TRIBUNNEWSWIKI.COM - Rumah sederhana di Jalan Purus V, Padang, Sumatera Barat, tampak sepi, meski hari itu adalah ulang tahun ke-19 Wendra Gustiadi, anak pemilik rumah.
Bangunan berukuran 3 x 6 meter ini hanya memiliki dua ruangan yang dipisahkan oleh triplek.
Wendra keluar dari ruangan belakang, berjalan dengan kedua tangan dan kaki serta leher tegak, tanpa mengenakan pakaian.
Sambil mengucapkan kata-kata tak jelas, ia berjalan menuju luar untuk buang air kecil.
Setelah selesai, Wendra disuguhi mie kuning, makanan yang biasa disajikan saat perayaan ulang tahun.
"Ini sudah lama terjadi. Anak saya seperti ini sejak kecil," ujar Noviandri, ayah Wendra, saat diwawancarai di rumahnya pada Selasa, 13 Agustus 2024, dikutip dari Kompas.com.
Noviandri, 45 tahun, menceritakan bahwa awalnya Wendra lahir dengan kondisi normal tanpa gejala aneh.
Namun, saat berusia 3,5 tahun, Wendra tiba-tiba mengalami demam tinggi dan kejang-kejang, sehingga harus dilarikan ke RS Yos Sudarso.
Kondisinya kritis sehingga ia dirujuk ke RSUP M Djamil Padang.
"Saat itu kami benar-benar tidak punya biaya. Kami hanya pedagang kecil di Tepi Laut Padang," kenang Noviandri.
Beruntung, ada bantuan untuk pengurusan BPJS, sehingga biaya pengobatan bisa teratasi.
Namun, meski mendapat perawatan di rumah sakit, keluarga tidak pernah mendapat penjelasan pasti mengenai penyakit Wendra.
Setelah satu bulan, Wendra dipulangkan ke rumah, dan kondisinya semakin memburuk hingga hanya bisa terbaring selama hampir satu tahun.
Mendapatkan Pengobatan
Secercah harapan muncul ketika seseorang mengarahkan mereka ke seorang tabib di Solok Selatan.
Setelah pengobatan dengan metode urut, Wendra bisa merangkak kembali.
"Kami sangat gembira waktu itu," kata Noviandri.
Namun, harapan itu pupus ketika tabib tersebut meninggal dunia.
Kini, Wendra hanya bisa berjalan dengan kedua tangan dan kaki, serta kepala yang selalu tegak.
Ia juga tidak bisa berbicara dan selalu menanggalkan pakaiannya.