Cinta Junaedi kepada korban diduga tak direstui keluarga, sehingga ia tega menghabisi semua anggota keluarga wanita yang dicintainya.
Baca: Bukan karena Asmara, Ternyata Ini Motif Junaedi Habisi Nyawa 1 Keluarga di Babulu, Eks Pacar Kesal
Namun belakangan bahwa motifnya bukan karena asmara, melainkan pencurian.
Ia sempat mabuk-mabukan sebelum membunuh lima orang anggota keluarga tersebut.
Dalam kondisi mabuk, pria berinisial JND ini pulang ke rumah untuk mengambil parang.
Kelima korban tewas bersimbah darah usai ditebas parang oleh JND.
Setelah membunuh satu keluarga, JND juga mengambil tiga unit handphone dan uang Rp 363 ribu.
Tanggapan piskolog
Ayunda Ramadhani, salah satu Psikolog Klinis di Samarinda memberikan tanggapan terkait dengan kasus pembunuhan satu keluarga ini.
Ayunda mengatakan seseorang melakukan kejahatan tentu memiliki motif.
Dia menyatakan, tindakan agresif Junaedi tentu membuat banyak orang keheranan.
Baca: Akting Junaedi saat Cerita Bunuh & Perkosa Ibu-Anak di Babulu Laut, Muka Memelas dan Mendadak Sakit
Mengingat, pelakunya masih di bawah umur namun bisa melakukan tindakan sekeji itu.
Tetapi mengingat pelaku kali ini masih berusia di bawah 18 tahun maka perlu masyarakat ketahui bahwa anak remaja belum bisa menimbang konsekuensi atas perbuatan yang dilakukannya.
"Karena proses berfikirnya masih belum berkembang sempurna. Bagian otaknya yang disebut PFC atau Pre frontal cortex belum sempurna," katanya kepada TribunKaltim.co pada Kamis, 8 Februari 2024.
Namun lanjutnya, ada juga faktor lain yang membuat remaja tersebut begitu nekat.
Seperti faktor internal dari sisi kepribadian atau ada dorongan agresi yang sudah lama dipendam.
Tentu saja Junaedi kesulitan mengendalikan diri ketika merasakan emosi negatif sehingga perilakunya cenderung merusak dan menyakiti.
Ia menjelaskan, karakter itu bisa muncul ketika anak tumbuh dalam lingkungan yang penuh kekerasan
Baca: SOSOK Junaedi, Siswa SMK Bunuh 1 Keluarga di Kaltim, Sempat Setubuhi Jasad Korban dan Buat Alibi
"Pelajari latar belakang keluarganya. Bisa jadi anak ini pernah menjadi korban kekerasan dari orangtuanya atau lingkungannya, sehingga dia melewati proses belajar yang salah," jelas dosen Psikologi di Universitas Mulawarman Samarinda ini.
Ia juga menjelaskan, usai ditetapkan menjadi tersangka dan terus mendapat tekanan dari lingkungan sosial, Junaedi berpotensi menyimpan dendam yang membuatnya bisa mengulangi hal yang sama.
Oleh sebab itu, untuk menghindari hal tersebut, Ayunda menekankan pentingnya pendampingan psikolog terhadap Junaedi.