Dokter mengupas pola hidupnya yang berimbas pada ginjal di masa lalu.
Selama ini, ia seolah lupa waktu selagi badan sehat.
Ia tenggelam dalam kesukaannya pada mesin, berteman dengan 12-15 saset kopi dalam satu hari dan dua bungkus rokok.
Ia bahkan bisa lupa makan dan hampir tidak minum air putih.
“Dulu bisa bekerja hingga pukul 02.00 WIB pagi. Tidak tahu kenapa. Dulu senang sekali hanya tenggelam di mesin, kopi dan rokok,” katanya.
Mulailah muncul gejala sakit pinggang setiap dua minggu.
Sakit itu bisa reda dengan obat.
Kerja tetap tidak henti dan tidak lupa minum kopi, sedikit air putih.
Suatu waktu, obat tidak lagi meredam.
Tubuh menunjukkan pembengkakan di banyak bagian.
"Ingatlah, sayangi ginjal kalian," katanya.
Kini, Toro masih tetap membengkel.
Ia melakoni pekerjaan itu tetap dengan gembira.
Semua demi menghidupi istri yang sesekali jualan jajanan pasar, anak pertama yang putus sekolah namun hobi IT, satu anak SMA, satu SMP dan dua SD, serta satu cucu laki-laki yang baru dua tahun.
Saat ini, ia cepat-cepat menutup bengkel pukul 16.00 WIB.
Kopi hanya tiga kali sehari, rokok berkurang sangat banyak.
"Jam empat selesai. Waktunya bermain dengan anak-anak," kata Toro.
Perjuangan Toro menghasilkan Rp 100.000 - 150.000 setiap hari.
Sesekali menembus Rp 500.000 sehari bila penuh pelanggan.
“Kalau servis ringan bisa 12 motor sehari, tapi kalau turun mesin tiga kendaraan. Kalau dulu saya siap layani sampai pagi,” katanya.