Informasi awal #
TRIBUNNEWSWIKI.COM - Dalam budaya Minahasa kuno, terdapat kepercayaan bahwa kematian hanya mengubah alam dunia.
Pemikiran itu berdasarkan hasil penelitian Hendricus Benedictus Palar, sejarawan Minahasa.
"Hanya badan yang mati, sementara arwah hidup terus dan berpindah ke alam lain," katanya.
Ia menuangkan penelitian itu dalam buku Budaya Minahasa Dalam Catatan Sejarah, sebuah buku keempat khusus tentang sejarah Minahasa.
Palar menekuni kebiasaan warga Minahasa umumnya yang sering menggelar tradisi pasca- kematian anggota kerabatnya, yakni tradisi tiga malam, dumingguan atau kumawus (hari Minggu sesudah kematian), atau empat puluh hari.
Pada tahun 1600-an hadir para pastor tarekat OFM dari Spanyol di tanah Minahasa.
Mereka melanjutkan iman Katolik yang dibawa dari tahun 1500-an.
Mereka mengajarkan Credo (Aku Percaya), yakni pengakuan iman yang sudah dirumuskan Gereja sejak awal-awal kekristenan.
Para imam itu juga mengajarkan ajaran Gereja soal arwah orang beriman.
Kata Palar, para imam Spanyol itu awalnya menemukan bahwa kepercayaan masyarakat Minahasa awalnya politeisme (banyak Tuhan), meskipun saat itu sudah ada pemahaman transendental atau sesuatu yang mahakuasa.
Sebelum kekristenan, arwah nenek moyang sudah didewakan sebagai opo-opo yang menguasai, misalnya mata air atau gunung.
Mereka juga berbicara melalui burung-burung.
Setelah kehadiran para imam Kristen itu, kepercayaan mereka mulai pelan-pelan menjadi monoteisme (satu Tuhan).
Dalam perkembangan selanjutnya, kepercayaan kuno mereka bahkan ditolak dan disebut kepercayaan yang sia-sia.
Pada tahun 1600-an para imam Katolik yang datang berikutnya harus mengalami situasi perang Minahasa.
Mereka terusir dan tak ada lagi pengajaran iman bagi keturunan umat pertama.
Penghayatan iman mereka juga menjadi bias dan pelan-pelan mereka kembali menganut kepercayaan kuno yang dalam istilah kebanyakan orang Minahasa "alifuru", khususnya di daerah seperti Tombulu.
Karena bias, masyarakat membangun tradisi mirip penghayatan Credo.
Dalam Credo yang sebenarnya, kata Palar, dikatakan "(Yesus) yang turun ke tempat penantian, pada hari ketiga bangkit dari antara orang mati, yang naik ke surga, duduk di sebelah kanan Allah Bapa Yang Mahakuasa".
"Dalam tiga malam arwah diyakini hanya tertidur," ujarnya.
Masyarakat yang menjadi alifuru kembali tanpa sadar memakai Credo itu dengan penghayatan yang salah.
Dalam kepercayaan itu warga Minahasa meyakini bahwa pada hari ketiga arwah terbangun dan keluar dari kubur.
Saat itu warga membersihkan kubur dan menggelar doa tiga malam.
Kata Palar, warga menempatkan pondok kecil dan juga cangkul di atas kubur di halaman sekitarnya.
Dalam bahasa daerah, warga mengucapkan kata-kata yang ditujukan kepada sang arwah, yang bunyinya:
"Inilah tempatmu, tapi ingatlah alam kita sudah beda".
Dalam pemikiran mereka, para arwah menganggap malam hari sebagai siang, dan siang berarti malam.
Kehadiran arwah juga diyakini atas tanda suara aneh binatang.
Acapkali suara itu menimbukan ketakutan tidak wajar.
Menurut kepercayaan warga saat itu, mereka yang telah meninggal akan gentayangan sampai 40 hari.
Hari ke-40 itu disebut sebagai batas berduka (kumawus) dan warga percaya saat itu arwah sudah mendapatkan tempat, entah di mana.
Batas duka itu, oleh warga disebut dalam bahasa daerah "muntep pe ngasi" atau "rumeta pe ngasi".
Saat itu keluarga mulai melepas kain putih yang melingkar di kepala.
Belakangan, kebiasaan itu diubah kembali oleh pastor Katolik maupun pendeta Protestan.
Mereka memperpendek waktu kumawus dari 40 hari menjadi Minggu pertama sesudah kematian.
Alasannya adalah untuk menghindari pemborosan. (TribunManado/David Manewus)