo.
Tak lama setelah itu, Mugabe memutuskan untuk berpisah dan mendirikan kendaraan politiknya sendiri.